BNPB Optimalkan Satgas Darat dan Operasi Udara Tangani Karhutla di Bumi Sriwijaya

Loading

TechnologyIndonesia.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus memperkuat operasi penanganan karhutla.

Operasi darat dan udara diintensifkan untuk menekan kemunculan titik api (hotspot) sekaligus mencegah meluasnya dampak asap di tengah puncak musim kemarau dan fenomena El Nino 2026.

Hingga 30 Agustus 2026, masih terdapat sekitar 67,06 hektare (ha) area karhutla yang membutuhkan pemadaman maupun pemantauan secara ketat. Dari luasan tersebut, patroli udara mendeteksi 11 titik api dengan cakupan sekitar 45 ha. Sementara itu, pengecekan langsung di lapangan oleh Satgas Darat menemukan area seluas sekitar 22,06 ha.

Kepala BNPB Suharyanto menegaskan bahwa kekuatan Satgas Darat menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat penanganan karhutla di Sumsel.

“Hasil operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan membuktikan bahwa Satgas Darat yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api, Basarnas, Relawan dan sektor swasta ini menjadi kekuatan utama dan harus semakin ditingkatkan kekuatannya,” ujar Suharyanto.

OKI dan Muba Jadi Wilayah Prioritas

Operasi gabungan terus dilakukan berdasarkan pemetaan wilayah dan tingkat risiko. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi salah satu wilayah dengan prioritas penanganan tinggi. Terdapat lima titik api dengan luas sekitar 21 ha, terutama di kawasan Kota Bumi dan Tulung Selapan.

Wilayah prioritas tinggi lainnya adalah Musi Banyuasin (Muba), dengan satu titik api yang mencakup sekitar 7 ha. Penanganan difokuskan di Lalan, lahan gambut tebal dan angin kencang.

Sementara itu, Muara Enim masuk kategori prioritas sedang dengan dua titik api seluas sekitar 11 ha yang berada di Gelumbang dan Sungai Rotan. Wilayah Musi Rawas Utara, OKU Timur, OKU, dan Ogan Ilir juga terus dipantau karena masing-masing masih memiliki titik api dengan luasan sekitar 3–4 ha.

Kerja sama lintas sektor telah berhasil memadamkan 18,36 ha area terbakar, terdiri atas 2,5 ha melalui operasi water bombing dan 15,86 ha melalui operasi darat.

Tahap berikutnya difokuskan pada cooling down atau pendinginan di area tersisa sekitar 48,7 ha. Langkah ini menjadi sangat penting, terutama di lahan gambut yang memiliki potensi api kembali muncul apabila bara di dalam tanah belum benar-benar padam.

11.567 Personel Dikerahkan

Untuk mempercepat penanganan di lapangan, sebanyak 11.567 personel gabungan telah dikerahkan. Mereka terdiri atas unsur TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Basarnas, Masyarakat Peduli Api (MPA), sektor swasta, dan relawan.

Selain dukungan personel, BNPB menyalurkan bantuan sarana operasional kepada 7 BPBD Kabupaten/Kota terdampak, yaitu Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, Kota Palembang, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Muara Enim, dan OKI.

Setiap daerah menerima pasokan berupa 25 set Alat Pelindung Diri (APD) Karhutla, 5 roll selang, 4 unit pompa, 2 unit pompa bertekanan tinggi, 2 unit nozzle, dan 2 unit flexible tank.

Sementara dukungan armada udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari total 32 armada udara nasional, sebanyak 9 unit armada disiagakan khusus untuk memantau dan memadamkan karhutla di wilayah Sumatera Selatan.

Dalam OMC, pesawat Cessna 208 Caravan telah melaksanakan 27 sortie dengan total 27.000 kilogram bahan semai. Sementara patroli udara menggunakan helikopter AS365 N2 dan Cessna 208B telah mencatat lebih dari 439 jam terbang untuk memantau dan memetakan titik panas.

Untuk pemadaman, helikopter Blackhawk, MI-8, dan Super Puma telah melakukan lebih dari 237 sortie water bombing. Operasi difokuskan antara lain di Tulung Selapan, Rantau Bayur, Sungai Rotan, dan Lalan.

Kondisi jarak pandang yang terbatas serta angin kencang di kawasan lahan gambut masih menjadi tantangan bagi operasi udara.

Luas Karhutla Turun Lebih dari 88 Persen

Upaya pengendalian karhutla di Sumsel dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren positif. Luas area terbakar turun secara signifikan dari 264.165,68 ha pada 2023 menjadi 30.844,96 ha pada 2024, kemudian kembali turun menjadi 11.879,56 ha pada 2025.

Capaian ini memperlihatkan efektivitas sistem peringatan dini, respons cepat Satgas, dan kolaborasi lintas sektor. Secara umum, situasi karhutla di Sumsel tetap terkendali dan aktivitas masyarakat berjalan aman.

Meski demikian, imbas penumpukan asap sempat memicu penurunan kualitas udara. Stasiun pemantau kualitas udara Kota Palembang pada 30 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU/AQI) di angka 247 (Sangat Tidak Sehat).

Karena itu, BNPB mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga dianjurkan menggunakan masker berstandar medis, seperti N95. BNPB kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dalam kondisi apa pun.

BNPB bersama seluruh elemen Satgas Karhutla tetap bersiaga 24 jam penuh hingga puncak kemarau berakhir dan seluruh titik api dipastikan padam total.

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *