Cibinong, Technology-Indonesia.com -Serangan tawon ndas (Vespa affinis) terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Tercatat, serangan tawon itu terjadi di Boyolali, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo, Demak, Semarang, Pemalang, Tegal, dan Kudus.
Data Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Klaten menyebutkan selama kurun waktu 2017 hingga November 2019 sudah ada 10 korban meninggal sedangkan jumlah korban yang dirawat di rumah sakit akibat sengatan tawon ndas ini lebih dari 250 orang.
Kepala Bidang Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Rahmadi mengatakan Tawon Vespidae secara umum merupakan satwa predator meskipun tawon cenderung tidak agresif dan menyerang, kecuali diganggu atau merasa terganggu. Munculnya fenomena sengatan tawon ke kawasan pemukiman perlu ditangani secara bijak.
“Upaya pengendalian outbreak permasalahan dan penanganan satwa sudah menjadi salah satu arah kegiatan penelitian LIPI untuk menjaga keseimbangan dan keberlangsungan ekosistem dan ekologi,” ungkap Cahyo dalam media briefieng yang digelar di Gedung Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Kamis (5/12/2019).
Peneliti tawon Pusat Penelitian Biologi, Hari Nugroho, menjelaskan upaya penanganan dan pengendalian tawon perlu dilakukan secara tuntas hingga akar permasalahan.
“Pembasmian sarang tidak menjamin lingkungan terbebas dari sarang tawon, bisa jadi malah menimbulkan permasalahan ekologi,” ujar Hari.
Dirinya menjelaskan, kecenderungan banyaknya sarang tawon di daerah pemukiman bisa disebabkan hilangnya habitat alami tawon imbas pengalihan tata guna lahan, berkurangnya musuh alami atau predator tawon, perubahan iklim global dan faktor sumber makanan.
“Penyebab di atas diperkirakan menjadi penyebab berpindahnya populasi tawon ke daerah pemukiman sehingga menyebabkan meningkatnya potensi konflik antara tawon dengan manusia yang seringkali mengakibatkan jatuhnya korban jiwa,” katanya.
Hari menjelaskan, sengat pada tawon ndas betina berfungsi utama sebagai alat berburu mangsa, namun juga digunakan sebagai alat penahanan diri terakhir terhadap gangguan atau ancaman.
”Pada saat tawon menyengat, akan diikuti dengan dikeluarkannya zat kimia feromon yang berfungsi sebagai alarm bagi kawanannya bahwa ada ancaman terhadap koloni. Alarm ini akan mengundang tawon-tawon lain dalam satu koloni untuk ikut menyengat,” kata Hari.
Dirinya menjelaskan, satu tawon bisa menyengat beberapa kali, berbeda dengan lebah madu yang hanya bisa menyengat satu kali. “Biasanya satu individu yang menyengat pertama mengeluarkan feromon berbahaya yang disebut attack pheromone dengan maksud untuk mengundang individu-individu lain dari satu koloni untuk ikut menyengat bersama sama ” ujar Hari.
Dosis kecil dari sengatan satu atau dua ekor tawon mungkin hanya akan menimbulkan reaksi alergi lokal dengan gejala bengkak, rasa sakit, gatal. Jika tawon yang menyengat berjumlah banyak, maka bisa menyebabkan anafilaksis (reaksi alergi berat), cedera ginjal akut (Acute Kidney Injury), Rhabdomyolysis, gagal ginjal serta kegagalan multi organ lainnya.
“Apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat akan mengakibatkan kematian,” ungkap Hari.