Salesforce Perkenalkan AIforce, Bawa Kekuatan CRM ke Setiap Antarmuka AI

Loading

TechnologyIndonesia.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan dan karyawan berinteraksi dengan data. Menjawab perubahan tersebut, Salesforce memperkenalkan AIforce, lapisan antarmuka dinamis yang membawa kekuatan platform Salesforce ke berbagai tempat manusia dan agen AI bekerja.

Melalui AIforce, Salesforce menghadirkan seluruh pengetahuan perusahaan di dalam Salesforce — data, alur kerja, logika bisnis, semantik, hak akses, keamanan, dan tata kelola yang telah diterapkan dalam operasional bisnis — ke setiap antarmuka AI.

Hasilnya, perusahaan dapat membuka potensi nilai yang sangat besar dari seluruh pengetahuan bisnis yang telah tersimpan di Salesforce, menghadirkan konteks dan tata kelola tepercaya Salesforce ke berbagai perangkat produktivitas agentic, serta mendorong tingkat pertumbuhan dan produktivitas yang sepenuhnya baru.

Sebagian besar pengetahuan perusahaan telah tersimpan di Salesforce. Namun, selama ini kebanyakan orang hanya dapat mengaksesnya dengan membuka aplikasi dan menavigasi antarmuka Salesforce. Kondisi tersebut membatasi siapa yang dapat menggunakan Salesforce, seberapa banyak informasi yang dapat mereka akses dalam satu waktu, dan seberapa besar manfaat yang dapat mereka peroleh.

Dengan AIforce, pengguna tidak perlu membuka Salesforce untuk menyelesaikan pekerjaan. Salesforce hadir langsung di tempat mereka bekerja—melalui Claude, Slack, Lightning, atau platform lain yang mereka pilih. Karyawan yang belum pernah membuka dashboard kini dapat mengajukan pertanyaan, memperbarui catatan, dan menjalankan alur kerja berdasarkan data Salesforce serta logika bisnis yang sebenarnya.

Agen AI juga dapat mewujudkan nilai yang sebelumnya terpendam dengan membaca ratusan catatan sekaligus, mengakses berbagai sistem yang terhubung, serta menalar dan mengambil tindakan berdasarkan pandangan bisnis yang menyeluruh, pada kecepatan dan skala yang tidak mungkin dicapai manusia.

AIforce juga memungkinkan siapa pun untuk membangun antarmuka mereka sendiri. Pengguna tidak lagi harus menavigasi sistem dengan tata letak dan kolom yang kaku. Mereka cukup menjelaskan kebutuhannya untuk menyusun antarmuka dinamis yang disesuaikan secara langsung di platform seperti Slack, Claude, dan Coworker. Dengan demikian, setiap pengguna memiliki antarmuka yang dirancang untuk menampilkan insight yang benar-benar mereka butuhkan, pada waktu dan tempat yang tepat.

Chair and CEO Salesforce, Marc Benioff mengatakan bahwa AI sedang menciptakan revolusi antarmuka. Karena itu, pihaknya menggabungkan kecerdasan model dengan seluruh konteks yang telah dibangun pelanggan di Salesforce untuk menciptakan sistem yang cerdas, dinamis, dan dapat disusun.

“Sistem ini dikelola secara aman, dibangun dengan Zero Data Retention, dan dirancang untuk bekerja bersama sistem inti yang telah menjalankan bisnis Anda,” ujarnya.

AIforce Dirancang untuk Lingkungan Bisnis

Menurut Paul Carvouni, Senior Vice President dan General Manager ASEAN, karakter kawasan Asia Tenggara yang mobile-first dan terbiasa bekerja melalui kanal percakapan menjadi salah satu konteks penting bagi kehadiran AIforce. Melalui AIforce, bisnis di ASEAN bisa merealisasikan potensi penuh dari AI.

“Dengan menghadirkan konteks tepercaya, alur kerja, dan tata kelola Salesforce langsung ke tempat kerja berlangsung, AIforce membantu karyawan memanfaatkan data perusahaan dengan bahasa yang sederhana dan alami. Ini memberi bisnis di seluruh kawasan kecepatan dan kelincahan operasional untuk menangkap peluang domestik yang terus tumbuh,” ujar Paul.

AIforce menjadi lapisan tambahan dalam arsitektur Agentic Enterprise Salesforce, yang mencakup Data 360, kecerdasan aplikasi dan semantik Customer 360, serta Agentforce.

Data 360 menyatukan data, metadata, dan memori agar agen AI memahami pelanggan dan bisnis. Sementara itu, Customer 360 menyediakan logika bisnis, proses, perizinan, dan tindakan yang diperlukan untuk berbagai fungsi seperti penjualan, layanan, pemasaran, dan commerce.

Adapun Agentforce berperan sebagai tenaga kerja digital yang memahami bisnis, fungsi, dan industri, sekaligus menyediakan agen AI siap pakai serta perangkat untuk membangun agen sendiri.

Cerdas, Aman, dan Dapat Disusun

Salesforce menyebut AIforce memiliki sejumlah karakteristik utama. Pertama, cerdas dan dinamis, karena agen AI dapat menalar data, logika, dan percakapan di Salesforce secara bersamaan.

