![]()
TechnologyIndonesia.id – Pemalsuan susu masih menjadi ancaman serius bagi keamanan pangan dan kesehatan masyarakat. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan metode deteksi cepat yang mampu mengidentifikasi adanya bahan pencemar seperti melamin dan urea pada produk susu.
Inovasi ini mengombinasikan teknologi elektrokimia dan kemometrik untuk menghasilkan sistem deteksi yang cepat, akurat, dan berpotensi diterapkan langsung di lapangan. Kehadiran teknologi tersebut diharapkan dapat memperkuat pengawasan mutu pangan sekaligus melindungi konsumen dari risiko kesehatan akibat konsumsi susu yang dipalsukan.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Budi Riza Putra menjelaskan bahwa susu merupakan salah satu produk pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat, namun juga rentan menjadi sasaran praktik pemalsuan.
Menurutnya, melamin dan urea sering digunakan untuk meningkatkan kadar nitrogen sehingga produk tampak memiliki kualitas protein yang lebih baik daripada kondisi sebenarnya.
“Pengembangan metode deteksi yang cepat dan akurat menjadi langkah penting untuk memastikan keamanan produk susu yang beredar di masyarakat” ujar Budi dikutip dari laman brin.go.id pada Jumat (26/05/2026).
Melamin dan Urea Berisiko bagi Kesehatan
Budi mengingatkan bahwa melamin dan urea bukanlah bahan yang aman untuk dikonsumsi dalam jumlah tertentu. Melamin diketahui dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius, terutama bagi bayi dan anak-anak.
Paparan melamin dapat menyebabkan pembentukan batu ginjal, gagal ginjal akut, bahkan berujung pada kematian dalam kasus yang parah. Sementara itu, konsumsi urea secara berlebihan dapat memicu gangguan metabolisme, masalah pada sistem pencernaan, serta berbagai gangguan kesehatan jangka panjang lainnya.
Karena itu, keberadaan teknologi yang mampu mendeteksi kedua senyawa tersebut secara cepat menjadi sangat penting dalam rantai pengawasan keamanan pangan.
Menggabungkan Elektrokimia dan Kemometrik
Pengembangan metode ini mengkombinasikan teknik elektrokimia dengan pendekatan kemometrik. Teknik elektrokimia digunakan untuk memperoleh sinyal khas dari sampel susu.
Kandungan asam amino dalam susu dapat mengalami proses oksidasi dan reduksi sehingga menghasilkan pola pengukuran elektrokimia yang spesifik.
“Ketika susu dicampur dengan melamin atau urea, pola sinyal yang dihasilkan dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan kadar atau tingkat pemalsuan,” jelasnya.
Namun, pola sinyal tersebut tidak dapat dibedakan secara visual dan memerlukan analisis lebih lanjut untuk mengidentifikasi perbedaannya. Karena itu, digunakanlah pendekatan kemometrik untuk mengolah data hasil pengukuran elektrokimia.
Dalam penelitian tersebut, Budi menggunakan beberapa metode analisis statistik, yaitu Principal Component Analysis (PCA), Partial Least Squares Regression (PLSR), dan Hierarchical Cluster Analysis (HCA).
PCA digunakan untuk mereduksi dimensi data dan memvisualisasikan perbedaan pola antara susu murni dan susu yang telah dicampur melamin atau urea. Sementara itu, PLSR digunakan untuk membangun model prediksi kadar bahan pencemar dengan tingkat akurasi yang tinggi.
“Adapun HCA berfungsi mengelompokkan sampel berdasarkan kemiripan respons elektrokimianya,” imbuhnya. Kombinasi ketiga metode tersebut memungkinkan sistem mendeteksi dan mengklasifikasikan sampel susu secara lebih presisi.
Berpotensi Menjadi Alat Deteksi Lapangan
Keunggulan lain dari metode yang dikembangkan BRIN adalah kemudahannya untuk diterapkan di luar laboratorium. Pengukuran dilakukan menggunakan potentiostat portabel yang terhubung dengan elektroda portabel sehingga tidak memerlukan fasilitas laboratorium yang rumit.
Potensi ini membuka peluang pengembangan alat deteksi cepat yang dapat digunakan langsung di lokasi produksi maupun pengumpulan susu.
“Penggunaannya memungkinkan dilakukan langsung di sentra pengumpulan susu atau koperasi peternak untuk melakukan skrining mandiri terhadap kualitas susu sebelum diproses lebih lanjut,” ungkapnya.
Budi berharap keberadaan teknologi deteksi cepat ini dapat mendukung upaya pengawasan mutu pangan sekaligus melindungi konsumen dari risiko kesehatan akibat konsumsi susu yang telah dipalsukan. (Sumber: brin.go.id)

