![]()
TechnologyIndonesia.id – Pergerakan longsor di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, masih menjadi perhatian serius. Hasil pemantauan Badan Informasi Geospasial (BIG) menunjukkan luas area longsoran meningkat sekitar 40,3 persen dalam kurun waktu tujuh bulan, sejak November 2025 hingga Juni 2026.
Pemantauan dilakukan menggunakan citra satelit Sentinel-2 melalui platform Piksel yang dikembangkan Direktorat Pemetaan Tematik (DPT) BIG. Teknologi penginderaan jauh tersebut memungkinkan perkembangan gerakan tanah dipantau secara berkala tanpa harus selalu mengandalkan survei lapangan.
Hasil pemantauan menunjukkan area longsoran bertambah sekitar 11.177 meter persegi atau 40,3 persen sejak November 2025 hingga Juni 2026, meski laju perluasannya mulai melambat dalam tiga bulan terakhir.
Pemantauan berbasis penginderaan jauh dilakukan untuk merekam dinamika gerakan tanah secara berkala, sehingga pemerintah memiliki informasi spasial yang akurat dalam mengantisipasi dampak bencana terhadap masyarakat maupun infrastruktur.
Direktur Pemetaan Tematik BIG Gatot Haryo Pramono mengatakan, pemanfaatan citra satelit memungkinkan perkembangan longsoran dipantau secara objektif tanpa harus selalu bergantung pada survei lapangan. Melalui platform Piksel, BIG dapat memantau perubahan luas dan arah perkembangan longsoran secara berkala menggunakan citra satelit Sentinel-2.
“Informasi geospasial ini menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun langkah mitigasi, menentukan prioritas penanganan, serta mengantisipasi risiko terhadap infrastruktur dan permukiman di sekitar area terdampak,” ujar Gatot pada Jumat, 26 Juni 2026.
Perluasan Terbesar Terjadi pada Awal 2026
Berdasarkan hasil interpretasi citra satelit, luas longsoran relatif stabil pada November hingga Desember 2025, yakni sekitar 27.724 meter persegi. Memasuki Januari 2026, luas area meningkat menjadi 29.170 meter persegi, menandakan proses pergerakan tanah masih berlangsung.
Perubahan paling signifikan terjadi pada periode Januari–Februari 2026. Dalam rentang satu bulan, luas longsoran bertambah sekitar 7.026 meter persegi, dari 29.170 meter persegi menjadi 36.196 meter persegi.
Setelah itu, laju perkembangan mulai melambat. Luas longsoran tercatat mencapai 38.180 meter persegi pada Maret 2026 dan 38.901 meter persegi pada April 2026. Hingga pertengahan Juni 2026, tidak teridentifikasi lagi penambahan luas yang signifikan, sehingga area longsoran dinilai berada pada fase yang relatif stabil.
“Meski demikian, kondisi lereng tetap perlu diawasi karena berpotensi kembali aktif saat musim hujan berikutnya,” imbuh Gatot.
Meningkatnya Ancaman Terhadap Infrastruktur
Selain menunjukkan perubahan luasan, hasil pemetaan juga memperlihatkan arah perkembangan longsoran yang terus bergerak ke bagian selatan dan tenggara. Material longsoran cenderung berpindah menuju kaki lereng, sehingga memperluas wilayah terdampak dari bulan ke bulan.
Temuan tersebut juga mengungkap meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur. Area longsoran terus mendekati koridor Jalan Simpang Balik–Blang Mancung, menyebabkan jarak antara tepi longsoran dan badan jalan semakin menyempit.
“Kondisi tersebut meningkatkan risiko retakan, penurunan badan jalan, hingga terputusnya akses transportasi apabila pergerakan tanah kembali berkembang,” terang Gatot.
Gatot menambahkan, informasi geospasial tidak hanya menggambarkan kondisi yang telah terjadi, tetapi juga membantu memprediksi wilayah yang berpotensi terdampak sehingga upaya mitigasi dapat dilakukan lebih dini.
“Data spasial memberikan gambaran mengenai pola perkembangan longsoran dari waktu ke waktu. Dengan mengetahui arah pergerakan dan area yang berpotensi terdampak, instansi terkait dapat mengambil keputusan yang lebih cepat dan berbasis data untuk mengurangi risiko bencana,” katanya.
Fenomena yang Sempat Disebut Sinkhole
Longsoran di Kampung Pondok Balik menjadi perhatian publik setelah munculnya lubang raksasa yang oleh masyarakat luas sempat disebut sebagai sinkhole. Riwayat pergerakan tanah di kawasan tersebut sebenarnya telah teramati sejak awal 2000-an dan terus berkembang secara bertahap.
Pada Januari 2026, longsoran semakin mendekati jalan utama, hingga akhirnya memutus akses transportasi serta mengancam lahan pertanian dan infrastruktur di sekitarnya. Namun, hasil kajian ilmiah dari Badan Geologi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa fenomena tersebut bukan sinkhole dalam pengertian geologi.
Kawasan Ketol tidak tersusun atas batuan gamping yang lazim membentuk sinkhole, melainkan didominasi material vulkanik berupa tufa yang rapuh. Proses erosi bawah permukaan dan longsoran yang berlangsung secara bertahap menyebabkan lembah semakin melebar hingga membentuk lubang raksasa yang terlihat saat ini.
Melalui pemantauan berkala menggunakan platform Piksel, BIG berharap informasi geospasial dapat terus mendukung pemerintah pusat dan daerah dalam memahami dinamika gerakan tanah, memperkuat sistem mitigasi bencana, serta melindungi masyarakat dan infrastruktur yang berada di kawasan rawan longsor.

