![]()
TechnologyIndonesia.id – Reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan dinilai memiliki prospek besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat konektivitas wilayah di Provinsi Banten. Selain menghadirkan moda transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, pengoperasian kembali jalur ini diperkirakan mampu meningkatkan mobilitas masyarakat maupun distribusi berbagai komoditas strategis.
Hal tersebut terungkap dalam hasil riset yang dipaparkan Peneliti Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas (PRKSDK) BRIN, Purwoko, pada Experience Sharing Session bertajuk “Reaktivasi Jalur Kereta Api untuk Pembangunan Desa” pada Jumat (31/7/2026).
Jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan sepanjang sekitar 56 kilometer dibangun pada 1906 dan berhenti beroperasi sekitar 1984 seiring bergesernya orientasi transportasi ke angkutan jalan.
Saat ini, reaktivasi lintas tersebut telah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025–2029. Konstruksi segmen awal direncanakan dimulai pada 2027, sedangkan keseluruhan proyek ditargetkan selesai dan beroperasi pada 2029.
Menurutnya, tujuan reaktivasi tidak sekadar menghidupkan kembali layanan kereta api. Lebih dari itu, proyek ini diharapkan mampu memperkuat konektivitas antarwilayah, memperlancar mobilitas penumpang dan barang, menyediakan transportasi yang lebih ramah lingkungan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sepanjang lintasan.
Potensi Lebih Besar daripada Tantangan
Dalam kajian tersebut, tim peneliti melakukan observasi langsung terhadap kondisi rel, stasiun, jembatan, dan fasilitas pendukung lainnya. Penelitian juga diperkuat melalui wawancara dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari PT Kereta Api Indonesia, pemerintah, operator hingga masyarakat. Analisis juga diperkuat dengan data sekunder berupa dokumen perencanaan wilayah dan kebijakan transportasi.
Hasilnya menunjukkan peluang reaktivasi sangat besar. Pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya mobilitas masyarakat, kemacetan lalu lintas yang terus bertambah, serta kebutuhan distribusi komoditas seperti hasil pertanian, hasil perikanan, hingga batu bara menuju PLTU Labuan menjadi faktor yang memperkuat urgensi pengoperasian kembali jalur tersebut. Selama ini distribusi berbagai komoditas tersebut masih mengandalkan transportasi jalan.
Di sisi lain, kereta api memiliki sejumlah keunggulan dibanding moda transportasi darat lainnya, antara lain kapasitas angkut yang besar, efisiensi distribusi, biaya yang relatif terjangkau, serta menghasilkan emisi yang lebih rendah sehingga lebih mendukung transportasi berkelanjutan.
Meski demikian, penelitian juga mencatat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Infrastruktur rel yang telah lama tidak digunakan mengalami kerusakan, sebagian jalur telah beralih fungsi menjadi jalan maupun kawasan permukiman, kebutuhan investasi pembangunan dan pemeliharaan cukup besar, serta adanya persaingan dengan moda transportasi lain.
Strategi Agresif untuk Merealisasikan Reaktivasi
Berdasarkan analisis Internal Factor Analysis Summary (IFAS) dan External Factor Analysis Summary (EFAS), strategi pengembangan berada pada Kuadran I atau strategi agresif. Posisi tersebut menunjukkan bahwa peluang pengembangan lebih besar dibandingkan hambatan sehingga reaktivasi jalur memiliki prospek yang kuat untuk direalisasikan.
Purwoko menambahkan, implementasi reaktivasi perlu disertai strategi penguatan keunggulan moda kereta api melalui peningkatan akses menuju stasiun, perbaikan kualitas layanan, integrasi dengan moda transportasi lain, serta sosialisasi kepada masyarakat.
“Reaktivasi jalur kereta api bukan hanya proyek transportasi, tetapi juga strategi pengembangan wilayah. Semestinya potensi tersebut dapat dioptimalkan,” ujarnya.
Dengan dukungan hasil riset yang menunjukkan prospek positif, reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan diharapkan tidak hanya menghadirkan alternatif transportasi yang lebih efisien, tetapi juga menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah Banten. (Sumber: brin.go.id, Ilustrasi: ChatGPT)