Kedua, aman dan terkelola. Permintaan dijalankan berdasarkan hak akses dan aturan bisnis yang sudah berlaku. Agen AI hanya dapat melihat informasi yang memang dapat diakses pengguna, sementara tindakan tetap dijalankan melalui Salesforce.

Ketiga, dapat disusun. Pengguna dapat membangun antarmuka, agen AI, atau tampilan berdasarkan data dan logika bisnis dengan menjelaskan kebutuhannya. Pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan menggunakan MCP, API, plug-in, dan skill.

AIforce juga menerapkan Zero Data Retention, sehingga data bisnis digunakan untuk menjawab pertanyaan yang sedang diajukan dan tidak disimpan oleh penyedia model.

Dari sisi implementasi, Salesforce menyatakan AIforce bekerja dengan sistem yang sudah tersedia. Admin tidak memerlukan model perizinan baru, migrasi, atau integrasi khusus.

AIforce Terhubung dengan Claude, Slack, dan Agentforce Coworker

AIforce diluncurkan bersama tiga pengembangan lain, yaitu Claudeforce, Slackforce, dan Agentforce Coworker. Ketiganya membawa kemampuan Salesforce ke sejumlah platform yang digunakan untuk bekerja dengan AI.

Claudeforce memperluas kemitraan Salesforce dan Anthropic dengan menghadirkan kemampuan Salesforce langsung di Claude melalui server MCP siap pakai.

Integrasi tersebut dirancang untuk mengurangi kebutuhan penyiapan manual, autentikasi kompleks, serta pemetaan skill khusus. Salesforce di Claude diluncurkan dengan 37 skill penjualan, mulai dari pencarian prospek hingga pemeliharaan kualitas pipeline.

Ke depan, kemampuan tersebut akan diperluas dengan analitik Tableau serta berbagai skill untuk layanan, pemasaran, commerce, dan industri.

Sementara itu, Slackforce membawa konteks dan kecerdasan Salesforce ke dalam percakapan dan alur kerja di Slack.

Melalui Slackforce Surfaces, pengguna dapat mengambil data terbaru dari Salesforce, Slack, dan perangkat lain untuk membangun antarmuka interaktif yang dapat difilter, dieksplorasi, dikomentari, dan ditindaklanjuti bersama tim secara real-time.

Slackforce juga mendukung Slackbot untuk memahami konteks percakapan sekaligus data dan tindakan terkelola di Salesforce. Dalam salah satu contoh, Slackbot dapat membantu mengidentifikasi akun yang mulai tidak aktif, memahami penyebabnya, menetapkan ulang penanggung jawab, membuat tugas tindak lanjut, hingga menyusun email untuk pelanggan.

Produk berikutnya adalah Agentforce Coworker, rekan kerja AI yang hadir langsung di antarmuka Lightning.

Coworker dapat menalar akun, aktivitas, dan riwayat untuk menampilkan insight sekaligus mengambil tindakan. Karena berjalan di dalam Salesforce, operasinya mengikuti perizinan dan aturan bisnis yang berlaku. Salesforce menyebut Agentforce Coworker telah diaktifkan oleh 100.000 pengguna dalam 35 hari pertama.

Di Fulton Bank, misalnya, perusahaan menyebut Coworker berkembang dari nol menjadi lebih dari 20 use case aktif di lingkungan produksi hanya dalam hitungan minggu dan mendukung sekitar 3.000 pengguna.

Dibangun dengan Arsitektur Terbuka

AIforce juga mengusung pendekatan terbuka melalui Headless Toolkit. Arsitektur ini menyediakan akses ke berbagai elemen platform Salesforce sehingga builder dan developer dapat menggunakan MCP, API, plug-in, skill, serta perangkat pengembangan untuk menciptakan pengalaman AI yang disesuaikan.

Pendekatan tersebut diperluas melalui ekosistem AgentExchange, yang menjadi jaringan mitra untuk membangun antarmuka, agen AI, aplikasi, integrasi, alur kerja, dan berbagai tindakan.

Ekosistem ini mencakup perusahaan seperti Anthropic, Amazon Web Services, Google, OpenAI, Lovable, Vercel, Docusign, Gamma, Jasper, Ramp, dan Rippling.

Bagi komunitas Trailblazer—yang terdiri atas admin, developer, arsitek, builder, dan pemimpin teknologi—kehadiran AIforce juga memperluas ruang untuk menciptakan solusi baru. Salesforce mencatat komunitas tersebut telah membangun 12 juta aplikasi, menjalankan 9,6 miliar panggilan API setiap hari, menghasilkan 156 juta baris kode berbasis AI, dan meraih lebih dari 151 juta badge di Trailhead.

Pada akhirnya, AIforce membawa gagasan bahwa AI tidak harus menjadi aplikasi terpisah yang kembali meminta pengguna berpindah-pindah sistem. Dengan membawa data, konteks, logika bisnis, keamanan, dan alur kerja Salesforce ke berbagai antarmuka, perusahaan ingin membuat kemampuan AI lebih dekat dengan aktivitas kerja sehari-hari.

Salesforce menyebut pendekatan tersebut sebagai perpaduan antara AI dan sistem inti bisnis untuk menghadirkan kecerdasan perusahaan yang tepercaya, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara manusia dan agen AI.

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *