TechnologyIndonesia.id – Wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, tercatat menerima paparan radiasi alam hampir sembilan kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Temuan ini dimuat dalam UNSCEAR 2024 Report – Annex B, yang diumumkan dalam daftar publikasi terbaru per 12 Februari 2026 olehUnited Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR).
UNSCEAR merupakan komite ilmiah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sejak 1955 memiliki mandat menilai tingkat dan dampak paparan radiasi pengion terhadap kesehatan manusia dan lingkungan secara global. Laporan tersebut mengevaluasi paparan radiasi pengion terhadap publik di seluruh dunia, baik yang berasal dari sumber alami maupun buatan.
Representative Indonesia untuk UNSCEAR sekaligus Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir (PRTKMMN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nur Rahmah Hidayati, menjelaskan bahwa dalam laporan tersebut Mamuju diklasifikasikan sebagai High Natural Background Radiation Areas (HNBRA) atau wilayah dengan radiasi latar belakang tinggi.
Estimasi dosis efektif tahunan dari sumber radiasi alam di wilayah ini mencapai sekitar 27 milisievert (mSv) per tahun. Sementara, rata-rata dosis efektif tahunan dari radiasi alam secara global diperkirakan sekitar 3,0 mSv per tahun.
“Jika dibandingkan, paparan yang diterima penduduk Mamuju hampir sembilan kali lebih besar dari rata-rata dunia,” kata Nur Rahmah dilansir dari laman brin.go.id Minggu (1/3/2026).
Tingginya paparan di Mamuju terutama disebabkan oleh kandungan uranium dan thorium yang sangat tinggi di dalam tanah. Konsentrasi ²³⁸U dan ²³²Th di beberapa lokasi di Mamuju dilaporkan berada pada kisaran ratusan hingga lebih dari 1.000 Bq/kg. Sementara rata-rata global masing-masing sekitar 33 Bq/kg untuk ²³⁸U dan 45 Bq/kg untuk ²³²Th.
Selain itu, konsentrasi radon di luar ruangan di Mamuju berkisar antara 22 hingga 760 Bq/m³, dengan rata-rata sekitar 290 Bq/m³. Menurut Nur Rahmah, angka ini tergolong sangat tinggi dan berkontribusi signifikan terhadap dosis radiasi yang diterima masyarakat setempat.
Meski demikian, ia mengungkapkan gaya bangunan dan kebiasaan hidup masyarakat lokal membantu mencegah akumulasi radon yang lebih tinggi di dalam rumah. Faktor ventilasi alami dan struktur bangunan tradisional menjadi salah satu penjelasan mengapa konsentrasi radon dalam ruangan tidak meningkat secara drastis dibandingkan lingkungan luar.
“Keberadaan wilayah dengan radiasi alam tinggi seperti Mamuju dinilai penting secara ilmiah karena dapat menjadi lokasi penelitian untuk memahami dampak paparan radiasi rendah secara jangka panjang terhadap kesehatan manusia,” terangnya.
Fenomena Geologis Alami
Laporan UNSCEAR menegaskan bahwa secara global, sumber alami radiasi tetap menjadi kontributor terbesar terhadap paparan radiasi publik. Paparan dari sumber buatan umumnya jauh lebih rendah, kecuali pada kejadian luar biasa seperti kecelakaan radiologi besar.
Kepala PRTKMMN BRIN, Heru Prasetio, menekankan variasi radiasi alam di berbagai belahan dunia merupakan fenomena geologis alami. Secara global, rata-rata paparan radiasi alam sekitar 3 mSv per tahun. Sebagian besar berasal dari radon yang terhirup melalui pernapasan beserta partikel hasil peluruhannya.
“Temuan ini memperlihatkan bahwa Indonesia melalui BRIN berkontribusi dalam pemutakhiran basis data global mengenai paparan radiasi alam lewat studi di Mamuju, sekaligus memperkaya pemahaman internasional tentang variasi radiasi latar belakang di dunia,” tegas Heru.
UNSCEAR 2024 Report Volume II memuat Scientific Annex B: Evaluation of Public Exposure to Ionizing Radiation, sebagai lampiran ilmiah kedua yang menjadi dasar laporan UNSCEAR kepada Majelis Umum PBB.
Dalam Annex B tersebut, UNSCEAR menyajikan penilaian global paling komprehensif hingga saat ini mengenai dosis radiasi yang diterima masyarakat dari sumber alam maupun buatan.
Evaluasi ini disusun berdasarkan data survei global UNSCEAR serta tinjauan literatur ilmiah periode 2007–2022. Analisisnya mencakup paparan dari radon dan thoron beserta turunannya, radionuklida terestrial dalam tanah dan material bangunan, radiasi kosmik, hingga paparan dari industri berbasis Naturally Occurring Radioactive Material (NORM).
Selain itu, laporan ini juga mengkaji paparan yang berasal dari sumber buatan seperti lepasan radioaktif dari fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir dan siklus bahan bakarnya, penggunaan non-energi radionuklida, situs legasi militer maupun sipil, kecelakaan radiologi masa lalu, serta paparan selama transportasi bahan radioaktif.
Pada kesempatan tersebut, Heru mengapresiasi Tim Riset Mamuju yang bertugas dalam survei paparan radiasi yaitu Eka Djatnika Nugraha sebagai Peneliti Ahli Madya PRTKMMN sekaligus National Contact Point Indonesia untuk UNSCEAR tentang Public Exposure, serta Untara, Dadong Iskandar, dan Wahyudi.
Tim ini berperan dalam melakukan pemetaan dosis radiasi, pengukuran radon, serta pengambilan sampel tanah pada sejumlah titik HNBRA yang menjadi fokus evaluasi UNSCEAR. (Sumber: brin.go.id, Ilustrasi: ChatGPT)
Paparan Radiasi Alam Mamuju 9 Kali Rata-Rata Dunia, Masuk Laporan UNSCEAR 2024
