![]()
TechnologyIndonesia.id – Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan pengembang perangkat lunak memasuki fase baru. Jika sebelumnya AI lebih banyak dimanfaatkan sebagai asisten untuk menyelesaikan tugas-tugas individual, kini penggunaannya mulai berkembang menjadi AI agent yang mampu menjalankan berbagai pekerjaan secara lebih otonom dalam siklus pengembangan perangkat lunak.
Tren tersebut terungkap dalam AI Developer Report 2026 yang dirilis Agoda. Studi ini memotret perubahan cara kerja developer, tingkat kepercayaan terhadap AI, pemanfaatan AI agent, persoalan biaya, hingga peran pengawasan manusia dalam penerapan AI.
Laporan tersebut disusun berdasarkan masukan lebih dari 800 pengembang perangkat lunak dan pemimpin bidang engineering di tujuh pasar Asia Tenggara dan India, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, dan India. Survei dilakukan secara online pada Juni hingga Agustus 2026.
Kepercayaan terhadap AI Terus Menguat
Salah satu temuan penting laporan Agoda adalah semakin besarnya manfaat AI yang dirasakan para developer. Secara keseluruhan, lebih dari separuh responden atau 55% mengaku dapat menghemat sedikitnya tujuh jam kerja setiap minggu melalui penggunaan AI. Angka ini meningkat tajam dibandingkan 2025 yang tercatat sebesar 18%.
Tidak hanya menghemat waktu, kualitas kode yang dihasilkan AI juga dinilai semakin bermanfaat. Sebanyak 62% responden menyatakan kode yang dihasilkan AI sering atau hampir selalu dapat digunakan tanpa perubahan besar.
AI juga semakin banyak digunakan dalam berbagai pekerjaan pengembangan, termasuk peninjauan kode, arsitektur, debugging, pembelajaran, dan dokumentasi. Namun, penilaian manusia tetap penting, dengan 86% responden masih meninjau atau memvalidasi hasil AI selalu atau hampir selalu.
AI Agent Mulai Masuk ke Lingkungan Produksi
Perubahan yang lebih besar terlihat pada penggunaan AI agent. Teknologi ini memungkinkan AI menjalankan rangkaian tugas secara lebih mandiri, bukan sekadar memberikan respons atas perintah individual.
Sebanyak 53% responden mengatakan AI agent telah digunakan dalam alur kerja produksi tertentu atau bahkan secara luas di organisasi mereka. Namun, hanya 38% yang menggambarkan codebase mereka sebagian besar atau sepenuhnya siap untuk AI agent yang sepenuhnya otonom.
Sebanyak 28% responden menyebutkan biaya sebagai hambatan utama dalam adopsi AI yang lebih luas, disusul kompleksitas integrasi (24%) dan kurangnya tata kelola (19%).
Laporan tersebut menemukan bahwa biaya AI tidak hanya mencakup pemanggilan model, tetapi juga pekerjaan yang diperlukan untuk merancang, mengintegrasikan, meninjau, dan memvalidasi agent. Empat dari lima responden mengatakan mereka saat ini bekerja dengan beberapa batasan penggunaan AI, seperti kuota token, batas penggunaan, atau pembatasan anggaran.
Otonomi AI Meningkat, Manusia Tetap Memegang Kendali
Semakin canggihnya AI agent juga memunculkan pertanyaan mengenai batas otonomi yang dapat diberikan kepada mesin. Menurut laporan Agoda, para developer relatif terbuka memberikan kewenangan lebih besar kepada AI untuk pekerjaan berisiko rendah dan mudah dibatalkan, seperti dokumentasi.
Namun seiring mendekati tahap produksi, kebutuhan akan pengawasan manusia meningkat, dengan 79% responden mengatakan bahwa mereka mewajibkan persetujuan manusia sebelum penerapan ke tahap produksi.
AI juga mengubah peran pengembang. Arsitektur dan desain sistem, literasi AI, serta orkestrasi agent muncul sebagai keterampilan masa depan. Namun, transisinya tidak merata, dengan 49% pengembang pemula mengaku merasa kurang yakin terhadap prospek karier mereka di masa depan, dibandingkan dengan 16,7% responden yang merupakan CTO dan VP Engineering.
Chief Technology Officer Agoda, Idan Zalzberg mengatakan bahwa kecerdasan buatan membentuk ulang cara para pengembang di Asia Tenggara dan India dalam membangun, belajar, dan berkolaborasi. Sesuatu yang awalnya digunakan untuk mempercepat tugas-tugas individual kini berkembang menjadi perubahan yang lebih luas dalam cara perangkat lunak dibangun.
Di berbagai industri, lanjutnya, pengembang melihat peningkatan produktivitas yang semakin signifikan dan mulai menggunakan agent di lebih banyak bagian dari siklus pengembangan. Namun, kemampuan yang lebih besar membawa tanggung jawab baru.
“Biaya sesungguhnya bukan hanya pada pengadaan model, melainkan juga pada upaya yang diperlukan untuk membuat AI dapat dipercaya di tahap produksi. Organisasi yang akan unggul di fase berikutnya adalah organisasi yang dapat mengelola biaya dengan cermat, membangun perlindungan yang tepat, dan tetap menempatkan penilaian manusia pada hal-hal yang paling penting,” ujarnya.
Studi ini diprakarsai oleh Agoda dan dilaksanakan bekerja sama dengan Macramé Consulting. Sebagai perusahaan perjalanan digital dan teknologi di kawasan ini, Agoda berkomitmen untuk mendukung talenta teknologi lokal, mendorong inovasi, dan berbagi wawasan yang membantu para pengembang dan organisasi membangun praktik AI yang bertanggung jawab.

