![]()
TechnologyIndonesia.id – Memasuki era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kebutuhan terhadap jaringan kampus yang cepat, aman, andal, dan mampu mengelola lalu lintas data semakin meningkat. Menjawab kebutuhan tersebut, Huawei bersama organisasi industri global dan para pelopor industri merilis High-Quality 10 Gbps AI Campus Network Technical and Standard White Paper.
White Paper tersebut diluncurkan dalam Forum Inovasi AI Campus yang menjadi bagian dari rangkaian Huawei Network Summit 2026 (HNS 2026) Asia Pacific. Dokumen teknis ini memberikan rekomendasi dan panduan sistematis untuk membangun jaringan AI Campus berkualitas tinggi di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan pemerintahan.
Sejumlah tokoh hadir dalam peluncuran White Paper tersebut, diantaranya Shawn Zhao, President of the Campus Network Domain di Data Communication Product Line, Huawei; Deng Yiou, Sekretaris Jenderal Network Innovation and Development Alliance (NIDA); Sureswaran Ramadass, Ketua Dewan IPv6 APAC; Juliana Johari, Wakil Rektor Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia; Mohamad Rosidi, Anggota Komite Mastel; Edward Au, Editor Teknis IEEE 802.11be (Wi-Fi 7); dan Dylan Du, Direktur Huawei Enterprise Business Indonesia.
Enam Kemampuan Inti AI Campus
White Paper tersebut memperkenalkan enam kemampuan inti yang menjadi dasar pengembangan jaringan AI Campus generasi berikutnya. Keenamnya mencakup jaringan otonom, jaringan ultra-broadband 10 Gbps, konektivitas menyeluruh, pengalaman deterministik, penghematan energi, serta keamanan menyeluruh.
Pendekatan tersebut dirancang untuk membantu organisasi menghadapi perubahan kebutuhan jaringan di tengah semakin luasnya penggunaan AI. Jaringan kampus tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana koneksi, tetapi berkembang menjadi infrastruktur penting yang mendukung produktivitas dan layanan digital.
Dokumen ini juga menyoroti cara membangun infrastruktur kampus cerdas generasi berikutnya dengan memanfaatkan standar jaringan dari organisasi internasional seperti IPv6 Forum dan NIDA dan didukung kekuatan Huawei di bidang AI, komputasi, dan jaringan.
Selain itu, diulas juga berbagai teknologi canggih seperti agen AI, penginderaan Wi-Fi, roaming cerdas, dan keamanan dari ujung-ke-ujung.
President of the Campus Network Domain di Data Communication Product Line di Huawei, Shawn Zhao menyampaikan bahwa di era AI, jaringan kampus menghadapi tantangan seperti lonjakan lalu lintas, peningkatan risiko keamanan, dan kompleksitas O&M yang tinggi. Karena alasan ini, jaringan kampus harus berevolusi dari sekadar infrastruktur koneksi menjadi fondasi cerdas untuk produktivitas.
Solusi Xinghe AI Campus dari Huawei memenuhi kebutuhan ini dengan menawarkan tiga fitur utama yaitu konektivitas nirkabel super cepat, keamanan menyeluruh, dan otonomi jaringan.
”Kehadirannya sangat sesuai untuk pelanggan di kawasan Asia Pasifik yang ingin membangun jaringan kampus yang cerdas, aman, dan berpusat pada pengalaman, dalam rangka memaksimalkan produktivitas digital dan cerdas,” tuturnya.
Wi-Fi 7 hingga Keamanan Berbasis AI
Salah satu keunggulan Xinghe AI Campus adalah kemampuan konektivitas nirkabel super cepat. Huawei memperkenalkan AirEngine Wi-Fi 7 Advanced AP yang menggabungkan teknologi Intelligent Coordinated Scheduling and Spatial Reuse (iCSSR), koordinasi multi-AP, serta inovasi yang diarahkan menuju Wi-Fi 8.
Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas jaringan sekaligus menghadirkan pengalaman koneksi berkecepatan tinggi bagi pengguna.
Dari sisi keamanan, Huawei mengembangkan teknologi identifikasi titik akhir berbasis pengelompokan AI yang secara otomatis mengenali terminal sederhana dengan akurasi hingga 95 persen. Sementara itu, teknologi SmartAD dirancang untuk mendeteksi dan memblokir anomali dalam hitungan detik.
Perlindungan jaringan juga diperkuat melalui Wi-Fi Shield dan Post-Quantum Cryptography (PQC) ujung ke ujung. Teknologi penginderaan CSI Wi-Fi turut digunakan untuk membantu mengamankan ruang sensitif, sedangkan AP iGuard dirancang memberikan perlindungan privasi secara berkelanjutan.
Kemampuan lainnya adalah otonomi jaringan. Melalui teknologi iFlow, Huawei memungkinkan analisis pengalaman jaringan secara menyeluruh untuk mengidentifikasi penurunan QoE (Quality of Experience) dalam waktu singkat.
Pengambilan keputusan berbasis AI dan kemampuan melacak lokasi gangguan hingga tingkat menit juga memungkinkan sebagian gangguan jaringan nirkabel ditangani secara otomatis. Huawei menyebut hingga 80 persen gangguan jaringan nirkabel dapat diatasi secara otomatis melalui pendekatan tersebut.
Bagi sektor pendidikan, pengembangan jaringan berkapasitas tinggi menjadi semakin penting karena konektivitas berperan langsung dalam kegiatan pembelajaran, penelitian, maupun operasional kampus.
Juliana Johari, Wakil Rektor UiTM, mengatakan Wi-Fi 7 dan iMaster NCE menjadi pendorong konektivitas kampus generasi berikutnya seiring dengan semakin dalamnya transformasi digital di lingkungan universitas.
“Jaringan yang andal dan berkapasitas tinggi mendukung kelancaran proses pengajaran, penelitian, dan operasional sehari-hari, sehingga membantu kami menciptakan ekosistem digital yang gesit bagi para mahasiswa, pendidik, dan peneliti kami,” ujar Juliana.
Ke depan, Huawei akan terus bekerja sama secara erat dengan pelanggan dan mitra di kawasan Asia-Pasifik untuk mewujudkan konsep dan teknologi mutakhir yang diusung dalam White Paper High-Quality 10 Gbps AI Campus Network Technical and Standard menjadi aplikasi nyata di berbagai sektor industri, dalam rangka mendorong modernisasi industri cerdas di era AI.

