![]()
TechnologyIndonesia.id – Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan pertanian yang produktif sekaligus ramah lingkungan. Menjawab persoalan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penerapan pupuk NPK Slow Release Fertilizer (SRF) untuk pertanian berkelanjutan.
Teknologi hasil riset tersebut diperkenalkan melalui kegiatan implementasi inovasi di Desa Sidowayah, Kabupaten Klaten pada Kamis (2/7/2026). Pupuk NPK Slow Release Fertilizer ini mampu meningkatkan efisiensi pemupukan, menjaga kualitas tanah, sekaligus mengurangi penggunaan pupuk kimia secara signifikan.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Sutardi, mengungkapkan teknologi tersebut tidak hanya menawarkan manfaat ekonomi bagi petani, tetapi juga menjadi solusi terhadap persoalan lingkungan yang selama ini muncul akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.
“Petani tidak hanya memperoleh hasil panen yang lebih tinggi, tetapi juga dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia, memperbaiki kualitas tanah, sekaligus menjaga keberlanjutan sistem pertanian,” katanya.
70 Persen Unsur Hara Hilang
Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia masih menjadi tantangan dalam pembangunan sektor pertanian. Selain meningkatkan biaya produksi, penggunaan pupuk yang belum efisien menyebabkan sebagian besar unsur hara hilang.
Lebih dari 70 persen unsur hara hilang melalui pencucian, penguapan, maupun reaksi kimia di dalam tanah sebelum sempat diserap tanaman. Akibatnya, produktivitas lahan menurun, kualitas tanah terus mengalami degradasi, dan pencemaran lingkungan semakin meningkat.
Bahkan, tanaman hanya mampu memanfaatkan sekitar 35–40 persen unsur hara yang diberikan. Sebagian besar lainnya hilang akibat pencucian oleh air, penguapan, maupun reaksi kimia di dalam tanah.
”Kondisi ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi petani, tetapi juga mempercepat degradasi kualitas tanah dan lingkungan,” ujar Sutardi.
Unsur Hara Dilepas Bertahap
Inovasi teknologi pupuk NPK SRF dirancang agar pelepasan unsur hara berlangsung secara bertahap (terkontrol) mengikuti kebutuhan tanaman. Bahan pelapis alami bekerja melalui mekanisme adsorpsi, difusi, dan pertukaran ion.
Unsur hara tidak langsung terlepas ke lingkungan, melainkan tersedia secara perlahan selama masa pertumbuhan tanaman (sinkronisasi) sesuai kebutuhan.
Sutardi menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan teknologi tersebut mampu mengubah pola pelepasan pupuk dari Fast Release Fertilizer (FRF) menjadi SRF sehingga unsur nitrogen, fosfor, dan kalium tersedia lebih lama di dalam tanah.
“Dampaknya, kehilangan hara melalui pencucian maupun penguapan dapat ditekan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk konvensional,” papar Sutardi.
Menurutnya, dampak jangka panjang adalah residu bahan coating/pelapis alami ramah lingkungan, kandungan unsur makro dan mikro lengkap, dan logam berat sangat rendah.
Teknologi tersebut memanfaatkan berbagai bahan alami sebagai pelapis pupuk, seperti zeolit, kapur tohor, kapur kalsit, guano fosfat, biochar sekam padi, biochar tempurung kelapa, serta pupuk organik kambing.
Kombinasi bahan-bahan tersebut bekerja melalui mekanisme adsorpsi, difusi, dan pertukaran ion sehingga unsur hara tidak langsung terlepas ke lingkungan, melainkan tersedia secara bertahap sesuai fase pertumbuhan tanaman.
Selain meningkatkan efisiensi pemupukan, penggunaan pupuk SRF berdampak positif terhadap pertumbuhan tanaman. Penelitian memperlihatkan peningkatan perkembangan akar, jumlah anakan produktif, laju fotosintesis, hingga hasil panen padi.
Pada beberapa formula terbaik, penggunaan pupuk kimia/konvensional bahkan dapat dikurangi hingga 25–50 persen tanpa menurunkan produktivitas, bahkan tetap menghasilkan gabah dengan kualitas yang lebih baik.
Menjawab Tantangan Sektor Pertanian
Perwakilan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten, Lilik Nugraharja menilai implementasi inovasi pupuk NPK SRF menjadi langkah strategis untuk menjawab berbagai tantangan sektor pertanian, mulai dari rendahnya kandungan bahan organik tanah, penggunaan pupuk kimia yang belum efisien, hingga tuntutan peningkatan produktivitas pangan.
Menurutnya, keberhasilan penerapan teknologi tersebut membutuhkan kolaborasi antara BRIN, pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok tani, dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci agar hasil-hasil penelitian tidak berhenti sebagai inovasi di laboratorium, melainkan dapat diterapkan secara nyata untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Sidowayah. Lurah Desa Sidowayah, Mujahid Jaryanto, menyatakan kesiapan pemerintah desa untuk mendukung pengembangan inovasi tersebut melalui penyediaan sarana, prasarana, hingga dukungan pendanaan.
Ia melihat teknologi pupuk NPK SRF bukan hanya bermanfaat bagi petani, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha berbasis inovasi melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), maupun pelaku usaha lokal lainnya.
“Saya sangat antusias dengan adanya workshop yang diadakan oleh BRIN dan sangat mendukung kegiatan ini karena bertujuan untuk kemajuan masyarakat Sidowayah,” ujarnya.
Workshop yang digelar BRIN mempertemukan pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok tani, akademisi, pelaku usaha, dan mitra industri sebagai bagian dari upaya mempercepat hilirisasi hasil riset menuju penerapan nyata di lapangan. (Sumber: brin.go.id)

