![]()
TechnologyIndonesia.id – Pulau Derawan yang dikenal sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia, menjadi lokasi penerapan inovasi teknologi pengolahan sampah berbasis riset nasional. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimplementasikan Teknologi Pirolisis PITARA (Pirolisis Tabung Bertingkat) Versi 2 yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak.
Implementasi teknologi tersebut berlangsung di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, pada 20–24 Juli 2026. Program ini merupakan hasil kolaborasi BRIN bersama PT Asian Bulk Logistics (ABL) Group, Pemerintah Kabupaten Berau, dan pengelola TPS3R.
Kolaborasi tersebut menjadi contoh bagaimana hasil riset nasional diterapkan secara nyata untuk menjawab persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menegaskan bahwa penerapan PITARA Ver. 2 menjadi bagian dari strategi BRIN dalam mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar tidak berhenti sebagai prototipe laboratorium maupun publikasi ilmiah.
“Implementasi teknologi PITARA Ver. 2 di TPS3R Pulau Derawan menjadi contoh nyata bagaimana inovasi pengolahan sampah plastik dapat mendukung ekonomi sirkular, menghasilkan energi alternatif, serta memperkuat kapasitas daerah dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ujar Cuk.
Teknologi PITARA merupakan inovasi pirolisis yang dikembangkan tim periset BRIN bersama BRIDA Provinsi Jawa Tengah untuk mengolah sampah plastik yang sulit didaur ulang menjadi bahan bakar minyak melalui proses pemanasan tanpa oksigen. Teknologi ini dirancang agar dapat diterapkan pada skala masyarakat dengan biaya operasional yang relatif efisien.
Selain menghasilkan energi alternatif, penerapan PITARA juga diharapkan mampu mengurangi volume sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan utama di kawasan wisata kepulauan seperti Pulau Derawan. Dengan pendekatan tersebut, sampah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat diubah menjadi sumber energi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko menjelaskan bahwa keberhasilan hilirisasi inovasi sangat bergantung pada kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.
Ia menyebut implementasi PITARA di Pulau Derawan sebagai pilot project nasional yang diharapkan menjadi model penerapan teknologi pengolahan sampah plastik di berbagai wilayah kepulauan Indonesia. Menurut Nugroho, kegiatan implementasi teknologi Pirolisis PITARA Ver. 2 di Kepulauan Derawan mampu mengubah sampah plastik low value menjadi BBMT setara minyak tanah.
“Harga minyak tanah di sini mencapai sekitar Rp20.000 per liter, sehingga diharapkan mesin ini dapat membantu penyediaan energi yang sangat dibutuhkan masyarakat di wilayah kepulauan seperti Derawan,” jelas Nugroho.
Masyarakat Dilibatkan Lewat Living Laboratory
Tidak hanya menghadirkan teknologi, BRIN juga mengembangkan model Living Laboratory (Living Lab) sehingga masyarakat menjadi bagian dari proses inovasi. Warga dilibatkan mulai dari pengumpulan bahan baku, pengoperasian instalasi, hingga pemanfaatan hasil produksi sehingga teknologi dapat dioperasikan secara mandiri dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari implementasi tersebut, BRIN menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) dan pendampingan teknis kepada pengelola TPS3R Pulau Derawan. Sebanyak 10 operator memperoleh pelatihan untuk memastikan teknologi dapat dioperasikan secara optimal sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal.
Program ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi sirkular yang sesuai dengan karakteristik Pulau Derawan sebagai kawasan wisata bahari. Pengelolaan sampah, produksi energi alternatif, dan pemanfaatan hasilnya dikembangkan berdasarkan potensi sumber daya lokal sehingga mampu membuka peluang usaha baru sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Kolaborasi BRIN dan Dunia Usaha
Implementasi PITARA mendapat dukungan PT Asian Bulk Logistics (ABL) Group melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang berfokus pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Chief Human Resources Officer (CHRO) ABL Group, Hermawan, mengatakan pihaknya memandang kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan lembaga riset sebagai fondasi penting dalam menciptakan dampak berkelanjutan.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi. Bagi ABL Group, kolaborasi ini merupakan bagian dari perjalanan perusahaan dalam mendukung target pembangunan berkelanjutan, khususnya pada aspek pengelolaan lingkungan, pengurangan limbah, serta pemberdayaan masyarakat di wilayah operasional Perusahaan,” tuturnya.
Hermawan berharap, melalui implementasi PITARA Ver. 2 di Pulau Derawan, kehadiran riset di tengah masyarakat dapat memberi manfaat langsung. Ke depan, model hilirisasi teknologi ini dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia sebagai solusi pengelolaan sampah plastik berbasis inovasi sekaligus memperkuat ketahanan energi dan ekonomi sirkular nasional. (Sumber: brin.go.id)

