Kemkomdigi Siapkan Talenta SMK untuk Isi Lapangan Kerja Infrastruktur Digital di Daerah

Loading

TechnologyIndonesia.id – Pembangunan infrastruktur digital di Indonesia tidak hanya bertujuan memperluas akses internet, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat daerah. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mulai menyiapkan sumber daya manusia lokal yang mampu berperan langsung dalam pembangunan dan pemeliharaan jaringan telekomunikasi.

Komitmen itu ditegaskan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, saat membuka Pelatihan Jaringan Fiber Optik bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di SMK Multi Karya Medan, Sumatera Utara, Sabtu (13/6/2026).

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan pembangunan infrastruktur digital harus memberi manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat daerah melalui penciptaan lapangan kerja baru.

Menurut Meutya, kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang infrastruktur digital akan terus meningkat seiring pesatnya perkembangan teknologi dan tingginya penggunaan internet di Indonesia.

Karena itu, pemerintah mendorong lahirnya talenta-talenta lokal yang mampu membangun, merawat, dan memperbaiki jaringan telekomunikasi di wilayahnya masing-masing.

“Ke depan kita punya konsep bahwa jaringan-jaringan fiber optik di berbagai daerah tidak perlu lagi dikirim tenaga kerjanya dari Jawa atau dari daerah lain. Kalau di sini talentanya sudah mampu, maka ini menjadi lapangan kerja baru bagi teman-teman yang ada di daerah,” ujar Meutya.

Pelatihan Jaringan Fiber Optik bagi siswa SMK ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas akses internet sekaligus membuka peluang kerja baru bagi generasi muda di daerah.

Meutya menambahkan kebutuhan tenaga terampil di sektor infrastruktur digital akan terus meningkat seiring tingginya ketergantungan masyarakat terhadap internet.

Saat ini, rata-rata masyarakat Indonesia menggunakan internet selama delapan jam per hari. Dari sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia, sekitar 60 hingga 70 persen merupakan kelompok usia muda.

“Anak-anak mudalah yang paling banyak memanfaatkan teknologi ini. Karena itu, kita berharap mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pihak yang merawat infrastruktur yang mendukung konektivitas tersebut,” tegasnya.

Menurut Meutya, pemerintah berkomitmen memperluas konektivitas hingga menjangkau wilayah-wilayah yang masih mengalami keterbatasan akses internet. Semakin luas jaringan yang dibangun, semakin besar pula kebutuhan tenaga kerja terampil yang mampu melakukan instalasi, perbaikan, dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.

“Jaringan-jaringan itu selalu memerlukan perhatian. Kalau sudah cukup lama digunakan, pasti memerlukan sentuhan tangan manusia, perbaikan, dan perawatan secara berkala,” tuturnya.

Program pelatihan tersebut menjadi bagian dari strategi Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital (DJID) Kemkomdigi dalam mendukung target pembangunan infrastruktur fixed broadband nasional.

Pemerintah menargetkan penetrasi layanan fixed broadband mencapai 50 persen populasi Indonesia pada periode 2025–2029. Saat ini capaian penetrasi baru berada di kisaran 25 persen populasi.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kemkomdigi Wayan Toni Supriyanto menjelaskan bahwa upaya untuk mencapai target tersebut tidak hanya membutuhkan pembangunan perangkat dan jaringan, tetapi juga dukungan sumber daya manusia yang kompeten.

“Penggelaran infrastruktur digital tidak hanya soal perangkat dan kabel, tetapi juga sumber daya manusia. Karena itu kami melihat pelatihan seperti ini penting untuk menyiapkan tenaga-tenaga terampil yang nantinya dapat mendukung pembangunan dan pemeliharaan jaringan di daerah masing-masing,” jelasnya.

Menurut Dirjen Wayan, perkembangan teknologi telekomunikasi saat ini telah memasuki era dominasi fiber optik yang membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru di berbagai daerah.

“Ini membuat peluang bisnis dan juga peluang usaha menjadi partner-partner bagi ribuan penyelenggara telekomunikasi yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Pelatihan ini diikuti oleh 40 peserta, terdiri atas 20 siswa SMK Multi Karya Medan dan 20 siswa SMK Negeri 4 Medan. Para peserta memperoleh pembekalan mengenai instalasi, penyambungan (splicing), pengujian, hingga pemeliharaan jaringan fiber optik sesuai kebutuhan industri telekomunikasi saat ini.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan vokasi, Kemkomdigi juga menyerahkan perangkat praktik instalasi fiber optik kepada SMK Multi Karya Medan dan SMK Negeri 4 Medan agar dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran secara berkelanjutan.

Selain pelatihan tatap muka, peserta juga dapat melanjutkan pembelajaran melalui platform Learning Management System (LMS) yang disiapkan Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital.

Melalui pelatihan ini, Kemkomdigi berharap semakin banyak talenta muda daerah yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi digital, tetapi juga menjadi pelaku utama yang menjaga keberlanjutan konektivitas Indonesia hingga ke pelosok negeri.

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *