TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menginisiasi pengembangan plug dan socket ber-Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) roda dua. Langkah ini dilakukan untuk mendorong interoperabilitas sistem pengisian daya, sekaligus mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana menegaskan bahwa belum adanya standar plug dan socket menjadi persoalan mendasar dalam pengembangan infrastruktur pengisian kendaraan listrik roda dua, khususnya untuk pengisian cepat (fast charging).
“Masalahnya sekarang, motor listrik merek A bisa ngecas di stasiun pengisian A, tapi belum tentu bisa di (stasiun pengisian) B atau C, karena setiap merek memiliki sistem dan protokol pengisian yang berbeda. Oleh karena itu, kata kuncinya interoperabilitas,” ujar Eka dikutip dari laman brin.go.id pada Minggu (01/02/2025).
Tanpa standardisasi plug dan socket, pengguna kendaraan listrik akan terus menghadapi risiko tidak kompatibelnya kendaraan dengan stasiun pengisian yang tersedia, terutama saat berkendara jarak jauh.
Tantangan Adopsi Kendaraan Listrik
Eka menjelaskan bahwa secara global, laju adopsi kendaraan listrik masih relatif lambat. Berdasarkan berbagai kajian, terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.
Pertama, keterbatasan infrastruktur pengisian daya, baik dari sisi jumlah maupun konektivitas internet. Kedua, biaya perawatan kendaraan listrik yang masih relatif tinggi, khususnya pada komponen baterai. Ketiga, kekhawatiran pengguna saat berkendara jarak jauh dengan kendaraan listrik.
“Sistem pengisian kendaraan listrik tidak bisa berdiri sendiri karena harus terhubung dengan sistem pembayaran. Pengguna harus tahu dia mengisi berapa kilowattjam (kWh) dan berapa yang harus dibayar. Itu sebabnya pengisian harus terhubung ke internet,” ujar Eka.
Di Indonesia, perkembangan KBLBB menunjukkan tren positif. Mengacu pada data Direktorat IMATAP Kementerian Perindustrian, hingga akhir 2025 jumlah kendaraan listrik telah mencapai sekitar 333 ribu unit, dengan sepeda motor listrik menyumbang lebih dari 225 ribu unit.
“Secara angka tidak jelek. Memang tidak mencapai target, tapi masih on the track dengan kondisi saat ini,” kata Eka.
Namun demikian, infrastruktur pengisian untuk kendaraan listrik roda dua masih tertinggal. Kebijakan yang ada selama ini lebih banyak menitikberatkan pada skema penukaran baterai melalui Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU).
Pergeseran Tren Motor Listrik Roda Dua
Menurut Eka, pendekatan penukaran baterai mulai menghadapi tantangan seiring bergesernya tren motor listrik roda dua di Indonesia. Jika sebelumnya didominasi motor dengan baterai tukar, kini mulai berkembang motor listrik dengan baterai besar tertanam yang mampu menempuh jarak hingga 150 kilometer dalam sekali pengisian.
“Motor yang baterainya besar ini tidak bisa ditukar. Berat baterainya bisa 20 sampai 25 kilogram, dan itu berbahaya kalau ditukar,” ujarnya.
Pergeseran ini juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi baterai, khususnya lithium ferro phosphate (LFP). Dibandingkan baterai lithium NMC maupun natrium ferro phosphate yang belum matang, baterai LFP dinilai lebih siap dari sisi pasar.
“LFP itu densitas energinya bagus, bisa di-charge lebih cepat, dan relatif lebih aman. Dari sisi kesiapan pasar, LFP yang paling siap,” kata Eka.
Dari sisi biaya, pengisian ulang dengan charging juga lebih murah dibandingkan sistem tukar baterai (swap). “Kalau swap, setiap jarak tertentu harus tukar baterai dan itu ada biaya baterainya. Kalau charging, yang dibayar hanya energi listriknya,” tambahnya.
Plug dan Socket SNI Jadi Solusi
Berdasarkan kondisi tersebut, BRIN menginisiasi pengembangan plug dan socket KBLBB roda dua yang terstandardisasi secara nasional. Standardisasi ini diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan SPKLU fast charging roda dua yang interoperabel.
“Dengan menstandardisasi plug dan socket, kita bisa mengakomodasi kendaraan listrik roda dua dengan baterai tertanam, menumbuhkan investasi SPKLU fast charging, dan menjamin kompatibilitas antara kendaraan dan stasiun pengisian,” kata Eka.
Plug dan socket yang diusulkan BRIN mengacu pada IEC 62196-6, dengan protokol komunikasi merujuk pada IEC 61851-25, serta disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan iklim Indonesia.
Menariknya, desain plug dan socket ini terinspirasi dari bentuk perisai Pancasila. Secara teknis, sistem ini mampu menyalurkan tegangan hingga 120 volt DC dengan arus maksimum 100 ampere.
Material yang digunakan dirancang tahan panas dan api, serta akan diuji melalui enam tahapan pengujian sesuai standar IEC, mulai dari perlindungan terhadap sengatan listrik, kenaikan suhu, hingga ketahanan keausan terhadap aktivitas colok-cabut.
Integrasi dengan SPKLU Fast Charging
Sebagai bagian dari penguatan ekosistem, BRIN juga mengembangkan SPKLU fast charging roda dua berdaya 6,6 kilowatt per outlet/gun yang kompatibel dengan plug dan socket SNI tersebut. Menurut Eka, lama pengisian ulang baterai LFP dari kosong sampai penuh bisa 20 menit.
Sistem fast charging ini memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi karena sebagian besar komponen, termasuk sistem kontrol, dikembangkan di dalam negeri. “Kontrolernya kami bikin sendiri, TKDN-nya bisa tinggi. Yang impor hanya power converter-nya,” ujarnya.
Saat ini, plug dan socket fast charging KBLBB roda dua yang dikembangkan BRIN sedang dalam proses pembahasan di Badan Standardisasi Nasional (BSN) melalui Komite Teknis 29-08. BSN masih menunggu hasil pengujian produk final berbasis injection molding, bukan prototipe 3D printing.
Dalam proses pengembangannya, BRIN bekerja sama dengan PT Volex Indonesia, perusahaan manufaktur komponen kelistrikan, khususnya untuk proses desain, produksi, dan pengujian plug dan socket sesuai kebutuhan industri.
Kolaborasi ini dilakukan agar rancangan yang dikembangkan tidak hanya memenuhi aspek teknis dan keselamatan, tetapi juga siap diproduksi secara massal dan diadopsi pelaku industri.
“Harapannya, plug dan socket ini bisa diwajibkan untuk KBLBB roda dua dan kita usulkan ke IEC sebagai standar internasional,” pungkas Eka. (Sumber: brin.go.id)
BRIN Kembangkan Plug dan Socket Ber-SNI untuk Fast Charging Sepeda Motor Listrik
