Bukan Hanya Ikan Sapu-Sapu, 18 Spesies Asing Invasif Ancam Perairan Indonesia

TechnologyIndonesia.id – Indonesia menghadapi ancaman serius dari penyebaran spesies asing invasif di perairan darat. Kondisi geografis tropis dengan suhu relatif stabil, produktivitas tinggi, serta ekosistem perairan yang beragam membuat Indonesia menjadi “surga ekologis” bagi spesies non-lokal untuk berkembang pesat.

Berdasarkan publikasi ilmiah yang disusun oleh Rahmi Dina bersama tim pada 2022 berjudul “Distributional Mapping and Impacts of Invasive Alien Fish in Indonesia: An Alert to Inland Waters Sustainability”, tercatat sekitar 50 jenis ikan asing telah tersebar di perairan Indonesia, dengan 18 di antaranya memiliki sifat invasif.

Selain ikan sapu-sapu, salah satu ancaman ikan asing invasif yang paling disorot saat ini adalah ikan Red Devil. Spesies ini teridentifikasi merusak populasi ikan lokal di beberapa lokasi strategis seperti Danau Toba, Waduk Jatiluhur, dan Waduk Cirata.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Triyanto menjelaskan bahwa kondisi lingkungan perairan sangat menentukan keberhasilan spesies asing dalam beradaptasi dan berkembang. 

Perairan yang mengalami degradasi, seperti pencemaran, sedimentasi tinggi, atau perubahan habitat, cenderung lebih rentan terhadap invasi. Di sisi lain, karakteristik perairan tropis Indonesia yang memiliki suhu relatif stabil sepanjang tahun dan produktivitas tinggi justru mempercepat kolonisasi spesies asing.

“Lingkungan tropis menyediakan sumber pakan melimpah dan habitat yang beragam, sehingga menjadi semacam ‘surga ekologis’ bagi spesies asing. Hal ini memperbesar tekanan terhadap keanekaragaman hayati lokal,” jelas Triyanto dalam Media Lounge Discussion (MELODI) bertema “Dibalik Ikan Sapu-Sapu: Gelombang Spesies Asing di Perairan Indonesia” di Jakarta pada Kamis (30/4/2026).

Salah satu contoh paling nyata adalah ikan sapu-sapu yang kini banyak ditemukan di berbagai sungai, termasuk Sungai Ciliwung. Spesies ini dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap kualitas air buruk dan kadar oksigen rendah.

Tak hanya itu, ikan sapu-sapu juga memiliki tingkat reproduksi tinggi, perilaku menjaga telur yang meningkatkan keberhasilan hidup larva. Tubuhnya dilapisi lempeng tulang yang membuatnya relatif tahan terhadap predator.

Minimnya pemanfaatan ikan ini oleh masyarakat memperparah kondisi. Populasinya terus meningkat tanpa kontrol, sehingga berpotensi menekan populasi ikan lokal sekaligus merusak struktur ekosistem perairan.

Pengendalian Ikan Invasif

Menurut Triyanto, pengelolaan spesies asing invasif harus dilakukan melalui pendekatan terpadu yang mencakup pencegahan, pengendalian, dan pemanfaatan. Upaya pencegahan dilakukan melalui pengawasan ketat terhadap introduksi spesies baru serta edukasi publik agar tidak melepas ikan non-lokal ke perairan umum.

Pengendalian populasi dapat dilakukan melalui penangkapan intensif atau eradikasi lokal di wilayah tertentu. Di sisi lain, pemanfaatan spesies invasif sebagai bahan baku pakan, pupuk, atau produk industri dinilai dapat menjadi solusi tambahan untuk menekan populasinya.

Secara strategis, pengendalian spesies invasif perlu dilakukan dalam dua horizon waktu. Dalam jangka pendek (1–2 tahun), langkah yang dapat diambil meliputi monitoring rutin, identifikasi habitat, penangkapan massal, edukasi masyarakat, serta eksplorasi pemanfaatan alternatif.

Sedangkan dalam jangka panjang (3–10 tahun), diperlukan upaya lebih sistematis seperti restorasi habitat, peningkatan kualitas air, reintroduksi ikan lokal, penguatan regulasi, riset lanjutan, serta kolaborasi multipihak.

Triyanto menegaskan, tanpa intervensi yang terencana dan berkelanjutan, invasi spesies asing berpotensi mengancam keberlanjutan sumber daya perairan darat Indonesia.

“Ini bukan sekadar isu keanekaragaman hayati, tetapi juga menyangkut ketahanan ekosistem dan sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada perairan,” sebutnya.

Tidak Semua Spesies Asing Berbahaya

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyudewantoro, menekankan bahwa tidak semua spesies asing bersifat berbahaya. Namun demikian, setiap spesies tetap memiliki potensi menjadi invasif tergantung pada kondisi lingkungan dan karakter biologisnya.

Beberapa ikan seperti ikan mas, mujair, nila, dan lele dumbo (Clarias gariepinus) justru memiliki nilai ekonomi tinggi dan telah dimanfaatkan luas di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa spesies asing tetap dapat memberikan manfaat jika dikelola dengan baik.

“Karena itu, prinsip kehati-hatian harus diterapkan dalam setiap upaya introduksi spesies. Sebelum didatangkan, perlu dilakukan kajian komprehensif terkait kemampuan reproduksi, toleransi lingkungan, hingga interaksinya dengan spesies lokal,” jelas Gema.

Ia juga menyoroti pentingnya aspek kesehatan ikan untuk mencegah masuknya patogen atau parasit baru ke dalam ekosistem perairan Indonesia. Selain itu, sistem pemeliharaan yang terkontrol perlu disiapkan guna mencegah pelepasan ke lingkungan alami yang berpotensi menimbulkan dampak ekologis.

Gema menegaskan pentingnya identifikasi spesies introduksi secara akurat melalui pendekatan morfologi dan teknologi DNA barcoding. Selain itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengungkap karakter biologis, asal-usul, serta distribusi spesies tersebut.

Analisis risiko juga menjadi komponen penting dalam mengidentifikasi dan mengelola potensi dampak ekologis, ekonomi, dan kesehatan.

Gema juga memberikan sejumlah strategi pengendalian populasi ikan sapu-sapu yang kini mulai mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. “Pertama, tangkap langsung secara periodik. Jadi terjadwal, rutin dan berkelanjutan. Cari musuh alaminya, contohnya ikan betutu atau Oxyeleotris marmorata,” ujarnya.

Pihaknya juga menekankan pentingnya restorasi lingkungan perairan yang rusak akibat aktivitas ikan sapu-sapu, serta edukasi masyarakat agar tidak sembarangan melepas ikan hias.

Terakhir, ia mendorong adanya implementasi nyata dari pemerintah terkait pengawasan. “Edukasi masyarakat tentang memelihara atau jangan sampai membuang ikan ke perairan umum,” tegasnya. (Ilustrasi: ChatGPT)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author