![]()
TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat pengembangan riset genetika fauna akuatik sebagai upaya mendukung keberlanjutan sektor perikanan nasional. Salah satu fokus riset yang dikembangkan ialah interspecific hybridization pada kepiting bakau (Scylla spp.) sebagai pendekatan pemuliaan untuk menghasilkan benih unggul dan mendukung keberlanjutan industri budidaya di Indonesia.
Pengembangan teknologi tersebut menjadi topik utama dalam Sharing Session Zoopedia Series #19 yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong pada Kamis (18/6/2026).
Forum ini mempertemukan para peneliti, akademisi, hingga pelaku industri budidaya dari Indonesia dan Malaysia untuk bertukar pengalaman mengenai perkembangan riset dan teknologi budidaya kepiting bakau.
Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Delicia Y. Rahman menegaskan bahwa kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, pengelolaannya perlu didukung oleh riset ilmiah agar pemanfaatannya tetap berkelanjutan.
Menurut Delicia, keberhasilan budidaya tidak hanya bergantung pada kualitas lingkungan perairan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kualitas genetik indukan dan program pemuliaan yang tepat.
“Kelompok Riset Genetika Fauna Akuatik BRIN secara konsisten melakukan berbagai kegiatan ilmiah guna mendukung keberlanjutan ekosistem perairan,” ujar Delicia.
Ia menjelaskan bahwa Kelompok Riset Genetika Fauna Akuatik BRIN secara konsisten mengembangkan berbagai penelitian untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perairan sekaligus meningkatkan produktivitas sektor budidaya.
Selain itu, forum Zoopedia diharapkan menjadi wadah kolaborasi lintas negara yang mampu memperkuat transfer pengetahuan antara peneliti, perguruan tinggi, lembaga riset, dan pelaku industri sehingga inovasi yang dihasilkan dapat lebih cepat diterapkan di lapangan.
Hibridisasi Masih Relevan di Tengah Kemajuan Teknologi Genomik
Peneliti PRZT BRIN, Muhammad Nur Syafaat, menjelaskan bahwa interspecific hybridization merupakan teknik pemuliaan konvensional melalui persilangan dua spesies berbeda untuk memperoleh keturunan dengan karakter unggul.
Karakter tersebut antara lain meliputi pertumbuhan yang lebih cepat, ketahanan terhadap penyakit, serta potensi efisiensi dalam proses budidaya.
Menurutnya, meskipun teknologi molecular breeding, seperti marker-assisted selection dan genomic selection, berkembang pesat, pendekatan hibridisasi tetap relevan sebagai strategi pemuliaan yang dapat dikembangkan secara komplementer.
Nur menegaskan bahwa penerapan hibridisasi harus dilakukan secara terkendali karena berpotensi menimbulkan dampak ekologis apabila varietas hasil persilangan terlepas ke habitat alami.
“Hibridisasi tidak boleh dilakukan sembarangan. Kontrol yang ketat sangat diperlukan agar varietas hibrida tidak terlepas ke alam dan mengganggu kelestarian serta keamanan populasi asli,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa proses hibridisasi masih menghadapi sejumlah kendala biologis. Sebelum pembuahan, hambatan dapat berupa isolasi ekologi, temporal, perilaku, mekanis, maupun gametik.
Setelah pembuahan, embrio hasil persilangan juga kerap gagal berkembang. Untuk meningkatkan peluang keberhasilan proses tersebut, teknologi Artificial Insemination (AI) dan In Vitro Fertilization (IVF) terus dikembangkan.
Ketidakstabilan Suplai Benih Kepiting Bakau
Nur mengungkapkan bahwa industri budidaya kepiting bakau hingga kini masih menghadapi persoalan utama berupa ketidakstabilan pasokan benih. Kondisi tersebut menyebabkan petambak masih bergantung pada benih yang diperoleh dari alam.
“Karena itu, pemuliaan kepiting bakau yang dilakukan secara terkontrol diharapkan dapat menghasilkan benih unggul dengan pertumbuhan cepat dan efisiensi pakan tinggi, sekaligus menjaga kelestarian populasi asli kepiting bakau di benua maritim Indonesia,” ujarnya.
Selain memaparkan hasil riset BRIN, forum tersebut juga menghadirkan Amin Safwan Adnan dari Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology, Malaysia yang menekankan bahwa kualitas air merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan budidaya kepiting bakau.
Kehadiran narasumber dari Malaysia memperkaya diskusi mengenai pengembangan teknologi budidaya fauna akuatik melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan di tingkat regional.
Melalui penguatan riset genetika, pengembangan teknologi pemuliaan, serta kolaborasi internasional, BRIN terus mendorong lahirnya inovasi untuk mendukung budidaya kepiting bakau yang berkelanjutan sekaligus menjaga kelestarian sumber daya hayati perairan Indonesia. (Sumber: brin.go.id)

