![]()
TechnologyIndonesia.id – Banjir bandang yang menerjang Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 21 September 2026, meninggalkan jejak kerusakan yang membentang dari lereng Gunung Talang hingga kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat.
Bencana yang dikenal masyarakat Minangkabau sebagai galodo ini membawa material berupa lumpur, pasir, batuan berukuran besar, hingga pepohonan tumbang yang menerjang wilayah di sepanjang jalur aliran.
Untuk mengungkap jejak bencana tersebut, Badan Informasi Geospasial (BIG) melakukan analisis spasial guna memetakan wilayah terdampak, menelusuri jalur pergerakan material, serta mengidentifikasi karakteristik medan dan tingkat kerawanan kawasan.
Direktur Pemetaan Tematik Badan Informasi Geospasial (BIG) Gatot Haryo Pramono menjelaskan, pemetaan pascabencana diperlukan untuk melihat bencana secara utuh. Analisis tidak hanya mencakup titik kerusakan, tetapi juga kondisi hulu, jalur aliran, bentuk medan, hingga kawasan yang menerima endapan.
“Data geospasial membantu kita memahami bagaimana material bergerak dari hulu menuju kawasan yang lebih rendah dan mengidentifikasi ruang yang memiliki keterpaparan tinggi,” terang Gatot pada Kamis (1/10/2026).
Menuruntya, informasi ini penting agar penanganan pascabencana tidak berhenti pada pembersihan material, tetapi menjadi dasar untuk memperbaiki tata ruang dan memperkuat mitigasi di wilayah yang memiliki ancaman serupa.
Analisis yang dilakukan BIG, lanjut Gatot, menggunakan foto udara beresolusi tinggi hasil akuisisi Tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dan Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI). Analisis juga memanfaatkan data hasil pengolahan Digital Elevation Model (DEM) serta Informasi Geospasial Tematik lintas sektor.
Melalui pengolahan data tersebut, BIG berhasil mengidentifikasi luasan wilayah terdampak, sebaran bangunan, karakteristik topografi, hingga keterkaitan lokasi bencana dengan kawasan rawan lahar Gunung Talang.
Wilayah Terdampak Galodo Arosuka
Hasil pemetaan BIG menunjukkan bahwa galodo Arosuka berdampak pada wilayah seluas 351.078,73 meter persegi atau sekitar 35,11 hektare. Koridor aliran debris membentang sepanjang 2,17 kilometer, dengan perbedaan ketinggian mencapai 434,09 meter.
Aliran tersebut bergerak dari wilayah hulu dengan ketinggian sekitar 1.338,50 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga dataran Arosuka pada ketinggian 904,42 meter.
Dampaknya tidak hanya terlihat pada bentang alam. Sebanyak 378 bangunan teridentifikasi terdampak langsung, dengan total luas tapak bangunan mencapai 42.171,92 meter persegi.
Kerusakan paling parah terkonsentrasi pada area yang berdekatan dengan jalur aliran, ketika material berukuran besar menghantam bangunan dan endapan lumpur serta pasir menutup kawasan permukiman.
Berada di Jalur Potensi Lahar
Temuan penting lainnya muncul ketika dilakukan overlay wilayah terdampak dengan peta kawasan rawan bencana Gunung Talang. Hasil analisis menunjukkan 81,55 persen atau sekitar 28,63 hektare wilayah terdampak berada di dalam zona potensi banjir lahar kategori tinggi.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa koridor bencana Arosuka memiliki keterkaitan kuat dengan jalur aliran material vulkanik yang secara geomorfologis telah terbentuk sebelumnya.
Saat hujan deras terjadi di kawasan hulu, material vulkanik yang tersimpan di lereng dapat kembali terbawa melalui sistem aliran menuju kawasan yang lebih rendah.
Kondisi geologi turut memperkuat kerentanan kawasan. Sekitar 74,29 persen wilayah terdampak berada pada formasi kipas alluvium. Sedangkan 24,24 persen lainnya berada pada satuan batuan gunung api muda.
Kipas aluvium merupakan endapan material, seperti pasir, kerikil, dan batu, yang terbawa aliran dari wilayah tinggi dan kemudian menumpuk saat aliran memasuki daerah landai.
Endapan ini relatif belum terkonsolidasi, sehingga lebih mudah tererosi dan terbawa aliran berenergi tinggi. Dari sisi geomorfologi, sekitar 80,67 persen wilayah terdampak merupakan dataran bergelombang yang berfungsi sebagai area penumpukan material ketika aliran debris memasuki medan yang lebih landai.
Sebaliknya, bagian hulu memiliki lereng yang jauh lebih curam dan menjadi zona pelepasan serta jalur transportasi material menuju Arosuka. Seluruh wilayah terdampak, seluas 35,11 hektare, berada di zona dengan tingkat kerentanan gerakan tanah menengah berdasarkan data Badan Geologi.
Artinya, kawasan tersebut masih perlu diwaspadai karena gerakan tanah dapat kembali terjadi, terutama saat hujan deras.
Pemetaan Jadi Dasar Pemulihan Pascabencana
Informasi Geospasial memiliki peran penting dalam menentukan langkah setelah fase tanggap darurat. Peta tidak hanya menggambarkan lokasi yang sudah terdampak, tetapi juga membantu mengidentifikasi ruang yang perlu dihindari, dilindungi, atau ditata kembali.
Gatot menegaskan bahwa keputusan rehabilitasi dan rekonstruksi perlu mempertimbangkan potensi ancaman di masa mendatang, bukan hanya berfokus pada pemulihan kondisi sebelum bencana.
“Data spasial digunakan untuk menentukan kawasan yang perlu direlokasi, lokasi yang membutuhkan perlindungan infrastruktur, serta ruang yang harus dipertahankan sebagai kawasan penyangga. Dengan begitu, proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat sekaligus mengurangi risiko bencana berikutnya,” ujar Gatot.
Rekomendasi BIG
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, BIG merekomendasikan empat kelompok intervensi. Pertama, penguatan tanggap darurat melalui pemantauan kondisi lereng dan alur Batang Lembang serta asesmen stabilitas longsoran sebelum pengerahan alat berat.
Kedua, penataan dan relokasi permukiman dari koridor yang memiliki ancaman tinggi. Ketiga, pembangunan infrastruktur pengendali sedimen, seperti sabo dam, check dam, dan kantong sedimen untuk mengurangi energi serta volume material yang bergerak menuju kawasan padat.
“Terakhir, perlu dilakukan penguatan mitigasi nonstruktural melalui sistem peringatan dini, integrasi informasi risiko ke dalam tata ruang, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat,” ucap Gatot.
BIG juga merekomendasikan pemasangan sistem early warning system yang mengintegrasikan penakar hujan otomatis, sensor ketinggian air, dan sensor getaran lahar. Sistem tersebut dapat mendukung peringatan lebih cepat kepada masyarakat di hilir ketika kondisi di hulu menunjukkan peningkatan ancaman.
“Dengan pendekatan berbasis data geospasial, pengalaman Arosuka dapat menjadi pijakan untuk menata kembali kawasan yang memiliki karakter ancaman serupa,” tutup Gatot.
Bagi BIG, pemetaan pascabencana bukan sekadar mendokumentasikan kerusakan, melainkan menyediakan dasar analitis untuk memastikan pemulihan berjalan seiring dengan upaya mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

