TechnologyIndonesia.id – Kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dalam pengembangan teknologi kelautan terus diperkuat melalui pemanfaatan satelit pengamatan laut. Salah satu langkahnya diwujudkan melalui penyelenggaraan International Ocean Satellite Workshop and Training 2026 yang berlangsung pada 26–29 Oktober 2026 di Jakarta.
Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek Official Development Assistance (ODA) bertajuk Establishment of an Application System for Managing Indonesian Waters using the Korean Geostationary Satellite. Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas Indonesia dalam memanfaatkan teknologi satelit Korea untuk mendukung pengelolaan wilayah perairan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan International Ocean Satellite Workshop di DoubleTree by Hilton Jakarta Kemayoran pada Senin (26/10/2026). Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan teknis internasional pada 27–29 Oktober 2026 di Pusat Pelatihan KIOTEC, Jakarta.
Proyek strategis ini diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), yang kini menjadi Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), bersama Korea-Indonesia Marine Technology Cooperation Research Center (MTCRC).
Proyek ini didanai oleh Ministry of Oceans and Fisheries (MOF) Republik Korea, dengan Korea Hydrographic and Oceanographic Agency (KHOA) dan Korea Institute of Ocean Science and Technology (KIOST) sebagai pelaksana dari pihak Korea.
Dalam pelaksanaan kegiatan, KIOST didukung oleh BlueArc Global (BAG) sebagai penyelenggara resmi yang ditunjuk untuk mendukung pelaksanaan proyek di Indonesia.
Berjalan sejak 2022 dan memasuki tahun kelima, proyek ODA ini mencakup sejumlah program penguatan kapasitas, mulai dari pemasangan sistem calibration and validation (Cal/Val), pemberian beasiswa, hingga hibah peralatan.
Seluruh program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan Indonesia dalam mengolah dan memanfaatkan data satelit guna mendukung pengelolaan wilayah laut.
Optimalkan Data Satelit untuk Pantau Ekosistem Laut
Salah satu teknologi yang menjadi perhatian dalam proyek ini adalah Geostationary Ocean Color Imager-II (GOCI-II), satelit pengamatan warna laut yang dapat menyediakan informasi mengenai kondisi dan dinamika perairan.
Manajer Proyek ODA Ocean Satellite, Dr. CHOI Jongkuk menjelaskan bahwa teknologi ini dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pemantauan lingkungan laut, terutama di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim dan tekanan terhadap ekosistem pesisir.
“Satelit GOCI-II memegang peranan krusial dalam mengatasi berbagai persoalan lingkungan laut akibat dampak perubahan iklim. Berkat dukungan kuat dari pemerintah Indonesia, proyek ini telah berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir. Kami berharap kemitraan strategis ini terus berlanjut secara berkelanjutan,” ujarnya.
Transfer Teknologi untuk Tingkatkan Kapasitas Peneliti Indonesia
Workshop menghadirkan tiga sesi presentasi mendalam dengan sembilan narasumber ahli dari institusi terkemuka kedua negara, seperti KIOST, Pusan National University (PNU), Pukyong National University (PKNU), Moonsoft, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Universitas Diponegoro (UNDIP).
Para pakar membedah aplikasi penginderaan jauh (remote sensing) kelautan dan pemanfaatan data GOCI-II untuk memantau dinamika sedimen, kesehatan karang, sebaran alga, serta pola arus laut.
Kegiatan ini dihadiri lebih dari 80 peserta dari Kedutaan Besar Republik Korea, KHOA, KIOST, Kemenko Pangan, IOC-UNESCO, BMKG, BRIN, serta berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Sebagai kesinambungan kegiatan, agenda dilanjutkan dengan Pelatihan Internasional Satelit Kelautan yang berlangsung pada 27–29 Oktober di Pusat Pelatihan KIOTEC, Jakarta. Pelatihan terapan ini menghadirkan instruktur langsung dari agensi Korea, termasuk KIOST dan Moonsoft, guna memberikan transfer keterampilan teknis pengolahan citra satelit kepada para praktisi dan periset Indonesia.
Melalui sinergi workshop dan pelatihan terapan ini, transfer pengetahuan mengenai satelit GOCI-II diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas riset nasional dalam menjaga ekosistem pesisir, melestarikan keanekaragaman hayati, serta memperkuat mitigasi perubahan iklim melalui pemanfaatan sumber daya karbon biru (blue carbon) yang berkelanjutan.
Korea-Indonesia Perkuat Pemantauan Laut Indonesia dengan Teknologi Satelit

