TechnologyIndonesia.id – Investasi teknologi informasi (TI) oleh perusahaan publik kerap dipersepsikan sebagai sinyal positif bagi pasar saham. Pengumuman adopsi enterprise resource planning (ERP), penguatan infrastruktur digital, hingga pengembangan layanan berbasis teknologi sering diasumsikan mampu mendorong kenaikan harga saham dalam waktu singkat.
Namun, temuan terbaru peneliti Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) menunjukkan realitas yang berbeda. Pasar saham Indonesia ternyata cenderung lambat merespons pengumuman investasi teknologi.
Dosen Departemen Akuntansi FEB UGM, Singgih Wijayana mengatakan bahwa selama dua dekade terakhir, perusahaan di seluruh dunia berlomba-lomba berinvestasi dalam teknologi informasi, mulai dari sistem ERP, e-commerce, hingga layanan digital banking.
Investasi terhadap teknologi informasi dipercaya dapat meningkatkan efisiensi dan nilai perusahaan. Namun, konteks pasar modal Indonesia memiliki karakteristik berbeda.
“Pasar modal di Indonesia dikenal sebagai thin market, di mana aktivitas perdagangannya tidak sepadat negara maju sehingga informasi tidak selalu diserap cepat oleh investor,” jelas Singgih.
Pernyataan tersebut disampaikan Singgih dalam program Research Series yang tayang di kanal YouTube @fakultasekonomikadanbisnisugm belum lama ini. Ia memaparkan hasil riset yang dilakukan bersama dengan Prof. Didi Achjari yang berjudul “Market Reaction to the Announcement of an Information Technology Investment: Evidence from Indonesia”.
Menguji Respons Pasar Saham Indonesia
Melalui penelitian tersebut, mereka berupaya menguji respon pasar saham Indonesia dalam penerimaan informasi investasi teknologi. Apakah pasar saham Indonesia dapat merespon secara cepat atau justru memerlukan waktu lebih panjang.
Sebelumnya di Indonesia telah dilakukan penelitian serupa, tetapi belum menemukan reaksi pasar yang signifikan terhadap pengumuman investasi IT. Keterbatasan periode pengamatan dan jendela reaksi yang sempit menjadi celah yang kemudian diisi oleh riset ini.
Melalui riset yang dilakukan oleh kedua peneliti FEB UGM ini berupaya melihat reaksi pasar dalam jangka panjang dan menggunakan metode yang lebih sesuai untuk kondisi thin market, termasuk penyesuaian risiko melalui adjusted beta Scholes–Williams dan Dimson.
Penelitian dilakukan dengan menganalisis 179 pengumuman investasi IT yang dilakukan di perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia selama 2001-2016. Pergerakan harga saham diamati baik di sekitar tanggal pengumuman maupun hingga 60 hari setelahnya guna melihat pola respons investor terhadap informasi tersebut.
“Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada reaksi pasar yang signifikan di sekitar tanggal pengumuman investasi teknologi. Artinya, investor di Indonesia tidak langsung menanggapi kabar tersebut,” jelasnya.
Investor Cenderung Menunggu Dampak Nyata
Alih-alih bereaksi spontan, investor di Indonesia cenderung bersikap wait and see. Mereka menunggu perkembangan dalam beberapa bulan setelah pengumuman untuk memahami sejauh mana investasi teknologi benar-benar berdampak pada kinerja perusahaan. Sebab, investasi teknologi tidak selalu langsung berdampak positif pada kinerja keuangan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa reaksi pasar cenderung lebih kuat pada perusahaan perbankan, perusahaan berukuran kecil, dan perusahaan yang baru pertama kali mengadopsi teknologi seperti ERP.
Hal ini menunjukkan bahwa jenis industri, skala bisnis, dan pengalaman dalam berteknologi memainkan peran penting dalam menentukan bagaimana pasar menilai pengumuman investasi IT.
“Temuan ini memberikan wawasan bahwa pengumuman investasi teknologi tidak serta-merta meningkatkan nilai saham. Manajemen perlu mengkomunikasikan manfaat bisnis jangka panjang dari investasi teknologi secara jelas dan transparan agar pasar dapat menangkap nilai tambahnya,” paparnya.
Singgih menyampaikan bahwa temuan ini menjadi pengingat bahwa tidak semua investasi teknologi memberikan dampak instan. Pasar membutuhkan waktu untuk menilai apakah investasi tersebut benar-benar meningkatkan efisiensi dan profitabilitas perusahaan.
Tidak hanya itu, dari penelitian ini memperlihatkan bahwa pasar modal Indonesia masih dalam proses menuju pasar yang efisien dan perilaku investor masih dipengaruhi faktor psikologis serta keterbatasan dalam pengambilan keputusan rasional. (Ilustrasi: Gemini AI)
Riset FEB UGM: Pengumuman Investasi Teknologi Tak Langsung Dongkrak Harga Saham
