Mahasiswa UGM Manfaatkan Graphene sebagai Instrumen Monitoring Kesehatan Lansia Terintegrasi Smartphone

TechnologyIndonesia.id – Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki tingkat urbanisasi tertinggi di dunia. Data United Nations menyebutkan bahwa persentase jumlah penduduk perkotaan mencapai 56,64% di tahun 2020.

Sementara anak atau kerabatnya merantau, para lansia yang menetap di daerah kerap luput dari perhatian sanak saudara mereka. Tak jarang, kondisi kesehatan orang tua yang usianya sudah lanjut terabaikan, padahal sistem organ sudah mengalami degenerasi.

Permasalahan tersebut menginspirasi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mencetuskan sebuah konsep futuristik dengan memanfaatkan nanomaterial graphene. Graphene yang banyak ditemukan pada arang pensil ternyata qualified untuk digunakan sebagai sensor biomedis.

Strukturnya yang berupa rantai karbon terkonjugasi membuatnya memiliki kemampuan dalam mengalirkan muatan listrik lemah. Ditambah, sifat fisiknya yang elastis, graphene dapat ditempelkan pada kulit tubuh sehingga tetap nyaman saat digunakan.

Afnan Syifa (Farmasi 2021) sebagai anggota mencetuskan ide bahwa, nanomaterial ini dapat dibuat sebagai sticker dengan bantuan polimer organik agar dapat ditempelkan pada permukaan kulit lansia untuk menangkap perubahan parameter fisiologi sepanjang hari.

Sedangkan, Muhammad Nino (Farmasi 2021)
selaku ketua peneliti, mencetuskan bahwa perubahan fisiologi yang dapat diterima oleh graphene sebagai sensor biomedis adalah kontaksi otot pernafasan, detak jantung, hidrasi kulit, dan suhu tubuh sehingga penyakit kronis seperti ISPA, serangan jantung, dan infeksi bakteri dapat dideteksi lebih dini. Dua ide tersebut menunjukkan tren positif dari dari graphene sebagai biosensor.

Surya Karna (Elektronika dan Instrumentasi 2023) menambahkan bahwa untuk mendukung kinerja alat agar dapat bekerja sepanjang hari perlu ditambahkan adanya sumber daya nanobaterai ion sodium. Baterai nano ini dapat memberikan perbedaan muatan melalui transfer ion natrium dengan tetap memberikan dimensi alat yang relatif kecil sehingga tetap nyaman digunakan.

Tak berhenti di situ, Pudyasta Satria (Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak 2022) mengusulkan untuk mengintegrasikan konsep sebelumnya dengan jaringan internet melalui microcontroller agar kedepannya dapat ditambahkan fitur integrasi ambulans darurat untuk pasien ketika sensor graphene menerima sinyal tak biasa dari dalam tubuh.

Terakhir, Alif Rizqullah (Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak 2022) mengusulkan agar lebih nyaman dalam kontrol pengoperasian alat sebagai instrumen monitoring kesehatan perlu adanya pencitraan dalam bentuk user
interface (UI).

Melalui UI, seseorang yang memiliki kerabat lansia dapat melakukan pemantauan kesehatan dari jarak jauh melalui website atau smartphone. Serta, kerabat juga mendapat notifikasi apabila kesehatan lansia mengalami penurunan.

Ide futuristik yang diinisiasi oleh kelima mahasiswa UGM ini dikompetisikan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) DIKTI cabang Gagasan Futuristik Tertulis (GFT) dalam bentuk proposal dengan judul `AI-Integrated Smart Graphene Electronic Sticker: Konsep Monitoring Kesehatan Berbasis Nanomaterial Grafena Terintegrasi Smartphone sebagai Penanganan Dini Penyakit Geriatri`.

Dalam penulisannya, kelima mahasiswa UGM dibimbing oleh Prof. Dr. apt. Zullies Ikawati dari Fakultas Farmasi UGM yang kompeten di bidang Farmakologi dan Farmasi Klinis. Proposal yang memuat ide futursitik ini sukses meraih insentif dari SIMBELMAWA.

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author