![]()
TechnologyIndonesia.id – Bencana tidak selalu bisa dicegah. Namun, korban jiwa dan kerugian besar dapat diminimalkan ketika masyarakat memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Inilah yang menjadi kekuatan utama program Desa Tangguh Bencana (Destana) yang terus dikembangkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), termasuk di Jawa Timur.
Tingginya kejadian bencana di Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir mendorong BNPB memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui program Destana. Program ini diarahkan agar masyarakat di tingkat desa dan kelurahan tidak hanya memahami ancaman bencana di wilayahnya, tetapi juga mampu melakukan tindakan yang tepat sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
Untuk mendukung pengembangan program Destana di Jawa Timur, BNPB menggandeng Kemitraan Australia-Indonesia melalui program SIAP SIAGA. Kolaborasi multi pihak ini diharapkan masyarakat menjadi lebih tangguh dan dapat meminimalisir adanya dampak bila terjadi bencana.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto menegaskan pentingnya mempertahankan dan mengembangkan Destana yang telah menunjukkan keberhasilan. Hal itu disampaikannya saat berada di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (5/8/2026), dalam pertemuan bersama perwakilan pemerintah kabupaten/kota serta pelaku Destana yang telah berhasil menjalankan program di wilayah masing-masing.
Pertemuan ini sebagai salah satu wadah bagi para pengampu kebijakan untuk mempelajari praktik baik yang telah berjalan dan mengamplifikasikan pada wilayahnya masing-masing.
Suharyanto dalam arahannya mengatakan bahwa Destana yang telah berhasil dan memiliki pengalaman yang baik, harus dipelihara dan diharapkan bisa lebih meningkat hingga menyebar ke desa-desa di sekitarnya.
“Forum destana dan forum pengurangan risiko bencana juga perlu dimaksimalkan, karena pencegahan menjadi aspek yang sangat penting dalam penanggulangan bencana secara keseluruhan,” ujar Suharyanto.
Ia mengingatkan, ketika bencana sudah terjadi, dampak yang harus ditanggung masyarakat dan negara bisa jauh lebih besar, mulai dari korban jiwa hingga kerugian harta benda.
Beradaptasi Secara Mandiri
Destana didefinisikan sebagai desa/kelurahan yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi secara mandiri terhadap risiko bencana, mampu menghadapi ancaman bencana, dan pulih dengan cepat dari dampak bencana.
Suharyanto mencontohkan buktinya dalam bencana yang terjadi di beberapa tempat, terdapat satu pembelajaran penting dari kesuksesan Destana.
Pada sebuah kejadian pada 2024, seorang kepala kampung melihat kondisi aliran sungai yang berubah menjadi keruh. Berbekal pengetahuan yang diperolehnya, ia segera menginformasikan kondisi tersebut kepada warga dan mengajak mereka mengungsi.
Tidak lama kemudian, banjir menerjang dan menghancurkan rumah warga. Namun, berkat keputusan untuk segera melakukan evakuasi, seluruh warga berhasil selamat.
“Adanya Destana benar-benar berfungsi tidak hanya kegiatan seremonial. Sempat terjadi peristiwa penyelamatan heroik, seorang kepala desa dan kepala kampung,” ungkapnya.
Pengalaman serupa juga terjadi dalam bencana hidrometeorologi basah di Pulau Sumatra pada 2025. Di kawasan Malalo, Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, keberadaan Destana turut berperan dalam kesiapsiagaan masyarakat hingga seluruh warga berhasil selamat. “Ini salah satu bentuk pengurangan risiko bencana melalui Destana berfungsi,” tegasnya.
Bangkit dari Bencana, Warga Kembangkan UMKM
Destana ternyata tidak hanya berkaitan dengan bagaimana masyarakat menyelamatkan diri ketika bencana datang. Program ini juga dapat menjadi pintu masuk untuk membantu warga bangkit dan kembali produktif setelah bencana.
Dalam kunjungan tersebut, BNPB berdiskusi dengan para pelaku Destana yang berhasil melewati kejadian bencana dan kemudian kembali menggerakkan perekonomian masyarakat melalui berbagai produk UMKM.
Hal ini menunjukkan bahwa ketangguhan desa memiliki dimensi yang lebih luas. Masyarakat tidak hanya dituntut mampu bertahan ketika bencana terjadi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi setelahnya.
Rangkaian kunjungan kerja Kepala BNPB di Jawa Timur berlanjut ke Kota Batu pada sore harinya. Di Kota Batu, Kepala BNPB turut menyaksikan upaya-upaya kolaborasi Destana yang kali ini bersama United Tractor.
Salah satu penguatan Destana di Kota Batu berada di Desa Giripurno, ini merupakan tindak lanjut pasca terjadinya banjir bandang dan kebakaran hutan di Gunung Arjuno beberapa waktu lalu.
Adapun upayanya antara lain dengan menanam pohon Alpukat, pohon ini diketahui akarnya bisa mengikat tanah, sehingga jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi diharapkan tidak lagi terjadi banjir bandang yang bersamaan dengan longsoran lereng bukit ataupun tebing.
Menurut Suharyanto, penanaman vegetasi pohon alpukat pohon itu bisa menahan atau mencengkram tanah ketika curah hujan tinggi.
“Pohon Alpukat tidak hanya bisa mencegah terjadinya bencana, namun ada unsur peningkatan ekonomi bagi masyarakat seluruh desa, buahnya bisa dijual untuk meningkatkan pendapatan masyarakat,” tuturnya.
Kegiatan diakhiri dengan melakukan penanaman pohon alpukat di lereng Gunung Arjuno yang dilakukan oleh BNPB, Walikota Batu, perwakilan forkopimda dan juga masyarakat.
Waspada El Nino di Jawa Timur
Pada kesempatan yang sama, Kepala BNPB mengimbau kepada seluruh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang ada di wilayah Jatim, untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan akibat adanya fenomena El Nino yang akan terjadi hingga awal tahun 2027.
Ia mengingatkan bahwa pada 2023 Gunung Bromo, Gunung Arjuno, Gunung lawu dan tempat-tempat pembuangan sampah pernah terbakar.
“Saat ini Gunung Bromo sedang dilanda kebakaran, Mojokerto beberapa waktu lalu tempat pembuangan sampah juga terbakar hingga pemadaman memerlukan helikopter water bombing” imbuhnya.
Kepala BNPB berharap agar seluruh insan penanggulangan bencana agar bisa selalu menjadi garda terdepan baik saat sebelum terjadi bencana, saat darurat bencana dan pascabencana.
“Agar BPBD dan para relawan waspada, bahwa kita tinggal di daerah bencana. Bagi yang sudah ada destana, tolong tunjukan yg terbaik dan berikan keyakinan bagi masyarakat yang lain, ini (meningkatkan kesiapsiagaan) tidak sia-sia, ini dalam rangka menyelamatkan kita semua saat terjadi bencana,” tutup Suharyanto.
Selain memperkuat kapasitas masyarakat, BNPB juga meningkatkan kesiapan peralatan dan logistik untuk menghadapi ancaman kekeringan di Kota Batu. Bantuan berupa mobil pick up, paket sembako, toren air, dan flexible tank diserahkan kepada Pemerintah Kota Batu.

