BRIN Ungkap Penyebab Embun Upas di Dieng dan Strategi Melindungi Tanaman dari Frost

Loading

TechnologyIndonesia.id – Fenomena embun upas atau embun es kembali menjadi perhatian masyarakat saat musim kemarau tiba di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Selain menghadirkan pemandangan yang memikat wisatawan, fenomena yang dikenal sebagai frost ini juga menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian karena dapat merusak tanaman hortikultura.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aris Pramudia menjelaskan bahwa embun upas terbentuk akibat kombinasi kondisi geografis, topografi, dan cuaca ekstrem yang terjadi di kawasan Dieng.

Dataran Tinggi Dieng berada pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, sehingga memiliki tekanan udara dan kerapatan atmosfer yang lebih rendah dibandingkan wilayah dataran rendah. Kondisi tersebut membuat suhu udara lebih mudah turun hingga mencapai titik beku.

“Selain karena tiupan angin pada puncak musim kemarau yang membawa udara dingin, langit cerah atau clear sky tanpa tutupan awan juga menjadi penyebabnya,” jelas Aris dalam Webinar Series ORKM bertajuk ‘Urgensi Mempertahankan Salju Dieng-Cartenz sebagai Indikator Ekosistem & Lingkungan’ pada Kamis (9/7/2026).

Bentuk wilayah yang cekung juga menyebabkan udara mengendap dan terjebak di dasar cekungan, sehingga tidak dapat mengalir keluar dari cekungan. Penyebab lainnya adalah adanya kondisi angin tenang pada dini hari dan terjadinya penurunan suhu ekstrem hingga mencapai titik beku.

Ancaman Serius bagi Pertanian Dieng

Di balik keindahannya, embun upas membawa dampak negatif bagi para petani. Frost di dataran tinggi Dieng ini telah mengakibatkan kerusakan pada tanaman pertanian setempat, terutama tanaman kentang dan tanaman sayuran lainnya.

Untuk itu, perlu adanya antisipasi dalam penanganan frost, mulai dari water sprinkling, yaitu dengan menyemprotkan air ke pertanaman, pemanasan langsung pada tanaman dalam skala luas tertentu, dan mengaduk udara atau meniupkan angin buatan untuk menciptakan sirkulasi udara.

Antisipasi lainnya yaitu memberi naungan pada tanaman, memilih tempat yang aman untuk menanam, hingga pemberian mulsa atau material penutup permukaan tanah yang digunakan untuk menjaga kelembapan, mencegah gulma (tanaman liar), dan menjaga suhu tanah.

“Di dataran tinggi Dieng, tanaman existing adalah tanaman pertanian hortikultura atau perkebunan dataran tinggi, seperti kentang, sayuran, teh, dan lainnya. Sehingga, disarankan untuk tetap mengembangkan tanaman existing tersebut dengan adanya antisipasi terhadap munculnya frost pada waktu-waktu tertentu,” ungkap Aris.

Teknologi Modifikasi Cuaca Jadi Bahan Pembelajaran

Dalam kesempatan yang sama, Aris membahas potensi penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di kawasan pegunungan. Ia membandingkan kondisi Dieng dengan kawasan Cartenz di Papua Tengah yang masih memiliki salju abadi.

Cartenz tidak memiliki potensi untuk pertanian karena tanaman yang tumbuh hanya lumut. Namun, tidak menutup kemungkinan ke depannya ada pengembangan teknologi yang tepat.

Menurut Aris, teknologi pengembangan pertanian di lokasi ini menunggu hasil penerapan pada lokasi yang sering terjadi fenomena embun upas seperti di dataran tinggi Dieng.

Menurutnya, pembuatan salju melalui TMC di Cartenz sangat diperlukan untuk pelestarian salju abadi yang kondisinya saat ini terus menyusut. Sebaliknya, TMC salju di dataran tinggi Dieng, bukan untuk menambah volume saljunya, melainkan untuk mengantisipasi terjadinya salju.

“Yang menjadi perhatian bersama adalah terdapat konflik kebutuhan adanya frost di Dieng antara sektor pertanian dan sektor pariwisata,” pungkas Aris. (Sumber: brin.go.id)

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *