BRIN Memulai Pembangunan Dua Kapal Riset Baru untuk Perkuat Kedaulatan Maritim Indonesia

Loading

TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi memulai pembangunan dua kapal riset baru yang diharapkan menjadi tulang punggung penguatan riset kelautan Indonesia. Melalui proyek Kapal Riset Nasional (KRISNA), pembangunan Kapal Riset Multiguna Samudra dan Kapal Riset Pesisir menjadi langkah strategis dalam mendukung kedaulatan maritim, ekonomi biru, ketahanan pangan, dan ketahanan iklim nasional.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan kontrak pembangunan kedua kapal riset di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Proyek ini merupakan hasil kerja sama antara BRIN, Agence Française de Développement (AFD), serta mendapat dukungan dari Uni Eropa.

Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis sebagai negara maritim. Selain menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia, Indonesia juga memegang peran penting dalam konektivitas global, pengelolaan sumber daya kelautan, dan dinamika iklim internasional.

Menurut Arif, potensi besar tersebut harus didukung oleh kapasitas riset yang kuat agar dapat diubah menjadi keunggulan nasional yang nyata.

“Indonesia dapat mentransformasikan posisi strategis tersebut menjadi kepemimpinan global dalam ekonomi biru dan tata kelola maritim,” ujarnya dalam acara penandatanganan kontrak pembangunan kapal riset tersebut.

Namun, tantangan yang dihadapi masih cukup besar. Hingga saat ini, kurang dari 19 persen wilayah laut Indonesia telah dipetakan secara memadai. Sementara itu, bagian laut yang benar-benar dieksplorasi masih sangat terbatas.

Padahal, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah perairan yang sangat luas. Ironisnya, kontribusi sektor maritim terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2025 masih berada di kisaran 7–8 persen.

Karena itu, riset dan inovasi dinilai menjadi faktor kunci untuk meningkatkan kontribusi sektor maritim terhadap perekonomian nasional. “Selain mendukung eksplorasi sumber daya laut secara berkelanjutan, riset juga berperan dalam mitigasi berbagai ancaman dan bahaya di wilayah kelautan,” ujarnya.

Kapal Riset Jadi Laboratorium Bergerak

Menjawab tantangan tersebut, BRIN menilai pembangunan kapal riset modern menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Kapal riset tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi laut, tetapi juga sebagai laboratorium ilmiah bergerak yang memungkinkan para peneliti melakukan berbagai aktivitas penelitian langsung terhadap kondisi laut.

Melalui kapal riset, para ilmuwan dapat melakukan pengumpulan data oseanografi, pemetaan dasar laut, observasi biodiversitas, hingga pengujian teknologi kelautan terbaru.

Data yang dihasilkan menjadi fondasi penting bagi penyusunan kebijakan maritim, pengelolaan sumber daya alam, perlindungan lingkungan, hingga pengembangan teknologi kelautan. Tanpa dukungan data yang memadai, berbagai keputusan strategis terkait laut akan sulit dilakukan secara tepat dan berbasis bukti ilmiah.

Keberadaan kapal riset baru juga diharapkan mampu mempercepat pengembangan ekonomi biru atau blue economy yang saat ini menjadi salah satu agenda prioritas pembangunan nasional.

Melalui kegiatan riset laut yang lebih intensif, Indonesia dapat memperoleh data yang lebih akurat mengenai keanekaragaman hayati laut, potensi sumber daya perikanan, hingga peluang pengembangan bioteknologi kelautan.

Informasi tersebut sangat penting untuk memastikan pemanfaatan sumber daya laut dilakukan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem. Selain itu, data ilmiah yang dihasilkan juga dapat membuka peluang pengembangan industri berbasis sumber daya laut yang memiliki nilai tambah tinggi.

Perkuat Ketahanan Pangan dan Perikanan

Kapal riset ini juga akan digunakan untuk mengumpulkan data biologis dan ekologis serta melakukan pemantauan ekosistem laut untuk mendukung ketahanan pangan dan perikanan. Informasi tersebut dapat menjadi dasar penetapan kuota penangkapan ikan berbasis sains sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia dalam perdagangan tuna global.

Dalam aspek ketahanan iklim, kapal riset akan mendukung observasi laut untuk memantau kenaikan muka air laut, aliran karbon, serta kehilangan keanekaragaman hayati. Hasil pengamatan tersebut akan menjadi dasar bagi penyusunan strategi adaptasi perubahan iklim dan pembangunan wilayah pesisir yang lebih tangguh.

“Data yang dihasilkan kapal riset juga akan memperkuat fondasi kebijakan nasional, termasuk dalam perencanaan infrastruktur pesisir dan pengelolaan kawasan konservasi laut,” tegas Arif Satria.

Selain itu, keberadaan armada riset nasional akan memperkuat kedaulatan dan diplomasi maritim Indonesia melalui peningkatan kemandirian dalam memperoleh data strategis kelautan. Dengan demikian, Indonesia tidak lagi bergantung pada armada asing untuk memperoleh data penting.

Kolaborasi Indonesia, Prancis, dan Uni Eropa

Pembangunan kapal riset tersebut merupakan bagian dari Kapal Riset Nasional (KRISNA) Project, sebuah inisiatif nasional untuk memperkuat kapasitas riset kelautan Indonesia. Proyek ini merupakan kerja sama dengan Agence Française de Développement (AFD) dengan dukungan kontribusi dari Uni Eropa.

Dalam penandatanganan tersebut, Arif juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Keuangan, AFD, Kedutaan Besar Prancis, Uni Eropa, yang terlibat dalam mewujudkan proyek tersebut. Ia berharap kerja sama pembangunan kapal ini, semakin memperkuat hubungan Indonesia dan Prancis.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Denis Chaibi, mengatakan bahwa kerja sama antara Uni Eropa dan Indonesia melalui pengadaan kapal riset bukan sekadar investasi infrastruktur, melainkan investasi strategis untuk masa depan bersama yang berbasis ilmu pengetahuan dan data.

Data dipandang sebagai fondasi penting dalam menjawab berbagai tantangan nasional, mulai dari ketahanan pangan, pelestarian keanekaragaman hayati, hingga mitigasi perubahan iklim.

“Kemitraan ini juga mencerminkan keyakinan bersama bahwa tantangan global hanya dapat diatasi melalui kerja sama, sains, dan pemanfaatan pengetahuan untuk kepentingan masyarakat serta keberlanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Inti Wikanestri mengatakan, program ini merupakan bagian penting dalam penguatan riset, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Kegiatan ini mencakup penguatan kapasitas riset, pelatihan, pengembangan kelembagaan, peningkatan koordinasi pemangku kepentingan, serta pemanfaatan teknologi modern.

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *