Keakuratan Aplikasi Pemantau Kualitas Udara Berbasis Sensor Low Cost

Technology-Indonesia.com – Seiring pesatnya perkembangan teknologi, banyak aplikasi mobile telah tersedia bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk aplikasi pemantau kualitas udara.

Aplikasi pemantau kualitas udara berbasis sensor low cost (LCS) yang saat ini marak digunakan. Lalu bagaimana cara kerja dan keakuratan aplikasi pemantau kualitas udara ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih (PRLTB BRIN) menggelar webinar EnviroTalk edisi ke-22 bertema “Sensor Low Cost (LCS) dalam Pemantauan Kualitas Udara” pada Rabu (25/10/2023).

Plt. Kepala Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih Handy Chandra, dalam sambutannya menjelaskan bahwa EnviroTalk menjadi wadah bagi para peneliti internal maupun eksternal BRIN untuk bertukar ide dan gagasan.

Handy juga menjelaskan bahwa tema pemantauan kualitas udara memiliki potensi kerja sama riset dengan LDE Alliance yang terdiri dari tiga universitas Belanda, yaitu Leiden University, Delft University of Technology, dan Erasmus University, dengan fokus “Kota Cerdas, Berkelanjutan, dan Sehat di Indonesia.”

“Kami berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah inovatif dalam penelitian lingkungan dan teknologi bersih. Melalui upaya kolaboratif dan pengembangan ide-ide baru, kami berupaya memajukan pemantauan kualitas udara dan menciptakan solusi yang cerdas dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Handy menambahkan, Belakangan ini, terjadi peningkatan penggunaan aplikasi pemantau kualitas udara dengan teknologi sensor LCS yang dapat ditempatkan di berbagai lokasi. Ini memungkinkan pengukuran kualitas udara mencakup area spasial yang luas dengan kompleksitas rendah. Selain itu, sensor LCS mampu memberikan pemantauan secara real-time setiap jam.

Pada kesempatan yang sama peneliti PRLTB BRIN, Kemal Maulana Alhasa, menjelaskan bahwa aplikasi pemantau kualitas udara umumnya menerima data yang dihasilkan oleh stasiun pemantau kualitas udara yang ditempatkan di wilayah-wilayah tertentu.

Aplikasi ini mengolah data tersebut secara real-time sehingga bisa diakses oleh masyarakat secara langsung. Kemal menjelaskan bahwa meskipun sensor LCS memiliki banyak keunggulan, tidak semua sensor memberikan data yang akurat, karena hal itu bergantung pada lokasi pemasangan dan kemampuan masing-masing sensor.

Secara khusus, Kemal menjelaskan bahwa kemampuan sensor LCS dalam mengumpulkan data kualitas udara sangat tergantung pada sensitivitas, rentang, akurasi, reproduksibilitas, waktu respons, dan selektivitas.

Selain itu, sensor LCS sering mengalami gangguan internal yang disebabkan oleh elemen-elemen di dalam sensor, seperti batas dinamis, kesalahan sistematis, respon linear, dan deviasi sinyal. Faktor eksternal seperti suhu dan kelembaban juga memengaruhi umur sensor LCS.

“Meskipun terdapat banyak sensor di pasaran, data dari sensor LCS hanya dapat digunakan sebagai parameter awal yang mengindikasikan buruknya kualitas udara di suatu lokasi. karena itu, diperlukan peralatan yang lebih spesifik untuk mengukur kualitas udara dengan akurat,” ujar Kemal.

Sebagai penutup, Hernani Yulinowati dari Universitas Trisakti menjelaskan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan sensor LCS untuk memantau program pengendalian polusi udara yang dilakukan pemerintah, seperti inventarisasi profil emisi, pengujian emisi kendaraan bermotor, dan studi standarisasi PM 2.5.

“LCS dapat menjadi solusi bagi pemerintah untuk meningkatkan cakupan pemantauan kualitas udara secara real-time dan terjangkau,” pungkas Hernani. (Sumber brin.go.id)

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author