Percepat Transfer Teknologi Padi, IRRI Buka Kantor di Indonesia

Bogor, Technology-Indonesia.comThe International Rice Research Institute (IRRI), sebuah lembaga penelitian padi internasional secara resmi membuka kantor IRRI Indonesia, di Bogor, Jawa Barat. Kantor baru ini akan mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi padi yang sudah berlangsung selama ini

Pembukaan kantor IRRI Indonesia ditandai penguntingan pita oleh Direktur Jenderal IRRI, Dr. Matthew Morell dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Fadjry Djufry di Bogor pada pada Senin (1/4/2019). Tonggak sejarah ini didahului dengan penandatanganan perjanjian negara tuan rumah antara IRRI dan Balitbangtan pada 2018.

Kesepakatan tersebut menyerukan secara bersama-sama saling berbagi inovasi-inovasi penelitian, keahlian, dan dukungan kebijakan untuk membantu Indonesia mencapai tujuan swasembada beras dan meningkatkan penelitian padi. Kerjasama juga dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pelatihan, produksi beras, dan mata pencaharian berbasis padi, dalam menghadapi perubahan iklim dan kurang gizi di Indonesia.

“Kami berkomitmen untuk bekerjasama dengan Badan Litbang Pertanian dan mitra nasional untuk mendorong penelitian yang siap di masa depan dan kolaborasi kebijakan dan membantu Badan Litbang menyampaikan visi mereka tentang dampak positif yang langgeng dalam kehidupan petani dan perekonomian Indonesia,” tutur Morell.

Dalam beberapa tahun terakhir, terangnya, berbagai tantangan bermunculan, termasuk menurunnya sumber daya air, kekurangan tenaga kerja, perubahan pola penggunaan lahan, pertumbuhan populasi dan dampak perubahan iklim terus menghambat peran Indonesia dalam perekonomian beras dunia.

IRRI memperkirakan Indonesia akan membutuhkan 38 persen lebih banyak beras dalam 25 tahun mendatang. Artinya, hasil rata-rata 5,1 ton per hektare harus naik menjadi lebih dari 6 ton per hektare untuk mengisi kesenjangan atau solusi alternatif perlu dikembangkan.

Dalam peran barunya memimpin Balitbangtan, Fadjry Djufry berupaya mengatasi kesenjangan ini melalui penggunaan teknologi pertanian presisi dan kolaborasi program.

“Tantangan-tantangan ini telah mempengaruhi petani dan konsumen Indonesia selama bertahun-tahun dalam sektor perpadian. Selama 50 tahun terakhir, dengan adanya perantaraan IRRI telah membantu kami mengatasinya secara signifikan. Kami ingin terus mengeksplorasi potensi manfaat lain dari kemitraan ini. Saya berharap kantor ini dapat lebih mempercepat upaya bersama kami untuk mencapai target yang kami tetapkan,” kata Djufry.

Varietas padi IRRI telah secara signifikan meningkatkan produksi beras Indonesia. Varietas padi yang paling baru dirilis seperti Inpari 30 Ciherang Sub1, Inpari 34, 35, 42-43 GSR dan INPARI IR NutriZinc. Dirilis pada tahun 2018, INPARI IR NutriZinc, dianggap sebagai varietas padi pertama yang mengandung seng pertama di Indonesia untuk mengatasi masalah stunting di negara ini.

Selama kunjungannya di Indonesia, Morrel juga berpartisipasi dalam konsultasi nasional Balitbangtan – IRRI untuk inisiatif ASEAN + 3 di Indonesia tentang “Solusi Genetik Padi untuk Ketahanan Iklim dan Penambahan Nilai di ASEAN.” Prakarsa evaluasi dan pengujian plasma nutfah padi ini diharapkan untuk menghasilkan 0,5 miliar USD setahun untuk negara-negara ASEAN.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author