AI Makin Canggih, Wamen Nezar Patria Ingatkan Munculnya Konsekuensi Tak Terduga

Loading

TechnologyIndonesia.id – Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin cepat dan mulai masuk ke berbagai aspek kehidupan manusia. Tak hanya membantu pekerjaan, AI kini turut digunakan dalam pengambilan keputusan, layanan publik, dunia usaha hingga membangun interaksi sosial.

Di balik berbagai manfaat tersebut, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria mengingatkan munculnya unintended consequences atau konsekuensi yang tidak diinginkan dan tidak terduga, terutama ketika AI mulai mampu melakukan profiling dan membangun hubungan sintetik dengan manusia.

“Perkembangan artificial intelligence ini betul-betul memunculkan apa yang kita sebut unintended consequences, konsekuensi yang tidak kita inginkan atau tidak kita duga,” ujar Wamen Nezar dalam acara Philo Connect di Jakarta Barat, Rabu (19/08/2026).

Menurut Wamen Nezar, AI kini tidak lagi terbatas sebagai instrumen teknologi. Teknologi tersebut telah digunakan secara luas dalam sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertambangan, pertanian hingga kehidupan sosial.

Perkembangan itu membuat setiap keputusan yang melibatkan AI memiliki dimensi etika yang perlu dipertimbangkan. Wamen Nezar menilai kondisi tersebut justru membuat ilmu filsafat semakin relevan sehingga banyak perusahaan teknologi global kini mulai mencari para ahli filsafat.

Kemampuan AI dalam mengolah data, memprediksi, dan menghasilkan keputusan perlu diimbangi kemampuan manusia untuk mempertanyakan nilai, tujuan, serta dampak dari keputusan tersebut.

“Sebentar lagi lulusan filsafat akan dibayar mahal karena semua decision making yang dibuat oleh artificial intelligence akan punya dimensi-dimensi etik yang membutuhkan pertimbangan-pertimbangan dari mereka yang belajar filsafat,” katanya.

Ia menambahkan AI memang mampu menjelaskan berbagai pemikiran filsafat, tetapi kemampuan tersebut berbeda dengan proses manusia dalam melakukan refleksi filosofis secara holistik dan kritis.

“Filsafat adalah satu hal yang mungkin agak sulit dikuasai oleh AI. AI bisa menjelaskan filsafat tapi belum bisa melakukan apa yang kita kenal sebagai berfilsafat,” tegasnya.

Tantangan etika AI, lanjut Wamen Nezar, akan semakin kompleks ketika teknologi berkembang menuju embodied AI atau physical AI, seperti robot humanoid yang mampu berinteraksi langsung dengan manusia.

Dengan dukungan large language model, robot dapat melakukan percakapan, mengenali lawan bicara, melakukan profiling, hingga membangun hubungan yang disebut sebagai synthetic relations. “Orang merasa bahwa dia lebih bisa percaya sama mesin ketimbang dengan manusia,” ungkapnya.

Menurut Wamen Nezar, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai AI tidak cukup hanya melihat kemampuan teknologinya.

Manusia perlu terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif agar dapat menentukan bagaimana AI seharusnya digunakan dan ke mana arah perkembangannya.

“Ini menjadi renungan, menjadi refleksi yang sangat baik untuk kita semua yang pernah kuliah di filsafat,” pungkas Wamen Nezar.

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *