Inilah Produk Karet Alam Inoasi BRIN: Dari Sepatu, Bantalan Kereta hingga Ban Pesawat

Loading

TechnologyIndonesia.id – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil karet alam. Namun, potensi komoditas tersebut tidak berhenti sebagai bahan baku. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi material berbasis karet alam agar dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi.

Melalui Kelompok Riset Karet Teknologi Tinggi, Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN, pengembangan dilakukan mulai dari formulasi material, proses pencampuran dan vulkanisasi, pengujian karakteristik, hingga pembuatan prototipe. Hasil riset selanjutnya diarahkan untuk dapat diterapkan melalui kolaborasi dengan industri dalam negeri.

Perekayasa Ahli Madya BRIN, Ade Sholeh Hidayat, mengatakan pengembangan teknologi material karet merupakan bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi karet alam Indonesia.

Indonesia menghasilkan sekitar 3,6 juta ton karet per tahun. Potensi tersebut didorong untuk tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi.

“Kami dari BRIN ingin ikut serta bagaimana meningkatkan nilai tambah dari produk karet alam tersebut melalui pengkajian, penelitian, penerapan, dan pengembangan menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah yang sangat tinggi,” kata Ade pada Senin (10/8/2026).

Teknologi material berbasis karet yang dikembangkan BRIN memiliki cakupan aplikasi yang cukup luas. Pemanfaatannya antara lain diarahkan untuk sektor transportasi darat, laut dan udara, konstruksi, kelistrikan, hingga pertahanan.

Pada sektor transportasi kereta api, BRIN mengembangkan sejumlah komponen berbasis karet seperti rail pad, bantalan kereta, mounting, shock breaker, hingga komponen bogie.

Sementara di sektor maritim, pengembangan dilakukan untuk menghasilkan fender atau bantalan peredam benturan yang digunakan di dermaga maupun kapal, pneumatic fender, serta rubber airbag.

Salah satu hasil pengembangan yang telah masuk tahap komersialisasi adalah rubber airbag. Produk tersebut dikembangkan melalui kerja sama BRIN dengan industri dalam negeri sebagai salah satu produk substitusi impor.

Formulasi Pengembangan Material Karet

Pengembangan produk berbasis karet tidak dilakukan secara langsung, tetapi melalui tahapan riset yang terukur. Proses diawali dengan menentukan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi produk yang akan dibuat.

Selanjutnya, peneliti menyusun design formulation untuk menentukan jenis serta komposisi material yang dibutuhkan. “Desain formulasi sebenarnya penentu bagaimana produk itu akan nanti dibuat,” jelas Ade.

Dalam proses formulasi, karet dapat dicampurkan dengan sejumlah bahan tambahan seperti filler, aktivator, akselerator, antioksidan, antiozonant, dan pewarna sesuai karakteristik produk yang diinginkan.

Material kemudian melalui proses pencampuran dengan mempertimbangkan suhu, waktu, dan urutan penambahan bahan, sebelum menjalani proses vulkanisasi.

Setelah tervulkanisasi, material diuji untuk memastikan karakteristiknya sesuai dengan persyaratan teknis. Pengujian meliputi kekuatan tarik, ketahanan sobek, elastisitas, kekerasan, compression set, dan ketahanan abrasi.

Ban Pesawat hingga Sepatu

Salah satu contoh pengembangan teknologi karet untuk sektor transportasi udara adalah riset Pengembangan Formulasi Kompon Karet dan Proses Sertifikasi Prototipe Retread Ban Pesawat Twin Otter/N-219.

Riset tersebut mencakup pengembangan formulasi kompon karet, pembuatan prototipe retread ban pesawat Twin Otter/N-219, serta pengujian dinamik sebagai bagian dari tahapan pengembangan.

Formulasi dan metode pembuatan kompon tapak ban pesawat berbasis karet alam tersebut juga telah memperoleh paten pada 2024.

Aplikasi lainnya dalam penerapan teknologi tersebut dilakukan dalam pengembangan sepatu. Produk ini dirancang dengan karakteristik murah, kuat, fleksibel, memiliki daya tahan tinggi, tidak licin, dan nyaman digunakan.

Pengembangan sepatu tersebut menjadi salah satu implementasi teknologi material karet untuk mendukung kebutuhan anak-anak dalam program Sekolah Rakyat.

Dalam penerapannya, BRIN berkolaborasi dengan industri dalam negeri untuk mengembangkan hasil riset dan prototipe menjadi produk. Kolaborasi juga dilakukan dengan perguruan tinggi serta kementerian dan lembaga terkait, termasuk dalam pengembangan standar produk bersama Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Melalui pengembangan teknologi material karet, BRIN melakukan riset dari tahap pengolahan bahan baku hingga pembuatan prototipe dan penerapan produk melalui kolaborasi dengan industri.

“Pengembangan tersebut diarahkan untuk menghasilkan berbagai produk berbasis karet yang dapat dimanfaatkan pada sektor transportasi, maritim, konstruksi, kelistrikan, pertahanan, dan kebutuhan masyarakat,” pungkasnya. (Sumber: brin.go.id)

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *