Hasil Panen Padi di Demfarm Serasi Sangat Menjanjikan

Batola, Technology-Indonesia.com – Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini sedang melaksanakan program strategis optimalisasi lahan rawa untuk pertanian melalui Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi). Program ini merupakan upaya Kementan untuk mengatasi penyusutan lahan baku sawah dan peningkatan kebutuhan pangan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) Fadjry Djufry menyampaikan hal tersebut dalam sambutan mewakili Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada Panen Perdana Padi di Demfarm Program Serasi di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Rabu (6/11/2019).

“Program Serasi merupakan program optimalisasi pengelolaan lahan rawa pasang surut/lebak melalui penerapan pertanian korporasi berbasis inovasi pertanian. Hal yang paling penting, selain inovasi teknologi adalah wujud dan watak dari korporasi itu sendiri, mulai kelembagaan maupun sistem produksi atau usaha taninya serta sistem korporasi agribisnisnya,” terang Fadjry.

Semuanya tentu diwujudkan dalam konteks pengembangan kawasan, karena lahan rawa pada umumnya merupakan hamparan luas dan hampir homogen dengan penduduk yang relatif terbatas dibanding lahan sawah irigasi.

Fadjry berharap panen perdana ini mampu memberikan teladan terbaik implementasi inovasi teknologi pada stakeholder untuk pengembangan rawa mendukung ketahanan pangan nasional dan menuju Lumbung Pangan Dunia 2045.

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry dalam Panen Perdana Padi di Demfarm Program Serasi di Desa Jejangkit Muara (6/11/2019).

Ketua Pelaksana Panen Perdana di Demfarm Serasi, Husnain mengatakan Kementan sejak 2017 mulai membuka lahan rawa yang selama ini dibiarkan menjadi hutan oleh petani di Desa Jejangkit Muara. Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) kemudian membangun infrastruktur pembukaan lahan dan sebagainya. Selanjutnya, Balitbangtan mulai membuat demfarm yang mengubah lahan tersebut menjadi lahan sawah.

“Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang dibarengi dengan Pekan Pertanian Rawa Nasional (PPRN) ke-2 kurang lebih setahun lalu, membawa berkah tersendiri bagi para petani di lahan rawa dan ketahanan pangan kita. Pembelajaran dan keragaan pertanian lahan rawa serta tampilan tanaman pada HPS serta keragaan berbagai teknologi inovatifnya telah mendorong pemerintah untuk memberi perhatian besar terhadap pengembangan lahan rawa buntuk mendukung ketahanan pangan nasional menuju Lumbung Pangan Dunia 2045,” katanya.

Pemerintah dengan dukungan penuh DPR RI, akhirnya sepakat melaksanakan Program Serasi. Menurutnya, dua kunci pengembangan lahan rawa tergantung pada inovasi teknologi dan pengembangan kelembagaan petani.

“Bagi Balitbangtan kesepakatan dan program pemerintah ini menjadi tantangan yang sangat prestisius untuk membuktikan keunggulan teknologi yang diperagakan. Hari ini merupakan hasil awal implementasi Program Serasi,” tutur Husnain yang juga menjabat sebagai Kepala Balai Besar Penelitan dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP).

Husnain mengatakan, tugas Badan Litbang Pertanian dalam mendukung Program Serasi diimplementasikan melalui kegiatan demfarm, superimpose dan pengembangan kelembagan korporasi, serta bimbingan dan pendampingan teknis. Kegiatan demfarm dan superimpose meliputi: pengelolaan lahan dan air untuk pengembangan sistem usaha pertanian, pengembangan budidaya padi, pengembangan budidaya sayuran, pengembangan budidaya itik dan ikan, penerapan mekanisasi pra dan pasca panen, dan penguatan kelembagaan petani dan pengembangan pertanian korporasi.

Menurut Husnain, sebagian lahan pertanian ini sudah dipanen 28 Oktober 2019 dengan hasil 6,4 ton-7,9 ton/ha GKP (gabah kering panen). Hasil ini sangat menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dibandingkan pertanian konvensional yang hasilnya 1,5 ton -3 ton/ha GKP. “Selain budidaya padi, petani juga bisa melakukan budidaya itik yang hasilnya untuk 1.000 ekor itik yang dipelihara selama setahun bisa mendapatkan keuntungan kurang lebih 70 juta per tahun. Serta, budidaya ikan yang bisa menambah pendapatan petani sekitar 6 juta setahun,” katanya.

Melihat hasil yang menjanjikan, menurut Husnain, tantangan ke depan adalah bagaimana mengimplementasikan teknologi pengolahan lahan rawa ke lahan yang lebih luas.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (THP) Provinsi Kalsel Syamsir Rahman menyampaikan bahwa sektor pertanian khususnya tanaman padi menjadi sektor yang layak untuk diunggulkan di Kalsel, terlebih sekarang pemerintah melalui Kementan telah mengembangkan Program Serasi.

Syamsir menerangkan bahwa Kalsel mendapat jatah pengembangan Program Serasi seluas 120 ribu hektare, khususnya di Barito Kuala hampir 60 ribu hektare. Pelaksanaan program Serasi di Kalsel tahun 2019 melibatkan 3 kabupaten utama yaitu Barito Kuala, Banjar, dan Tanah Laut. Serta kabupaten penyangga yaitu Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Balongan, Tabalong, dan Hulu Sungai Tengah.

“Program Serasi sangat membantu bagi petani-petani di Kalsel, yang tadinya hanya satu kali tanam menjadi dua kali tanam bahkan sudah ada yang sampai 3 kali tanam di Kabupaten Barito Kuala,” lanjutnya.

Menurut Syamsir, Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi penyangga beras nasional diurutan ke-10. Kalsel juga akan menjadi wilayah penyangga ibukota, jika nantinya ibukota pindah ke Kalimantan. Karena itu, pihaknya berharap dukungan dari Kementan untuk pengembangan pertanian modern berbasis teknologi khususnya untuk lahan rawa.

Pada panen perdana ini dilaksanakan penyerahan secara simbolis Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR) sebanyak 25 Unit dan Bibit Jeruk Siam Banjar sebanyak 5.000 pohon kepada perwakilan peserta. Selain itu dilaksanakan juga Bimbingan Teknis (Bimtek) di lokasi demfarm dengan materi pengenalan inovasi teknologi pengelolaan lahan rawa yang diikuti 250 petani dan penyuluh.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author