BNPB Perkuat Ekosistem Kebencanaan dan Ketangguhan Berkelanjutan Melalui ADEXCO Expo 2026

Loading

TechnologyIndonesia.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat ekosistem kebencanaan nasional dan global melalui penyelenggaraan Asia Disaster Management & Civil Protection Expo (ADEXCO) 2026, sebagai bagian dari rangkaian Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series.

Kolaborasi strategis ini menjadi momentum krusial dalam mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk menciptakan sistem kebencanaan yang inovatif, mandiri, dan berkelanjutan.

Dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu (19/1/2026), Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati, menegaskan bahwa ADEXCO 2026 bukan sekadar pameran produk dan peralatan teknologi kebencanaan, melainkan sebuah ruang kolaboratif yang mempertemukan unsur pentaheliks.

“ADEXCO 2026 bukan sekadar pameran, melainkan ruang untuk mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, teknologi, dan masyarakat. Bencana semakin membutuhkan ekosistem industri yang tidak hanya menyediakan peralatan fisik, tetapi juga data, teknologi, inovasi pembiayaan, hingga tata kelola yang dapat diterapkan secara nyata dari hulu ke hilir,” ujarnya

ADEXCO 2026 dijadwalkan berlangsung pada 9–12 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta dengan mengusung tema besar “Sustainability for Industrial Transformation“. Rangkaian kegiatan ini dirancang secara komprehensif mencakup Exhibition & Outdoor Space Exhibition, ⁠Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR), Special Session & Resilience & Response Hub, ⁠Onsite Podcast & Program Edukasi, dan ⁠Run for Charity.

Untuk memastikan agenda ini berdampak strategis dari hulu ke hilir, BNPB telah melakukan pertemuan strategis dan menjajaki kolaborasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pertemuan tersebut membahas bagaimana sektor energi dan pertambangan dapat semakin terintegrasi dengan perspektif Pengurangan Risiko Bencana (PRB), mitigasi risiko kebencanaan industri, geofisika pertambangan, hingga pemulihan pascabencana.

Menuju puncak penyelenggaraan pada September 2026, BNPB bersama mitra telah membangun ruang dialog berkesinambungan sebagai fondasi kesiapsiagaan. Pada 29 April 2026, digelar Seminar Nasional Kebencanaan yang membahas kemandirian inovasi teknologi dan industrialisasi kebencanaan.

Selanjutnya ada rRangkaian NGOBAR (Ngobrol Pintar Bareng BNPB): Diskusi publik yang mengangkat isu-isu krusial seperti “Bukan Sekadar Sinyal” (komunikasi bencana), “Lompatan Teknologi Drone”, “Membangun Kembali Hunian Pascabencana”, hingga “Orkestrasi Tata Kelola Bencana Berkelanjutan”.

Selain itu ada ⁠Pembelajaran Ketangguhan di Yogyakarta yang mengangkat pengalaman 20 tahun pascagempa bumi Jogja (2006–2026) bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai contoh pembelajaran praktik baik resiliensi daerah.

Indonesia juga secara konsisten mengusung gagasan Sustainable Resilience (Ketangguhan Berkelanjutan) yang mengintegrasikan tiga agenda utama dunia: pengurangan risiko bencana (Sendai Framework), adaptasi perubahan iklim (Paris Agreement), dan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Gagasan ini telah diperjuangkan melalui berbagai forum internasional seperti G20, GPDRR Geneva 2025, hingga tingkat kawasan ASEAN melalui ASEAN Leaders’ Declaration on Sustainable Resilience. Sebagai pilar referensi, BNPB juga telah menyusun Sustainable Resilience Compendium (5 Volume Buku) yang merekam gagasan, tata kelola, kebijakan, investasi, hingga aksi nyata kebencanaan.

Melalui Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR), BNPB menegaskan bahwa ketangguhan bencana harus menjadi joint endeavor (upaya bersama) multi-pihak. Tidak ada satu institusi maupun satu negara pun yang mampu membangun resiliensi secara menyendiri tanpa kerja sama lintas sektor dan lintas negara.

ADEXCO 2026 dan Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) 2026 merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026, yang juga menghadirkan Construction Indonesia, Concrete Show South-east Asia – Indonesia, Mining Indonesia, Oil & Gas Indonesia, Water Indonesia, serta GIFA & METEC Indonesia.

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *