Tim Puslitbangtan dan Balitkabi Survei Kelayakan Budidaya Porang di Madiun

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Tim survei Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Bogor dan Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Malang melakukan studi analisis sosio ekonomi budidaya porang di tiga kecamatan Kabupaten Madiun, Jawa Timur pada awal Maret 2020. Kecamatan Saradan, Dagangan dan Kare merupakan tiga kecamatan dipilih untuk mewakili perbedaan teknik budidaya, elevasi dan keberadaan naungan.

Survei bertujuan untuk memberikan rekomendasi teknik budidaya yang sesuai dengan wilayah pengembangan porang sekaligus sebagai informasi awal untuk memberikan masukan kepada pemerintah dalam membantu usaha tani porang.

Survei dilakukan dengan teknik wawancara kepada setiap petani porang yang memenuhi kriteria responden. Kriteria responden diantaranya petani telah melakukan budidaya porang minimal satu siklus dan telah melaksanakan panen umbi serta mendapatkan keuntungan dari hasil panennya. Dari kegiatan survei di tiga kecamatan tersebut tim peneliti berhasil mendapatkan data dari 103 responden.

Secara umum, di Kecamatan Saradan, porang dibudidayakan di lahan milik Perum Perhutani di bawah naungan tanaman keras seperti sonokeling, sengon, mahoni, dan jati. Tekstur tanah yang cukup gembur dan subur tidak memerlukan input pupuk dalam jumlah banyak. Budidaya porang di Saradan telah cukup lama dilakukan petani dan telah berlangsung beberapa siklus.

Pada awal tanam (siklus pertama), jarak tanam masih teratur, namun demikian memasuki siklus selanjutnya jarak tanam menjadi sangat rapat karena penambahan populasi dari katak/bulbil yang tidak ikut terambil saat panen. Hal ini disebabkan diantaranya: kemiringan lahan, seresah daun jati yang menutupi katak/bulbil yang jatuh ke tanah kemudian tumbuh liar, serta keterbatasan tenaga untuk memindahkan tanaman yang berasal dari katak/bulbil dan biji.

Di Kecamatan Dagangan, sebagian besar petani membudidayakan porang di bawah tegakan tanaman perkebunan seperti cengkeh, kakao, coklat, atau tanaman semusim seperti jagung. Sebagian kecil lainnya menanam porang di hamparan terbuka tanpa naungan. Walaupun kondisinya sama di bawah naungan, namun intensitas naungan di Kecamatan Dagangan lebih rendah dibandingkan dengan di Saradan.

Petani porang di Dagangan termasuk petani pemula, mereka mulai tergerak melakukan budidaya porang karena tergiur harga jual yang cukup tinggi. Di Kecamatan Dagangan kegiatan budidaya porang sudah cukup intensif meliputi: olah tanah, pengguludan, pemupukan, serta penyemprotan hama dan penyakit.

Di Kecamatan Kare, sebagian petani melakukan budidaya porang di hamparan terbuka tanpa naungan dan sebagian lagi menanam porang di bawah tegakan cengkeh, durian, dan jati. Seperti halnya petani di kecamatan Dagangan, petani di Kecamatan Kare juga telah membudidayakan porang secara intensif. Beberapa petani mengaku tidak memberikan pupuk kimia namun tetap memberikan pupuk organik.

Petani porang di Kecamatan Kare belajar budidaya porang dari petani di Kecamatan Saradan, tepatnya di Desa Sumberbendo. Seiring dengan nilai ekonomi komoditas porang yang semakin meningkat, diketahui semakin banyak petani lain yang mencoba membudidayakan porang dengan berbagai penyesuaian diselaraskan dengan kondisi setempat. (Sumber Balitkabi)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu"
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author