Peneliti BRIN Temukan Dua Spesies Ngengat Baru Endemik Papua dan Sulawesi

TechnologyIndonesia.id – Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi dua spesies ngengat baru yang endemik dari Papua dan Sulawesi. Temuan ini semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat biodiversitas terbesar di dunia.

Dua spesies tersebut berasal dari genus Glyphodella dan Chabulina, yakni Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 dan Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Raffles Bulletin of Zoology edisi Februari 2026, Volume 74, halaman 87–94.

Penemuan dua spesies baru ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah. Kegiatan  Penelitian dilakukan melalui survei lapangan di wilayah Papua dan Sulawesi selama periode 2002–2017, serta kajian terhadap koleksi spesimen di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Bogor. 

Dalam publikasinya, para peneliti melaporkan bahwa Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 merupakan satu-satunya spesies dari genus Glyphodella yang ditemukan di Indonesia, dan bersifat endemik Papua, khususnya di Pegunungan Foja.

Sementara itu, Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 merupakan spesies baru yang endemik Sulawesi dan ditemukan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara. 

Menurut Rosichon Ubaidillah, kedua spesies ini memiliki karakter morfologi yang khas, terutama pada pola sayap dan struktur genitalia yang menjadi penanda utama dalam identifikasi ngengat.

Glyphodella fojaensis memiliki ciri berupa bercak kuning berbentuk bulat pada sayap depan, serta struktur genitalia jantan yang berbeda dari spesies kerabatnya. Sementara Chabulina celebesensis dapat dikenali dari pola garis pada sayap dan bentuk genitalia yang khas,” ujarnya. 

Ia menjelaskan bahwa perbedaan karakter tersebut menjadi dasar utama penetapan kedua spesies sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan. “Karakter morfologi ini menunjukkan adanya keunikan evolusi dan adaptasi pada masing-masing habitat, baik di Papua maupun Sulawesi,” ungkapnya. 

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perangkap cahaya untuk mengoleksi spesimen, serta pengamatan detail menggunakan mikroskop. Seluruh spesimen kemudian disimpan dan didokumentasikan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai koleksi nasional.

Berdasarkan hasil penelitian, Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 hidup di hutan tropis primer di kawasan Pegunungan Foja, Papua, sedangkan Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 ditemukan di hutan sekunder tropis di wilayah Sulawesi. Kedua spesies ini bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari. 

Penemuan ini menambah data keanekaragaman serangga Indonesia, khususnya kelompok ngengat famili Crambidae. Selain itu, temuan ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. 

Para peneliti menilai bahwa keberadaan spesies endemik yang terbatas pada wilayah tertentu membuatnya rentan terhadap perubahan lingkungan, seperti deforestasi dan degradasi habitat.

“Karena itu, diperlukan upaya perlindungan ekosistem hutan di Papua dan Sulawesi agar spesies-spesies endemik ini dapat terus lestari,” jelas Rosichon. 

Tim peneliti BRIN akan terus melakukan eksplorasi dan kajian biodiversitas serangga di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author