Usulan Prof. Achmad Mochtar Jadi Pahlawan Nasional Menguat, AIPI dan FKUI Gelar Seminar Akademik

Loading

TechnologyIndonesia.id – Kiprah dan jasa Prof. Dr. Achmad Mochtar kembali menjadi perbincangan di kalangan akademisi dan masyarakat. Lebih dari delapan dekade setelah wafatnya, ilmuwan kedokteran Indonesia tersebut dinilai layak memperoleh Gelar Pahlawan Nasional atas jasa, integritas, dan pengorbanannya dalam membela kemanusiaan.

Dorongan tersebut mengemuka dalam Seminar Akademik Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Prof. Dr. Achmad Mochtar yang digelar oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), didukung Kementerian Kebudayaan RI dan Komunitas Suara Sains Terbuka.

Seminar yang digelar di Ruang Senat Akademik Fakultas Kedokteran UI, Kampus Salemba, Jakarta pada Selasa (4/8/2026) ini menjadi bagian penting dalam penyusunan naskah akademis sebagai dasar pengajuan resmi kepada pemerintah.

Memilih Berkorban Demi Rekan Sejawat

Berbeda dengan banyak pahlawan yang gugur di medan perang, Prof. Achmad Mochtar menunjukkan kepahlawanannya melalui dunia ilmu pengetahuan.

Sebagai ilmuwan kedokteran Bumiputera pertama yang memimpin Eijkman Instituut, ia dikenal atas kontribusinya dalam penelitian penyakit tropis dan pengembangan pendidikan kedokteran di Indonesia. Namun, namanya dikenang terutama karena keberanian moral yang luar biasa pada masa pendudukan Jepang.

Dalam peristiwa yang dikenal sebagai Peristiwa Mochtar atau berkaitan dengan Tragedi Kamp Klender, Achmad Mochtar memilih memikul seluruh tuduhan yang diarahkan kepada lembaganya demi melindungi staf dan koleganya dari ancaman penyiksaan hingga hukuman mati. Keputusan tersebut berujung pada eksekusi dirinya oleh Kempetai Jepang.

Pengorbanan itu menjadikan Prof. Dr. Achmad Mochtar bukan hanya seorang ilmuwan besar, tetapi juga teladan tentang integritas, tanggung jawab, dan keberanian menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas keselamatan pribadi.

Meski telah menerima Bintang Jasa Utama dan namanya diabadikan sebagai rumah sakit di Bukittinggi, hingga kini Prof. Achmad Mochtar belum memperoleh Gelar Pahlawan Nasional.

Sepanjang kariernya, ia juga menghasilkan 54 karya ilmiah, sebagian besar dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi pada masa Hindia Belanda. Prof. Achmad Mochtar juga menjadi tokoh penting dalam perkembangan ilmu penyakit tropis dan ikut mendirikan Ika Daigaku, cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Kaji Jejak Sejarah

Seminar akademik ini menghadirkan berbagai tokoh dari kalangan ilmuwan, akademisi, sejarawan, peneliti, hingga pembuat kebijakan untuk mengulas rekam jejak Prof. Achmad Mochtar secara komprehensif.

Kajian meliputi kronologi historis Peristiwa Mochtar, kontribusi terhadap perkembangan ilmu kedokteran Indonesia, warisan etika profesi, hingga pemenuhan syarat sebagai Pahlawan Nasional sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon dalam pidato kuncinya menegaskan bahwa ilmu pengetahuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas kebudayaan bangsa, sama pentingnya dengan bahasa, adat istiadat, tradisi lisan, maupun kesenian.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, ia menyebut pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan yang harus dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan dibina oleh negara.

Menurut Fadli Zon, mengenang dan mengkaji kembali jejak Prof. Dr. Achmad Mochtar merupakan bagian dari upaya merawat ingatan kolektif bangsa terhadap seorang ilmuwan yang mendedikasikan hidupnya bagi kebenaran dan kemanusiaan.

“Sebagai Direktur Lembaga Eijkman pertama dari kalangan pribumi, Prof. Achmad Mochtar telah menunjukkan bahwa keunggulan ilmu pengetahuan Indonesia bukanlah hal baru, melainkan berakar jauh sebelum kita menyebutnya sebagai kebanggaan nasional,” ujarnya.

Fadli Zon menilai Achmad Mochtar tidak hanya berjasa dalam pengembangan ilmu kedokteran Indonesia, tetapi juga menunjukkan keteladanan melalui keberanian moralnya saat memilih mengorbankan nyawa demi melindungi rekan-rekan sejawatnya dari tuduhan palsu pada masa pendudukan Jepang.

Ia menegaskan bahwa negara telah memiliki mekanisme untuk memberikan penghargaan kepada para ilmuwan melalui Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berupa: rekognisi, insentif, dan anugerah prestasi.

Namun rekognisi tidak selalu datang tepat waktu. Prof. Achmad Mochtar wafat pada tahun 1945, dan hingga kini namanya belum resmi disematkan sebagai Pahlawan Nasional.

“Seminar pada hari ini adalah bagian dari ikhtiar kita bersama untuk menyempurnakan penghormatan itu, melalui kajian yang mendalam, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun historis,” tuturnya.

Investasi Nilai bagi Generasi Mendatang

Seminar ini juga menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak teladan yang menunjukkan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya dibangun melalui teknologi, tetapi juga melalui karakter, integritas, dan keberanian membela kebenaran.

Bagi AIPI dan FKUI, pengusulan Gelar Pahlawan Nasional kepada Prof. Achmad Mochtar merupakan investasi nilai bagi generasi mendatang. Sosoknya diharapkan menjadi inspirasi bahwa ilmuwan bukan hanya pencipta pengetahuan, tetapi juga penjaga nurani bangsa.

Seminar akademik menghadirkan beberapa narasumber, diantaranya Sangkot Marzuki, Direktur Lembaga Eijkman (1992-2014); Agus Setiawan, dosen Dept. Sejarah, FIB Universitas Indonesia; Herawati Sudoyo, Ketua Komisi Ilmu Kedokteran AIPI; sejarawan senior, Asvi Warman Adam; dan Dwi Mulyatari, Sejarawan FIB UI

Dengan semakin kuatnya dukungan akademik dan historis, harapan agar Prof. Dr. Achmad Mochtar memperoleh Gelar Pahlawan Nasional kini semakin besar. Sebelumnya, Prof. Dr. M. Sardjito, seorang ilmuwan kedokteran juga telah mendapatkan anugerah Pahlawan Nasional dari negara pada 8 November 2019.

Pengakuan tersebut dinilai bukan hanya sebagai penghormatan terhadap seorang ilmuwan, tetapi juga sebagai penegasan bahwa keberanian moral dan dedikasi terhadap ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan Indonesia.

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *