BRIN Kenalkan 9 Inovasi Siap Komersialisasi di Ajang BGTI Series 3

TechnologyIndonesia.id – Upaya mempercepat hilirisasi riset nasional terus diperkuat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Melalui ajang BRIN Goes to Industry (BGTI) Series 3, sebanyak sembilan inovasi unggulan resmi diperkenalkan sebagai produk siap komersialisasi yang ditujukan untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi dalam negeri.

BGTI Series 3 yang mengusung tema “Sinergi Riset, Inovasi, dan Hilirisasi pada Xanthan Gum untuk Industri Migas; Aromatika; Kosmetik; dan Enzim” digelar di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta pada Kamis (16/4/2026).

BGTI menjadi langkah strategis BRIN dalam mempertemukan peneliti dengan pelaku industri guna mendorong pemanfaatan hasil riset menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia akademik, bisnis, dan pemerintah dalam membangun ekosistem inovasi nasional yang berdaya saing.

Kepala BRIN, Arif Satria menjelaskan, melalui program BRIN Goes to Industry, proses hilirisasi diintegrasikan dalam satu ekosistem, mulai dari identifikasi kebutuhan industri, validasi teknologi, hingga penjajakan kerja sama untuk komersialisasi.

Platform ini memungkinkan kami mendorong adopsi teknologi sekaligus menangkap kebutuhan riil industri sebagai dasar perumusan agenda riset ke depan,” jelasnya.

Untuk memperkuat proses tersebut, BRIN juga mengembangkan Rumah Inovasi Indonesia sebagai platform terpadu yang menghubungkan inovasi dengan industri dan mitra pembiayaan.

“Rumah Inovasi Indonesia berfungsi sebagai etalase inovasi, pusat jejaring, dan layanan satu pintu. Industri dapat mengakses teknologi, melakukan validasi, hingga menjajaki kerja sama dan lisensi dalam satu sistem yang terintegrasi,” tambah Arif.

9 Inovasi Unggulan

Fokus utama BGTI Series 3 adalah mendorong pemanfaatan bahan alam lokal sebagai solusi inovatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor komoditas strategis. Untuk itu, BRIN meluncurkan sembilan inovasi unggulan yang telah mencapai tingkat kesiapan teknologi (TKT) tinggi dan siap dikomersialisasikan bersama mitra industri.

Salah satu inovasi utama adalah xanthan gum nasional, biopolimer yang berperan penting sebagai aditif dalam fluida pengeboran minyak dan gas guna meningkatkan efisiensi operasi.

Selain itu, BRIN juga menghadirkan inovasi di bidang biosains terapan berupa berbagai enzim strategis, seperti enzim urease untuk pengerasan jalan, enzim protease untuk industri penyamakan kulit, enzim lakase untuk kebutuhan whitening agent gigi dan produk perawatan kulit, serta enzim pitase dan mananase untuk pakan ternak.

Di sektor hilir lainnya, BRIN memperkenalkan inovasi produk aromatika dan kosmetik berbasis sumber daya alam lokal. Produk-produk ini dikembangkan untuk menjawab tren pasar global yang semakin mengarah pada penggunaan bahan alami dan berkelanjutan dalam industri personal care.

Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian menegaskan kegiatan ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara riset dan implementasi industri, yang sering disebut sebagai “lembah kematian” inovasi.

“Melalui forum ini, kami mempertemukan logika ilmiah periset dengan logika investasi industri. BRIN menyediakan akses teknologi, sementara industri berperan dalam pengembangan pasar,” ujarnya.

Berbeda dengan forum diseminasi konvensional, BGTI Series 3 mengedepankan pendekatan collaborative decision-making melalui sesi business matching dan one-on-one meeting. Setiap potensi kerja sama yang muncul akan didokumentasikan dalam bentuk Letter of Interest (LoI) sebagai komitmen awal untuk tindak lanjut konkret.

Pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat proses hilirisasi inovasi, baik melalui skema lisensi teknologi maupun pengembangan produksi bersama antara BRIN dan mitra industri. Dengan demikian, hasil riset tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi dapat memberikan nilai tambah ekonomi secara nyata.

Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari berbagai sektor industri, termasuk migas, farmasi, kosmetik, serta asosiasi terkait. Kehadiran para pemangku kepentingan ini mencerminkan tingginya minat industri terhadap pemanfaatan hasil riset nasional.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author