Pernah Terdampar di Pantai Yeh Malet, Kerangka Tulang Paus Sperma Jadi Koleksi Ilmiah BRIN

Technology-Indonesia.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akhirnya memiliki koleksi ilmiah kerangka tulang ikan paus sperma (physeter macrocephalus). Kerangka paus sperma tersebut berasal dari Pantai Yeh Malet, Karangasem, Bali.

Sebelumnya, kerangka tulang paus sperma tersebut dibersihkan, dikeringkan, dan diberi kode. Kerangka tulang paus sperma diangkut dan disimpan di Gedung KEHATI, Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno (KST), pada Senin (30/10/2023).

Ratih Damayanti selaku Direktur Pengelolaan Koleksi Ilmiah, Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN mengatakan tujuan dari evakuasi kerangka paus sperma adalah sebagai sarana belajar untuk masyarakat.

“Koleksi ilmiah seperti kerangka paus ini sangat berguna buat temen-temen untuk belajar, melakukan riset, seperti anatomi taksonomi, dan evolusi. Selama ini kerangka paus sperma belum pernah dimiliki BRIN ataupun nasional. Kita punya satu di pulau Rambut Kepulauan Seribu DKI Jakarta, tapi kurang lengkap,” terang Ratih dikutip dari laman brin.go.id pada Selasa (31/10/2023).

Dirinya menjelaskan, pengevakuasian dan penyimpanan koleksi kerangka paus sperma merupakan jenis paus yang dilindungi.

“Ini akan menjadi referensi langsung bagi para peneliti, pelajar, dan mahasiswa untuk mengetahui anatomi paus sperma, yang selama ini hanya bisa dilihat di textbox atau media yang lain. Dengan adanya kesempatan penyimpanan koleksi ini, kita dapat memberikan kesempatan kepada teman-teman untuk belajar langsung mengenai paus sperma,” tuturnya.

Penelitian Mamalia Besar

Ratih mengatakan lebih lanjut, kerangka paus sperma yang sudah dibersihkan, akan dirakit dan dipasang di Gedung KEHATI. “Kerangka paus sperma tersebut rencananya akan diletakkan di Lobby Tower A Gedung KEHATI. Jadi teman-teman saat masuk, langsung bisa melihat kerangka tersebut,” ungkapnya.

“Kita akan gunakan kerangka paus sperma ini sebagai penelitian untuk mamalia besar yang selama ini masih terbatas, dan baru kita miliki. Sebelumya, kita melakukan penelitian pada dugong atau mamalia yang lebih kecil dari paus,” imbuhnya.

Para peneliti dapat menggunakannya untuk belajar mengenai anatomi paus dan penyebab kematiannya. Termasuk untuk menunjang ilmu-ilmu forensik mengenai hewan-hewan laut, dan akan belajar mengenai taksonomi, serta evolusi dari hewan besar ini.

Sebagai informasi, kerangka paus sperma berasal dari Pantai Yeh Malet, Karangasem, Bali tersebut telah digali dan dievakuasi sejak 14 Oktober 2023.

Sebelumnya, Tim dari BRIN berkoordinasi dengan berbagai pihak, antara lain Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Denpasar, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (BPSPL) Denpasar, Dinas Perikanan Kelautan Provinsi Bali, Pemkab Karangasem, Polsek Manggis, dan aparat desa Antiga.

Berbagai perizinan lainnya pun sudah diperoleh, antara lain untuk akses sumber daya genetiknya dari KLHK, izin angkut (SATDN) dari BKSDA Denpasar. Izin dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, terkait pengangkutan dalam negeri (SAJI-DN), serta saat pelepasan dengan Balai Karantina Ikan Denpasar.

Tak heran karena paus sperma yang mempunyai panjang 18 meter ini, termasuk jenis satwa yang dilindungi sesuai Permen KLHK tahun 2018.

Sesuai dengan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Pelestarian Keanekaragaman Hayati dalam Pembangunan Berkelanjutan, BRIN bertugas melakukan koleksi ilmiah dan pengelolaan keanekaragaman hayati sebagai aset nasional. Dalam bentuk depositori dan repositori spesimen untuk pemanfaatan yang berkelanjutan.

Pada 1916, Museum Zoologicum Bogorienses (MZB) Bogor Jawa Barat, telah memiliki koleksi kerangka tulang paus pertamanya, yaitu seekor paus biru yang berasal dari Pameungpeuk Garut, Jawa Barat. (Sumber brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author