TechnologyIndonesia.id – Frekuensi kejadian longsor di Indonesia pada 2024 terbilang sangat tinggi. Hingga April 2024 sudah ada 183 kejadian longsor. Sumber data dan informasi bencana Indonesia BNPB menunjukkan, longsor memiliki frekuensi paling tinggi dibandingkan bencana alam lainnya, seperti banjir, abrasi, angin puting beliung, gempa bumi, dan seterusnya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dalam 10 tahun terakhir (2015-2024), kejadian tanah longsor mencapai 7024 kejadian. Hal ini menunjukkan bahwa longsor merupakan bencana alam yang sangat penting untuk dikaji, agar dampaknya bisa dikurangi di kemudian hari.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Sukristiyanti menjelaskan bahwa longsor adalah pergerakan massa batuan, bahan rombakan (debris), atau tanah menuruni lereng karena gaya gravitasi.
“Longsor pada umumnya merupakan proses terisolasi, yang secara individu tidak terlalu besar ukurannya, namun sering terjadi di suatu wilayah,” paparnya pada webinar Diseminasi dan pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah bertema Pemanfaatan Data Citra Satelit untuk Manajemen Kebencanaan di Daerah pada Rabu (24/03/2024).
Dia menambahkan, untuk kerentanan longsor kemungkinan terjadinya di suatu lokasi yang ditentukan oleh faktor geologi, topografi, hidrologi, antropogenik. Dipicu pula oleh faktor-faktor lainnya seperti gempa, dan curah hujan. Sedangkan zonasi tingkat kerentanan longsor meliputi sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi.
“Untuk bencana longsor ini, kita dapat memanfaatkan data citra satelit dengan menggunakan Google Engine (GE) dan Google Earth Engine (GEE). GE merupakan platform yang tidak berbayar, resolusi spasialnya tinggi dan timeseries. Untuk GEE selain platform-nya tidak berbayar juga, dia menggunakan teknologi cloud computing dan machine learning. Memilki banyak sumber data, timeseries, dan bisa melakukan pemodelan kerentanan longsor berbasis machine learning,” jelasnya.
Perkembangan teknologi penginderaan jauh menurut M. Rokhis Khomarudin Plt. Kepala Pusat Riset Geoinformatika (PRG) BRIN sudah sedemikian pesatnya. Sekarang sudah banyak bertebaran satelit data penginderaan jauh yang memotret permukaan bumi, dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat.
“Sekarang banyak data satelit yang spasial resolusinya sangat tinggi, seperti rumah sudah bisa kelihatan, bisa mendeteksi beberapa obyek penting yang dulunya hanya digunakan dengan foto udara. Melalui citra satelit kita sudah bisa mendeteksi daerah dengan resolusi spasial yang tinggi,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan, ketersediaan data sekarang juga sangat besar, dan ada beberapa provider yang menyediakan data gratis di google. Misalnya USGS Earth Explorer, landviewer, Copernicus data hub, Sentinel hub, dan lain-lain.
“Sekitar 1990-an data itu berbayar, sekarang sudah gratis dengan cakupan seluruh dunia dan bisa didownload. Memiliki historikal yang baik, dari 1980 data tersebut sudah ada. Sampai sekarang masih tersedia di web tersebut, terutama di USGS Earth Explorer dan Landviewer. Ada juga beberapa platform yang sudah mengembangkan seperti Google Earth Engine, SEPAL dan GEP, dan bisa kita gunakan untuk pengolahan data secara bebas serta gratis,” ujarnya.
Lebih jauh lagi Rokhis membeberkan peran data penginderaan jauh pada kebencanaan yang bisa mendeteksi sebelum kejadian dengan melakukan sistem peringatan dini. Mendeteksi perubahan penutup lahan, melakukan pemetaan bahaya, dan kerentanan dari suatu wilayah terhadap bencana.
“Pada saat terjadi bencana kita bisa monitor di mana lokasi-lokasi terjadinya bencana. Kemudian dampaknya seperti apa, salah satu contoh adalah terkait dengan kebakaran lahan dan hutan. Setelah terjadinya bencana kita bisa melihat dampak dari bencana tersebut, di mana lokasi-lokasi yang rusak, dan sebagainya,” rincinya.
Untuk bencana geologi agak susah membuat sistem peringatan dini. Sedangkan untuk hidrometeorologi, salah satu sarannya dengan melakukan peringatan dini bencana secara berkala.
“Jadi bisa kita lihat dulu bagaimana musimannya, misalnya tahun ini La Nina potensinya banjir, untuk El Nino akan ada potensi kekeringan dan kebakaran, dan lain-lain. Jadi musimannya kita sudah mendeteksi, sudah aware, dan sudah diprediksikan oleh BMKG,” ucapnya.
Bencana musiman bisa juga dilakukan 6 bulan sebelumnya, atau setahun sebelumnya yang sudah diprediksi oleh BMKG. Berlanjut periode bulanannya seperti apa, di atas normal atau di bawah normal, bahkan bisa dilihat juga secara mingguan. Apakah minggu ini curah hujannya berturut-turut banyak, artinya warning terhadap banjir.
Apabila setelah seminggu tidak ada hujan berarti warning terhadap kekeringan serta kebakaran lahan dan hutan. “Selain itu juga bisa dilakukan peringatan dini secara harian. Bahkan untuk wilayah banjir beberapa wilayah sudah dipasang telemetri dan sistem pemantauan dari hulu ke hilir,” terangnya.
Sementara itu Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah (RID) BRIN, Yopi menyampaikan, webinar kali ini fokus pada materi pemanfaatan data citra satelit untuk menajemen kebencanaan di daerah. Webinar ini diharapkan bisa meningkatkan salah satu penerimaan atau awareness pemda dalam memanfaatkan data citra satelit untuk menajemen kebencanaan.
“BRIN merupakan satu-satunya lembaga pemerintah yang memiliki wewenang untuk pengadaan dan distribusi data citra satelit. BRIN juga sebagai lembaga yang bertugas melakukan kegiatan akuisisi, pengolahan, dan pengelolaan data satelit penginderaan jauh untuk kebutuhan nasional. Kami memberikan pelayanan untuk berbagai macam pihak yang membutuhkan data citra satelit tersebut,” imbuhnya.
Berdasarkan data layanan citra satelit yang dilakukan oleh BRIN pada 2023-2024 per sektor khususnya untuk pemda, sebagai pengguna layanan citra satelit terbanyak dibandingkan pengguna lainnya.
“Dari 281 permintaan layanan data citra satelit dari pemda didominasi khusus untuk pemanfaatan pemetaan ruang atau untuk pertanian dan perkebunan. Permintaan untuk kebencanaan hanya baru satu dari 281 permintaan tersebut. Padahal potensi bencana di Indonesia cukup besar, sehingga kami berharap salah satu informasi yang penting data citra satelit dapat digunakan mitigasi terhadap manajemen kebencanaan,” harapnya. (Sumber brin.go.id)
Frekuensi Longsor di Indonesia Sangat Tinggi, Ini Penjelasan BRIN
