![]()
TechnologyIndonesia.id – Limbah dari industri pengolahan mineral selama ini menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan hilirisasi pertambangan. Melalui inovasi teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya mengubah limbah tersebut menjadi material yang memiliki nilai tambah.
Salah satunya melalui pemanfaatan red mud atau lumpur merah dari pengolahan bauksit serta terak (slag) nikel. Kedua material tersebut diteliti untuk memulihkan unsur bernilai sekaligus menghasilkan produk yang berpotensi mendukung pengembangan energi terbarukan dan industri rendah karbon.
Postdoktoral Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Boy Attaurrazaq, mengatakan riset tersebut mengeksplorasi pemanfaatan red mud dan slag nikel sebagai katalis dalam proses transesterifikasi. Proses tersebut digunakan untuk mengubah minyak nabati yang mengandung trigliserida menjadi metil ester asam lemak atau biodiesel.
Hasil pengujian menunjukkan katalis red mud mampu mengonversi asam lemak hingga mendekati 100 persen.
“Hasil tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan limbah mineral sebagai katalis untuk mendukung pengembangan energi terbarukan dan transisi menuju industri rendah karbon di Indonesia,” kata Boy, dalam Webinar Diseminasi Seri ke-11 bertajuk ‘Diskusi Seputar Mineral Strategis Indonesia’, Selasa (22/9/2026).
Boy mengatakan, kebijakan hilirisasi pengolahan mineral berpotensi meningkatkan volume limbah. Secara global, akumulasi red mud diproyeksikan mencapai hampir lima miliar ton pada 2025.
Limbah tersebut bersifat sangat basa dengan pH 12–14 dan memiliki ukuran partikel sangat halus, sehingga dikategorikan sebagai limbah B3 yang memerlukan penanganan khusus.
Sebagai solusi, tim periset BRIN memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk mendepasivasi dan menetralkan red mud melalui injeksi gas karbon dioksida (CO₂) pada suhu dan tekanan kamar.
“Proses karbonasi ini tidak hanya mengubah fasa mineral menjadi lebih stabil dan menetralkan keasaman, tetapi juga mengikat CO₂ serta memulihkan oksida bernilai, seperti besi dalam bentuk hematit dan magnetit, serta garam karbonat,” jelas Boy.
Sementara itu, slag nikel memiliki kestabilan tinggi akibat proses peleburan pada temperatur tinggi. Untuk mengolahnya, periset menerapkan metode leaching (pelindian) menggunakan asam klorida dan hidrogen peroksida.
Metode tersebut mengubah struktur stabil fosterit dan enstatit menjadi goetit dan silika sehingga memudahkan pemulihan unsur bernilai, seperti magnesium hidroksida dan nikel, dengan tingkat pemulihan yang tinggi.
Boy menerangkan, riset lanjutan akan terus dikembangkan. Kajian tersebut mencakup life cycle assessment (LCA) dan analisis teknoekonomi untuk mengevaluasi efisiensi serta kelayakan hilirisasi pada skala industri. (Sumber: brin.go.id)

