![]()
TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan terobosan baru untuk mengatasi persoalan lahan pesisir yang terdampak rob di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Melalui program Minapadi Salin, BRIN berupaya mengembalikan produktivitas lahan pesisir yang selama bertahun-tahun tidak dapat dimanfaatkan akibat intrusi air laut dan genangan pasang.
Program yang mulai dijalankan pada 16 Juni 2026 ini menjadi salah satu contoh nyata pemanfaatan hasil riset untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Program yang dikembangkan bersama Pemerintah Kabupaten Batang, kementerian terkait, serta mitra industri ini mengintegrasikan budidaya padi toleran salinitas, ikan nila salin, dan rumput laut dalam satu sistem produksi terpadu.
Pendekatan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Yopi menegaskan bahwa penerapan Minapadi Salin merupakan bagian dari upaya BRIN mendorong hilirisasi hasil riset agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Program Minapadi Salin menunjukkan bahwa hasil riset dapat diimplementasikan secara nyata untuk menjawab tantangan di lapangan, khususnya pada lahan pesisir dengan tingkat salinitas tinggi. Pendekatan ini tidak hanya memulihkan produktivitas lahan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi kawasan,” ujar Yopi.
Mengubah Lahan Rob Menjadi Produktif
Kabupaten Batang menjadi salah satu daerah yang terdampak cukup serius oleh rob. Kondisi tersebut menyebabkan produktivitas pertanian menurun drastis, bahkan sebagian lahan tidak dapat dimanfaatkan selama beberapa tahun terakhir.
Melalui penerapan Minapadi Salin, BRIN mencoba mengubah paradigma bahwa lahan salin bukanlah lahan mati. Dengan teknologi dan pendekatan yang tepat, kawasan yang terdampak intrusi air laut masih memiliki potensi ekonomi yang besar.
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, menyampaikan bahwa kehadiran inovasi dari BRIN memberikan harapan baru bagi masyarakat pesisir yang selama ini terdampak rob.
“Tidak ada lahan yang benar-benar mati. Melalui inovasi seperti Bio Salin dan Minapadi Salin ini, lahan yang selama ini terdampak rob dapat kembali menjadi produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Terapkan Konsep Green Manufacturing
Keunggulan Minapadi Salin tidak hanya terletak pada integrasi sektor pertanian dan perikanan. Program ini juga menerapkan konsep Green Manufacturing yang dikembangkan BRIN melalui Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan.
Pendekatan tersebut mencakup pengelolaan sumber daya yang lebih efisien, penerapan prinsip ekonomi sirkular, serta evaluasi keberlanjutan melalui metode Life Cycle Assessment (LCA).
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan, Nugroho Adi Sasongko, menjelaskan bahwa konsep manufaktur berkelanjutan dapat diterapkan pada sektor pertanian dan perikanan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga memastikan efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan dampak lingkungan, dan penciptaan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat pesisir,” jelasnya.
Teknologi Pupuk Lepas Lambat
Selain sistem budidaya terpadu, BRIN juga menghadirkan inovasi teknologi pendukung untuk meningkatkan produktivitas lahan salin. Salah satunya adalah teknologi Slow Release Fertilizer (SRF) atau pupuk lepas lambat yang memungkinkan unsur hara tersedia secara bertahap sesuai kebutuhan tanaman, sehingga lebih efisien pada kondisi tanah berkadar garam tinggi.
Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Hens Saputra, menyampaikan bahwa teknologi pupuk lepas lambat menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan produktivitas pada lahan dengan tingkat salinitas tinggi.
“Melalui teknologi ini, nutrisi tanaman dapat dilepaskan secara bertahap sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan tanaman dan tidak mudah hilang akibat kondisi lingkungan,” ujarnya.
Di sisi lain, BRIN juga mengembangkan teknologi desalinasi air untuk menghasilkan air dengan kadar garam lebih rendah yang dapat dimanfaatkan dalam mendukung kegiatan budidaya di kawasan pesisir.
Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Alinandar, menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari sinergi berbagai pihak.
“Kolaborasi menjadi kunci dalam memastikan inovasi tidak berhenti pada tahap riset, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Program Minapadi Salin di Batang juga menjadi contoh kolaborasi lintas sektor dalam penerapan hasil riset, melibatkan pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, serta kelompok tani sebagai pelaku utama di lapangan.
Di masa depan, BRIN mendorong agar model Minapadi Salin ini dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan pendekatan berbasis riset dan inovasi, lahan salin yang selama ini dianggap marginal diharapkan dapat menjadi sumber pangan dan ekonomi baru yang berkelanjutan. (Sumber: brin.go.id)

