TechnologyIndonesia.id – Upaya mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia terus diperkuat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong standardisasi plug dan socket sebagai fondasi penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik roda dua yang terintegrasi.
Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rahman Priandana menegaskan pentingnya standardisasi plug dan socket sebagai salah satu komponen utama percepatan adopsi kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) roda dua di Indonesia.
Eka mengungkapkan, ada tiga hambatan utama yang masih membayangi percepatan kendaraan listrik, baik di tingkat global maupun nasional. Pertama, keterbatasan infrastruktur pengisian daya. Kedua, tingginya biaya baterai. Ketiga, kekhawatiran pengguna terhadap jarak tempuh atau range anxiety.
Di Indonesia, tantangan tersebut diperparah oleh masih terbatasnya investasi pada infrastruktur penukaran baterai maupun pengisian cepat. Hal ini membuat masyarakat belum sepenuhnya yakin untuk beralih ke kendaraan listrik.
Ia menyoroti model bisnis battery swapping yang saat ini berkembang menghadapi berbagai kendala, mulai dari kebutuhan investasi tinggi hingga skema berbagi keuntungan dengan penyedia listrik.
Di sisi lain, tren teknologi menunjukkan pergeseran menuju kendaraan listrik roda dua dengan baterai tertanam berkapasitas besar (long range), yang memerlukan dukungan infrastruktur fast charging yang andal.
“Interoperabilitas menjadi kunci. Tanpa standar plug dan socket yang seragam, ekosistem pengisian daya tidak akan berkembang optimal,” ujar Eka pada program Kelas Periset BRIN Edisi XIV, melalui YouTube BRIN Indonesia, Rabu (1/4/2026).
Standar Nasional Berbasis Karakteristik Lokal
Menjawab tantangan tersebut, BRIN menginisiasi pengembangan standar nasional (SNI) untuk plug dan socket pengisian cepat KBLBB roda dua. Desain yang diusulkan mengacu pada standar internasional IEC 62196-6, namun dengan penyesuaian karakteristik lokal.
Menariknya, desain fisik plug terinspirasi dari bentuk perisai lambang Pancasila, sebagai representasi identitas nasional sekaligus penegasan bahwa teknologi ini merupakan karya anak bangsa.
Standardisasi ini diharapkan memberikan berbagai manfaat strategis, antara lain meningkatkan kompatibilitas antarperangkat, mendorong investasi stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), serta memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Selain itu, pendekatan ini juga memungkinkan produsen kendaraan untuk berinovasi tanpa harus menyeragamkan desain baterai.
Inovasi Teknologi SONIK R2
BRIN juga telah mengembangkan prototipe stasiun pengisian cepat roda dua, yakni SONIK R2, dengan kapasitas pengisian hingga 6,6 kW. Teknologi ini mampu memangkas waktu pengisian secara signifikan, bahkan hingga 20 menit untuk baterai berbasis LiFePO4.
Sistem ini dilengkapi berbagai fitur keselamatan dan telah mendukung integrasi dengan sistem manajemen berbasis protokol internasional.
Dalam implementasinya, sistem pengisian ini memanfaatkan electric vehicle charge controller (EVCC) untuk menjembatani berbagai protokol komunikasi baterai dari beragam manufaktur, sehingga tetap menjamin interoperabilitas.
Saat ini, usulan standar plug dan socket tersebut tengah dibahas bersama Badan Standardisasi Nasional (BSN) melalui Komite Teknis terkait. BRIN juga aktif berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian, asosiasi industri, serta mitra swasta.
Ke depan, tantangan utama terletak pada penerapan wajib standar nasional tersebut oleh produsen kendaraan listrik di Indonesia, serta upaya untuk mendorong standar ini diadopsi pada tingkat internasional. (Sumber: brin.go.id)
Percepat Adopsi Motor Listrik, BRIN Dorong Standardisasi Plug dan Socket
