Jakarta, Technology-Indonesia.com – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Fadjry Djufry di ruang kerjanya pada Senin (4/3/2019) melakukan tandem courtessy meeting dengan tiga lembaga asing. Pertemuan ini mempertegas peran Balitbangtan dengan lembaga internasional.
Pada sesi pertama, Fadjry ditemani Sekretaris Balitbangtan Dr. Muhammad Prama Yufdy dan Kepala BB Padi Dr. Priatna Sasmita melakukan courtessy meeting dengan International Rice Research Institute (IRRI). Lembaga Penelitian Padi yang berkantor di Philippina ini telah menjalin kerjasama sejak Balitbangtan berdiri.
Dr. Hasil Sembiring sebagai IRRI Representative Indonesia mengungkapkan, kerjasama dengan IRRI masih dipayungi MoU yang diperpanjang hingga 2022. Kerjasama dengan IRRI telah banyak menghasilkan varietas padi.
David Johnson selaku Chief Representative for Southeast Asia mengakui dalam kurun waktu 20 tahun telah banyak yang dilakukan Balitbangtan, aneka varietas padi ditemukan untuk memenuhi kebutuhan termasuk mengatasi cekaman iklim dan juga hama termasuk peningkatan produksi.
Berkaitan dengan program menghasilkan varietas padi, IRRI menginfokan bahwa di bulan April mendatang akan dilaksanakan Asean +3 Breeding Program Bogor.
Dalam kesempatan ini, David ditemani Grant Singleton dan Alexander Stuart yang menetap sejak November 2018 untuk pengamatan tikus di Sukamandi serta beberapa lokasi di Aceh dan Sumatera Utara.
Di sesi kedua Kepala Balitbangtan ditemani Kepala Puslitbang Peternakan, Dr. Atien Priyanti Sudardjo Puteri dan Sekretaris Balitbangtan melakukan courtessy meeting dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR).
Dalam kesempatan ini, Ms. Mirah Nuryati menginformasikan bahwa di tahun 2020 akan ada pemilihan Policy Advisory Council (PAC) yang sebelumnya selalu dijabat oleh Kepala Badan. Namun demikian, tahun lalu Anggota PAC telah disesuaikan dengan bidang kepakarannya. Mirah mengatakan Program DFAT ke depan lebih ditekankan pada Human Health dan Nutrition.
Menanggapi hal ini, Kepala Balitbangtan menjelaskan bahwa peluang kerja sama pada program ini masih dimungkinkan karena ada Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Salah satu inovasinya yang telah dilisensi adalah produk Dehaf yang mampu meningkatkan tombosit pada penderita demam berdarah dengue (DBD).
Terkait dengan Zoonosis, peran BB Veteriner amat dimungkinkan kaitannya dengan Human Health dan Animal Health, jelas Dr. Atien.
Untuk peningkatan capacity building, ACIAR mengungkapkan bahwa John Allwright Fellowship (JAF) masih dibuka hingga April 2019. Fadjry berharap untuk wanita agar dibuka kesempatan lebih luas, utamanya yang telah menjalin kerjasama dengan ACIAR.
Di kesempatan akhir, FAO Representative Indonesia Dr. Stephen Rudgard menjelaskan saat ini Balitbangtan memiliki peran yang besar dalam menghasilkan inovasi hingga digunakan petani. Rudgard kagum dengan upaya Balitbangtan menyatukan peneliti dengan penyuluh sehingga tidak ada gap informasi terkait inovasi pertanian.
Rudgard mengungkap, kegiatan tahun lalu yang dinilainya memuaskan adalah Pertanian Konservasi (PK) yang mampu meningkatkan pendapatan petani. Model seperti PK di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebaiknya dapat diadopsi di beberapa wilayah dengan peran aktif Pemda.
Balitbangtan dalam kesempatan ini juga mempertegas bahwa Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) memberikan peran yang positif dalam mempercepat inovasi dapat digunakan oleh petani. Saat inovasi dihasilkan di lapangan sekitar 2 tahun dapat dilihat hasilnya, ungkap Prama optimis.
Program Advocacy juga ditawarkan oleh The Food and Agriculture Organization (FAO) terkait dengan upaya-upaya scale up inovasi pertanian. Menutup pertemuannya, Fadjry menyampaikan bahwa Balitbangtan akan melakukan pertemuan internal untuk program lain yang dibutuhkan.