Bogor, Technology-Indonesia.com – Fenomena perubahan iklim yang makin meningkat belakangan ini berdampak pada memperluas lahan salin. Untuk itu diperlukan pengembangan cara-cara pengendalian lahan salin yang prospektif. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanah (Balittanah) telah mengembangkan pupuk hayati yang membantu tanaman dalam mengurangi cekaman salinitas.
Lahan salin memiliki produktivitas rendah karena adanya hambatan pertumbuhan tanaman akibat kondisi garam yang tinggi. Lahan salin adalah tanah yang memiliki nilai EC (Electrical Conductivity) atau DHL (Daya Hantar Listrik) > 4 dS/m, nilai ESP (Exchangeable Sodium Percentage) < 15% atau nilai SAR (Sodium Adsorption Ratio) < 13 dan pH < 8,5.
“Lahan salin biasanya banyak terdapat di kawasan dekat pantai atau di Indonesia bagian timur yang curah hujan atau sumber airnya terbatas. Lahan salin kecenderungannya meluas sebagai dampak dari pemanasan global atau perubahan iklim,” kata Kepala Balittanah, Ladiyani Retno Widowati saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Pupuk Hayati Lahan Salin yang digelar secara daring pada Kamis (2/12/2021).
Bimtek ini merupakan bagian dari perayaan Hari Tanah Sedunia yang diperingatai setiap tanggal 5 Desember. Peringatan Hari Tanah Sedunia tahun ini mengangkat tema “Halt soil salinatizion, boost soil productivity” atau “Hentikan salinitas tanah, tingkatkan produktivitas tanah“.
Peneliti Mikrobiologi Tanah dari Balittanah, Edi Husen sebagai narasumber Bimtek menjelaskan penyebab salinitas antara lain tanah mendapat air irigasi yang banyak mengandung garam dan drainase tanah yang buruk sehingga terlalu banyak air menguap dari permukaan tanah. Penyebab lainnya, tanah secara alami mengandung garam dan sangat sedikit garam yang keluar dari tanah melalui air buangan, serta tanah di daerah dengan muka air tanah dangkal atau mendapat intrusi air laut (daerah pesisir pantai).
“Tanah salin ini akan terus meluas karena kekeringan semakin tinggi dimana air garam semakin banyak masuk ke daerah pedalaman, sehingga tanah yang tadinya belum masuk kategori salin lama-lama menjadi lahan salin. Pada tahun 2050 diperkirakan 50 persen tanah pertanian kita terdampak salinitas,” kata Edi Husen.
Meningkatnya kadar garam di zona perakaran, terangnya, menyebabkan air yang masuk ke akar tanaman menjadi sedikit dan bahkan air dari dalam tanaman tertarik keluar. Hal ini menyebabkan tanaman menjadi merana. “Pada tanaman yang tercekam salinitas akan terjadi ketidakseimbangan hara dan terjadi penuaan diri karena peningkatan hormon etilen (hormon pematangan) sehingga menyebabkan penurunan produktivitas,” imbuhnya.
Penanggulangan salinitas bisa dilakukan dengan dengan memperbaiki drainase tanah melalui olah tanah dalam, pencucian (leaching) garam dengan air irigasi tawar, mengurangi evaporasi menggunaan cover crop atau mulsa, aplikasi bahan kimia seperti gypsum, asam sulfur, sulfur, dan besi/aluminium sulfat, serta penggunaan mikroba (pupuk hayati) untuk mengurangi pengaruh cekaman.
Menurut Edi, penanggulangan lahan salin menggunakan cara teknis seperti pencucian, perbaikan drainase, dan aplikasi bahan kimia membutuhkan biaya yang cukup mahal. Alternatif yang bisa dilakukan yaitu penggunaan mikroba untuk pupuk hayati.
Beberapa Plant Growt Promoting Rhizobacteria (PGPR) mampu membantu tanaman mengendalikan cekaman lingkungan. Kemampuan mikroba tersebut terkait dengan karakter fungsionalnya seperti bakteri penghasil enzim 1-aminocyclopropane-1-carboxylate deaminase (ACC deaminase), produksi senyawa prolin, produksi eksopolisakarida (EPS), induksi gen ERD (early reponse to dehydration), dan lain-lain.
“Hasil penelitian terkini menunjukkan bahwa beberapa strain mikroba seperti bakteri, aktinomicetes dan fungi mampu mengendalikan cekaman biotik maupun abiotik. Bakteri tersebut dapat diformulasi menjadi pupuk hayati yang efektif dan sekaligus berperan membantu tanaman mengendalikan cekaman salinitas atau cekaman lingkungan lainnya,” terang Edi.
Balittanah telah melakukan penelitian penggunaan mikroba sebagai pupuk hayati sejak 2011. Dari hasil penelitian Balittanah telah didapatkan beberapa bakteri penghasil ACC deaminase yang berasal dari tanah, rhizosfer dan akar tanaman padi di lahan pertanian pesisir Indramayu dan telah diformulasikan menjadi pupuk hayati pengendali cekaman salinitas.
“Sampai sekarang kita masih terus mencari isolat-isolat terbaik karena tidak mudah mencari isolat yang baik dari segi kemampuan hidrolisis dan kemampuan daya tahan bersaing dengan mikroba alami di tanah. Kalau dia bagus tapi kurang kompetitif ya kurang berguna,” tuturnya.
Menurut Edi, mikroba penghasil ACC deaminase asal Indonesia mampu membantu tanaman mengendalikan cekaman salinitas dan memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai pupuk hayati. Balittanah telah menghaslkan empat prototipe pupuk hayati yang diformulasi dari 8 isolat yang sudah diverifikasi mampu memfiksasi N dan melarutkan P dan menghasilkan ACC deaminase, menghaslkan EPS, mampu hidup pada tekanan osmotik rendah. Keempat formulasi tersebut dikembangkan dengan bahan pembawa gambut dan talk yang selanjutnya diuji di lahan petani di Indramayu.
Saat ini Balittanah bekerjasama dengan PT Pupuk Kaltim untuk mengembangkan salah satu formulasi pupuk hayati lahan salin tersebut menjadi produk dengan nama Bio Salin yang sudah dipasarkan namun masih terbatas.