Bogor, Technology-Indonesia.com – Dr. Ir. Amran Muis, MS dikukuhkan menjadi profesor riset bidang hama dan penyakit tanaman oleh Majelis Pengukuhan Profesor Riset Kementerian Pertanian (Kementan) di Bogor pada Selasa (1/9/2020). Amran Muis merupakan profesor riset ke 561 secara nasional dan profesor riset ke 145 di lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementan.
Pada acara pengukuhan profesor riset, Amran Muis menyampaikan orasi berjudul “Teknologi Inovatif Pengendalian Penyakit Utama Tanaman Jagung yang Ramah Lingkungan untuk Meningkatkan Produksi Nasional”. Amran berhasil mengembangkan inovasi teknologi pengendalian penyakit jagung terpadu dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan biopestisida Bacillus subtilis.
“Inovasi ini diintegrasikan dengan varietas tahan rakitan Balitbangtan yang dapat memperpanjang durabilitas ketahanan varietas dan dapat menyelamatkan produktivitas 27,03%,” terang Amran.
Inovasi ini dapat menekan perkembangan penyakit bulai sebesar 10%-63.1%, hawar daun maydis sebesar 32,3%, hawar pelepah dan upih daun sebesar 18,5%-20,1% dan busuk batang fusarium sebesar 46,3% di lapangan. Formulasi B. subtilis yang diberi nama TRIBAS ini merupakan konsorsium dari beberapa isolat B. subtilis yang telah menunjukkan kinerjanya terhadap pengendalian penyakit utama jagung.
Amran juga berkontribusi dalam pelepasan sejumlah varietas unggul baru jagung hibrida melalui pengujian galur/calon varietas terhadap penyakit utama. Ia juga berhasil memetakan spesies-spesies patogen penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung di Indonesia.
Dengan peta penyebaran spesies penyebab penyakit bulai tersebut memungkinkan bagi pemulia dan peneliti untuk merakit dan menguji ketahanan galur/calon varietas toleran bulai berdasarkan spesiesnya serta perakitan teknologi yang spesifik lokasi. Hasil penelitian Amran memberikan kontribusi secara nasional dan dapat diandalkan dalam upaya peningkatan produksi jagung nasional.
Peneliti utama kelahiran Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, tanggal 10 Oktober 1958 ini adalah anak pertama dari tujuh bersaudara dari pasangan Siti Rahmatiah Sanusi (almh.) dan Abdul Muis Ali (alm.). Amran Muis menikah dengan Nurnina Noncidan dikaruniai tiga anak yaitu Fakhryadi Amran, Fadilah Amran, dan Farizah Dhaifina Amran.
Menamatkan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Pangkajene Kepulauan masing-masing pada tahun 1970 dan 1973; Sekolah Menengah Atas di Makassar tahun 1976. Selanjutnya, memperoleh gelar Sarjana Pertanian dan Magister Sains Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar masing-masing tahun 1983 dan 1992. Serta, memperoleh gelar Philosophy Doctor bidang Penyakit Tanaman dari University of the Philippines at Los Baños, Philippines pada tahun 2005.
Amran Muis mengikuti beberapa pelatihan terkait bidang kompetensinya, antara lain: Scientific Writing Workshop di Maros tahun 1985, Integrated Pest Management (IPM) Training di Philippines tahun 1994, Research Methodology and Application of Statistical Analysis System (SAS) di Los Baños, Philippines tahun 2003, dan Research Management Training Program di Australia tahun 2007.
Ia pernah menduduki jabatan struktural di lingkup Kementan sebagai Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah tahun 2006-2011. Sementara, jabatan fungsional peneliti diawali dari Ajun Peneliti Muda tahun 1990, Ajun Peneliti Madya tahun 1993, Peneliti Muda tahun 1996, Peneliti Madya tahun 2000, Ahli Peneliti Muda tahun 2005, Peneliti Utama IV/d tahun 2010, dan memperoleh jabatan Peneliti Utama IV/e bidang Hama dan Penyakit Tanaman tahun 2013.
Amran Muis telah menghasilkan 103 karya tulis ilmiah, baik yang ditulis sendiri maupun dengan penulis lainnya dalam bentuk buku, jurnal, dan prosiding, termasuk 21 diantaranya dalam bahasa Inggris.
Ikut serta dalam pembinaan kader ilmiah sebagai pembimbing skripsi (S1) pada Universitas Hasanuddin Makassar dan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, dosen pengajar S2 pada Universitas Tadulako Palu, serta penguji eksternal S3 pada Universitas Hasanuddin Makassar.
Ia aktif dalam organisasi Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (1984-sekarang) dan Himpunan Peneliti Indonesia (2019-sekarang). Amran Muis memperoleh tanda penghargaan Satyalancana Karya Satya XX Tahun (2012) dan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun (2017) dari Presiden RI.
Prof. Dr. Ir. Amran Muis, MS Kembangkan Inovasi Teknologi Pengendali Penyakit Utama Jagung
