Lima Profesor Riset BRIN Paparkan Terobosan Ilmiah, dari Kantong Semar hingga Pangan Berkelanjutan

Loading

TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menegaskan perannya sebagai motor penggerak ilmu pengetahuan dan inovasi nasional melalui Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset yang digelar di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Dalam forum bergengsi tersebut, lima Peneliti Ahli Utama BRIN mempresentasikan hasil penelitian yang telah mereka tekuni selama bertahun-tahun, mulai dari konservasi keanekaragaman hayati, restorasi ekosistem, inovasi pertanian, pangan fungsional, hingga teknologi pakan unggas.

Kelima profesor riset tersebut ialah Muhammad Mansur (Kepakaran Ekologi dan Evolusi), Enny Widyati (Kepakaran Ekologi Mikrobiom dan Ekologi Restorasi), I Gusti Komang Dana Arsana (Kepakaran Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan), Andri Frediansyah (Kepakaran Mikrobiologi Bahan Alam dan Pangan Fungsional), serta Cecep Hidayat (Kepakaran Rekayasa Pangan dan Nutrisi Unggas).

Orasi ilmiah para profesor riset tersebut menunjukkan bahwa riset dasar yang dilakukan secara konsisten mampu melahirkan inovasi yang berdampak bagi konservasi sumber daya alam, ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, serta peningkatan daya saing nasional.

Indonesia Masih Menjadi Surga Kantong Semar Dunia

Dalam orasinya yang berjudul “Kantong Semar (Nepenthes spp.) di Indonesia: Dari Keanekaragaman Hayati Menuju Sistem Konservasi dan Pemanfaatan Berkelanjutan”, Muhammad Mansur menyoroti pentingnya eksplorasi berkelanjutan terhadap tanaman kantong semar atau Nepenthes.

Ia menegaskan bahwa eksplorasi ke berbagai wilayah Indonesia perlu terus dilakukan untuk mengungkap kekayaan spesies Nepenthes, menemukan jenis-jenis baru, sekaligus mengetahui kondisi habitat dan status konservasinya.

Menurutnya, Indonesia masih menjadi pusat keanekaragaman Nepenthes dunia dengan 83 jenis atau sekitar 39,3 persen dari total 211 spesies yang telah diketahui. Sebaran tersebut meliputi Sumatra sebanyak 39 jenis, Jawa tiga jenis, Kalimantan 24 jenis, Sulawesi 14 jenis, Maluku lima jenis, dan Papua 13 jenis.

Selama menekuni riset ekologi Nepenthes, Mansur berhasil mendokumentasikan keanekaragaman, distribusi, populasi, interaksi hara, hingga kondisi habitat tanaman karnivora tersebut.

Ia juga menemukan tiga spesies baru, yaitu Nepenthes pitopangii dari Sulawesi Tengah, Nepenthes monticola dari Papua Barat, serta Nepenthes diabolica dari Sulawesi Tengah. Selain itu, ia berhasil menghasilkan hibrida Nepenthes thalita melalui persilangan Nepenthes maxima dan Nepenthes reinwardtiana.

Mikrobiom Tanah Jadi Kunci Restorasi Ekosistem

Profesor Riset Enny Widyati menawarkan pendekatan baru dalam restorasi lahan terdegradasi melalui pemanfaatan mikrobiom tanah. Ia mengembangkan model restorasi produktif 3F (Food, Feed, Fuel) yang tidak hanya memulihkan fungsi ekologis suatu kawasan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Dari berbagai penelitian yang dilakukan, Enny kemudian melahirkan konsep REKKOSMIK (Rekayasa Ekosistem Berbasis Mikrobiom Tanah). Pendekatan ini mengubah paradigma restorasi yang selama ini berfokus pada revegetasi menjadi rekonstruksi sistem biologis tanah secara menyeluruh.

Konsep tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung target Indonesia menuju FOLU Net Sink 2030, yaitu kondisi ketika sektor kehutanan dan penggunaan lahan mampu menyerap emisi karbon lebih besar dibandingkan yang dilepaskan.

Teknologi Irigasi Hemat Air untuk Pertanian Berkelanjutan

Pada bidang pertanian, I Gusti Komang Dana Arsana memaparkan hasil riset mengenai pengelolaan air irigasi pada budidaya padi yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Dalam melaksanakan riset, Dana Arsana mengembangkan konsep Alternate Wetting and Drying (AWD) yang mengintegrasikan faktor toposekuen, varietas unggul spesifik lokasi, dan neraca air.

Melalui konsep AWD, ia menunjukkan bahwa interval pengairan delapan hari mampu menghasilkan efisiensi penggunaan air tertinggi, dengan produktivitas mencapai 8,14 ton gabah kering giling per hektare pada varietas Inpari 10 Laeya di wilayah hilir.

Pendekatan tersebut juga terbukti mampu menurunkan emisi metana sebesar 33–41 persen dibandingkan sistem pengairan terus-menerus.

Selama berkiprah sebagai peneliti, Dana Arsana telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, di antaranya teknologi budidaya padi sistem tanam benih langsung, dan pelepasan varietas padi Gamagora.

Inovasi lainnya yaitu pengembangan jagung dan padi lokal Bali, serta pendaftaran berbagai varietas buah lokal seperti pisang, salak, dan durian. Ia juga berkontribusi dalam pelepasan varietas kelapa genjah merah Bali.

Pangan Fungsional dari Fermentasi Tradisional Indonesia

Di bidang mikrobiologi bahan alam dan pangan fungsional, Andri Frediansyah menyoroti potensi pendekatan metabologenomik dalam fermentasi terkontrol untuk menghasilkan senyawa bioaktif baru sekaligus meningkatkan nilai fungsional pangan tradisional Indonesia.

Melalui pendekatan tersebut, ia berhasil menemukan senyawa aktif baru seperti massiliamide serta berkontribusi dalam penemuan terpenibactin A-C dan trinickiabactin.

Penelitiannya juga mampu mengoptimalkan produksi violacein, karotenoid, dan serratiochelin dari mikroba yang selama ini masih jarang dieksplorasi.

Dalam bidang pangan fungsional, fermentasi buah-buahan tropis seperti kersen, kupa, dan parijoto menggunakan bakteri asam laktat terbukti meningkatkan aktivitas antioksidan dan antidiabetes.

Selain itu, Andri aktif melakukan saintifikasi berbagai pangan fermentasi tradisional Indonesia seperti oncom, tempe, dan tauco agar memiliki nilai tambah fungsional sekaligus memperkuat hilirisasi hasil riset menuju kemandirian pangan nasional.

Inovasi Pakan Unggas Ramah Lingkungan

Sementara itu, Cecep Hidayat mengangkat inovasi teknologi Nano-Zn Phytogenic (NZP) sebagai imbuhan pakan unggas berbasis green synthesis yang memadukan mineral berukuran nano dengan senyawa bioaktif tanaman.

Menurutnya, teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi penyerapan nutrien, memperbaiki konversi pakan ayam pedaging maupun ayam kampung KUB, meningkatkan kesehatan dan imunitas ternak, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi usaha peternakan.

Selain itu, penggunaan NZP berpotensi mengurangi kebutuhan zink hingga 50 persen sehingga mampu menekan ekskresi mineral ke lingkungan dan mengurangi risiko pencemaran. Inovasi tersebut menjadi salah satu solusi untuk mendukung sistem produksi unggas yang lebih efisien, sehat, dan berkelanjutan.

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *