Dari ALAP-ALAP hingga Trinity F90+, BRIN Uji Terbang Pesawat Nirawak Buatan Indonesia

Loading

TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat pengembangan teknologi penerbangan dalam negeri melalui uji terbang berbagai sistem pesawat udara nirawak (PUNA). Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan kesiapan teknologi sebelum dimanfaatkan secara luas di berbagai sektor strategis.

Uji terbang berlangsung selama tiga hari, pada 23–25 Juni 2026, di Lanud Saleh Basareh, Rumpin, Kabupaten Bogor. Beragam jenis pesawat nirawak hasil pengembangan internal maupun kolaborasi nasional diterbangkan untuk menguji performa, keandalan, dan kesiapan operasionalnya.

Pesawat udara nirawak kini memiliki peran yang semakin vital dalam berbagai bidang, mulai dari survei wilayah, pemetaan, pemantauan lingkungan, hingga mendukung kebutuhan pertahanan dan keamanan. Karena itu, pengujian secara menyeluruh menjadi tahapan penting sebelum teknologi tersebut diterapkan secara luas.

Beragam Drone Canggih Hasil Riset BRIN Diuji

Dalam kegiatan tersebut, BRIN menguji sejumlah platform pesawat udara nirawak dengan karakteristik berbeda, mulai dari pesawat sayap tetap (fixed wing), Vertical Take-Off and Landing (VTOL), hingga multirotor. Beberapa wahana yang diuji antara lain ALAP-ALAP KX-0601, NIU-V7, LSU-02 VTOL, Kresna, Skywalker, dan Trinity F90+.

ALAP-ALAP KX-0601 dan NIU-V7 dirancang untuk survei dan pemetaan, dengan jangkauan hingga 100 kilometer, ketahanan terbang enam jam, serta berat lepas landas maksimum 30 kilogram untuk mendukung pengumpulan data di lapangan.

Sementara itu, LSU-02 VTOL mampu lepas landas dan mendarat vertikal dengan efisiensi jelajah pesawat sayap tetap. Dengan bentang sayap 3,3 meter dan berat maksimum 22 kilogram, wahana ini cocok untuk wilayah dengan keterbatasan landasan pacu.

Pada kategori uji teknologi, BRIN menerbangkan Kresna sebagai flying test bed untuk menguji komponen kunci, khususnya Flight Control Computer (FCC), guna mendukung kemandirian dan keberlanjutan pengembangan PUNA nasional.

Selain hasil riset, uji terbang menampilkan Skywalker dan Trinity F90+ sebagai platform siap pakai. Trinity F90+ mampu memetakan hingga 500 hektare dalam satu misi dengan waktu terbang hampir satu jam sehingga berpotensi mendukung survei dan pemetaan skala luas.

Kepala Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN, Fadilah Hasim, menyatakan uji terbang tidak hanya memvalidasi kinerja teknologi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan pertukaran pengetahuan antarpemangku kepentingan.

“Melalui uji terbang ini, kami menguji kesiapan seluruh sistem pesawat udara nirawak, mulai dari wahana, sistem kendali terbang, sistem komunikasi data, hingga stasiun kendali bumi,” ujar Fadilah.

Kegiatan ini tidak hanya membuktikan kesiapan teknologi, tetapi juga memberi kesempatan pemangku kepentingan memahami perkembangan sistem PUNA untuk menjawab kebutuhan nasional di berbagai sektor.

Dengan semakin matangnya teknologi pesawat udara nirawak buatan dalam negeri, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pemanfaatan drone di berbagai sektor, mulai dari pemetaan, mitigasi bencana, pengelolaan sumber daya alam, hingga mendukung sistem pertahanan nasional. (Sumber: brin.go.id)

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *