
Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Mineral (PTSDM) BPPT, Dadan M. Nurjaman dalam Media Gathering Stop Penambangan Emas dengan Merkuri di Gedung II BPPT, Jakarta, Rabu (5/4/2017)
Jakarta, technology-indonesia.com – Penggunaan merkuri di pertambangan rakyat telah menimbulkan dampak pencemaran yang sangat berbahaya. Bukan saja berbahaya bagi kesehatan 250 ribu penambang tetapi juga berdampak pada kesehatan keluarga dan masyarakat yang hidup di sekitar tambang. Karena itu, Presiden Jokowi dalam rapat terbatas di Jakarta pada 9 Maret 2017 menginstruksikan penghentian penggunaan merkuri pada tambang-tambang rakyat.
Dalam rapat terbatas tersebut presiden memberikan tujuh instruksi antara lain meminta untuk dilakukan pengaturan kembali tata kelola pertambangan emas skala kecil di luar maupun di dalam kawasan hutan. Instruksi lainnya, pengawasan ketat dan berkala terhadap penggunaan merkuri di pertambangan serta meninjau kembali tata niaga pengadaan dan distribusi merkuri.
Berdasarkan kajian dan data Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mayoritas penambang di 850 lokasi penambangan emas skala kecil di Indonesia masih menggunakan teknik almagasi dengan menggunakan merkuri (Hg). Padahal untuk penambang skala besar atau industri, teknik amalgasi telah ditinggalkan karena selain berbahaya juga tidak efisien dan ongkos produksinya besar.
Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Mineral (PTSDM) BPPT, Dadan M. Nurjaman mengatakan penggunaan merkuri pada industri termasuk pertambangan emas skala kecil atau pertambangan rakyat dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan berdampak pada kesehatan. Banyaknya kasus penggunaan bahan kimia berbahaya di sejumlah pertambangan rakyat membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan penggunaan merkuri.
“BPPT terus mendorong agar pengolahan tambang emas tidak memakai merkuri. Selama dua tahun, BPPT telah melakukan kajian, inovasi teknologi pengelolaan emas bebas merkuri dan akan diterapkan pada pertambangan skala kecil,” kata Dadan dalam Media Gathering Stop Penambangan Emas dengan Merkuri di Gedung II BPPT, Jakarta, Rabu (5/4/2017)
Dadan mengatakan, merkuri pertama kali digunakan untuk mengolah emas sekitar 3.500 tahun lalu. Metode ini disukai para penambang rakyat sebab prosesnya relatif tidak rumit, peralatan sederhana, hasilnya cepat, serta membutuhkan modal sedikit. Namun penggunaan merkuri memiliki kelemahan karena perolehan emas rendah dan banyak emas terbuang. Selain itu merkuri sulit terdegradasi dan dampak merkuri bersifat global.
Merkuri tergolong logam berbahaya dan beracun. Proses pembakaran merkuri menghasilkan uap yang sangat berbahaya untuk jangka panjang bagi penambang. Dampaknya bisa merusak sistem syaraf dan kelumpuhan serta dapat menyebabkan kematian. Salah satu bahaya merkuri adalah penyakit atau sindrom Minamata.
Sindrom Minamata merupakan sindrom kelainan fungsi saraf yang disebabkan oleh keracunan akut air raksa. Gejala-gejala sindrom ini seperti kesemutan pada kaki dan tangan, lemas-lemas, penyempitan sudut pandang dan degradasi kemampuan berbicara dan pendengaran.
Pada tingkat akut, gejala ini bisa memburuk disertai kelumpuhan, kegilaan, jatuh koma dan menyebabkan kematian. Pada 1950, dari tiga ribu orang terdampak sindrom Minamata, 1.780 orang meninggal dunia.
Menurut Dadan, sebenarnya ada alat pengolahan emas di pertambangan yang tidak berbahaya. “Misal untuk emas sekunder yang terdapat di sungai dapat menggunakan alat seperti shaking table atau meja goyang serta karpet untuk menyaring butiran-butiran emas. Sementara untuk emas primer butuh ekstra keras. Untuk menghasilkan emas tanpa menggunakan merkuri tidak cukup digiling halus,” terangnya.
Tim PTSDM berupaya untuk mencari reagen untuk memisahkan emas secara aman. Tahun ini teknologi pengelolaan penambangan emas tanpa merkuri akan diujicoba di Pacitan dan Banyumas, bekerjasama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM-RI).
“BPPT siap membantu negara dalam upaya penghilangan penggunaan merkuri melalui teknologi dan edukasi,” pungkas Dadan.
Berita terkait: BPPT Kembangkan Teknologi Pengolahan Emas Non Merkuri
