Tambak BUBK Kebumen Kembali Panen 46 Ton Udang Vaname

TechnologyIndonesia.id – Sektor perikanan budi daya Indonesia kembali mencatatkan capaian positif. Kawasan Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Kebumen, Jawa Tengah, sukses melakukan panen lanjutan sebanyak 46 ton udang vaname.

Hasil tersebut berasal dari panen parsial pada 32 petakan tambak. Panen kali ini merupakan siklus produksi ke delapan yang diharapkan menjadi pendorong tumbuhnya industri udang nasional yang modern dan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu mengatakan hasil produksi BUBK Kebumen terus menunjukkan tren peningkatan dengan kualitas udang yang sangat baik.
 
“Ini bukti bahwa sistem budidaya yang dijalankan sudah sesuai standar, termasuk pengelolaan lingkungan melalui IPAL,” ujar Tb Haeru Rahayu, dalam siaran resmi di Jakarta, Minggu (3/5/2026).

Pria yang akrab disapa Tebe itu juga turun langsung meninjau proses panen di Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan, Kebumen, pada Jumat (1/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia memastikan penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) berjalan optimal.

Secara bertahap, produksi di kawasan tambak BUBK Kebumen menunjukkan perkembangan signifikan. Dari total 139 kolam, seluruhnya kini telah aktif beroperasi.

Memasuki siklus kedelapan, panen parsial telah dilakukan sebanyak tiga kali, masing-masing sebesar 12 ton, 15 ton, dan meningkat menjadi 19 ton. Secara akumulatif, total produksi sementara mencapai 46 ton dari 32 petak tambak, dengan ukuran udang berkisar size 35–40.
 
Tak hanya dari sisi kuantitas, kualitas udang juga dinilai unggul dan memenuhi standar pasar, bahkan menarik minat pembeli yang datang langsung ke lokasi. Kondisi ini menjadi indikator kuat keberhasilan sistem budidaya yang efisien dan terkontrol.

Penanggung jawab teknis BUBK Kebumen, Iwan Sumantri menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan menjadi prioritas utama dalam operasional tambak.

“Sistem IPAL berjalan dengan baik. Indikatornya terlihat dari kualitas air yang tetap terjaga dan tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan. Ini menjadi komitmen kami agar budidaya tetap produktif sekaligus berkelanjutan,” jelas Iwan.
 
Ia menambahkan, seluruh proses mulai dari intake, tandon, hingga on-farm dan IPAL dijalankan sesuai standar operasional untuk memastikan keberlanjutan produksi dan keamanan lingkungan.
 
BUBK Kebumen juga berperan sebagai pusat pembelajaran bagi pembudidaya. Kehadirannya mendorong transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
 
Salah satu petambak lokal, Andes Wahyabremudho, mengaku merasakan manfaat langsung dari keberadaan BUBK. Selain peningkatan pengetahuan teknis, kolaborasi antarpetambak juga semakin kuat dan produktivitas usaha meningkat signifikan. 
 
“Dengan adanya BUBK, kami bisa banyak belajar dari sisi teknis. Ilmu baru, sharing dengan tim teknis, sampai peningkatan kualitas budidaya sangat terasa. Dampak positifnya jauh lebih banyak,” ungkap Andes. 
 
Ia menambahkan, keberadaan kawasan ini juga membuka peluang kolaborasi antarpetambak serta mendorong peningkatan hasil produksi secara berkelanjutan.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author