Wamen Nezar: Kolaborasi Startup dan Rumah Sakit Percepat Inovasi Kesehatan Digital

TechnologyIndonesia.id – Kolaborasi antara startup teknologi, rumah sakit, investor, dan pemerintah menjadi salah satu kunci untuk mempercepat pengembangan inovasi kesehatan digital di Indonesia. Melalui pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), berbagai solusi teknologi diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan medis, termasuk membantu deteksi dini tuberkulosis (TBC) dan mengatasi keterbatasan dokter spesialis.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, pengembangan teknologi kesehatan membutuhkan ekosistem yang kuat agar inovasi tidak berhenti pada tahap pengembangan, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Inovasi hebat tidak akan besar tanpa ekosistem yang kuat. Bagi kami di Komdigi ada empat hal yang harus kita jaga bersama yakni infrastruktur, kesiapan teknologi, kapasitas inovator dan lingkungan yang mendukung,” ujar Wamen Nezar dalam acara Health Innovation Showcase 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2026).

Menurut Nezar, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus mendorong terbentuknya ekosistem yang mempertemukan pengembang teknologi dengan pengguna, termasuk fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu upayanya dilakukan melalui Garuda Spark Innovation Hub, yang membuka peluang kolaborasi dan akses investasi bagi startup inovatif.

AI Bantu Deteksi Dini TBC

Nezar menyambut baik keberhasilan 11 inovator yang lolos uji sandbox Kementerian Kesehatan. Pencapaian tersebut menjadi langkah awal untuk mendorong solusi kesehatan digital agar dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan layanan medis.

Ia menilai, inovasi digital dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan, terutama dalam menjawab tantangan keterbatasan tenaga medis dan kebutuhan deteksi dini penyakit.

Wamen Nezar mencontohkan pemanfaatan AI untuk membantu deteksi tuberkulosis (TBC) melalui pembacaan hasil rontgen dada. Teknologi tersebut dapat membantu mengisi kesenjangan layanan kesehatan, khususnya ketika jumlah dokter spesialis belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Misalnya adopsi teknologi AI untuk TBC untuk mengisi celah kosong spesialis. Jadi supaya diagnosis awal bisa didapatkan sehingga pasien-pasien bisa lebih cepat diselamatkan,” ungkap Wamen Nezar.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara rumah sakit dan penyedia teknologi menjadi salah satu kunci untuk memperluas pemanfaatan inovasi kesehatan digital.

Rumah sakit memiliki berbagai kebutuhan layanan yang dapat menjadi ruang pengembangan solusi berbasis teknologi, termasuk AI dengan tetap memperhatikan keselamatan pasien dan peran tenaga medis.

“Di rumah sakit ada banyak use case yang bisa dijadikan bahan untuk para inovator kita memberikan solusi-solusi teknologi yang berbasis teknologi baru seperti artificial intelligence,” tutur Wamen Nezar.

Garuda Spark Buka Akses Investasi bagi Startup

Selain mendorong kolaborasi dengan fasilitas kesehatan, Komdigi berupaya memperluas akses pendanaan bagi startup melalui Garuda Spark Innovation Hub. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mempertemukan inovator dengan investor melalui kegiatan business matching.

“Untuk inovator, kita coba bantu melalui business match antara investor dengan startup-startup yang sedang berinovasi. Sejauh ini, Garuda Spark sudah menarik investasi lebih dari 429 miliar rupiah dan kita coba pacu terus sampai dengan akhir tahun nanti 2026 bisa tembus 1 triliun rupiah,” jelasnya.

Wamen Nezar juga menekankan pentingnya tata kelola yang kuat dalam pemanfaatan teknologi kesehatan. Penggunaan AI dan pengelolaan data kesehatan harus disertai langkah mitigasi risiko, mengingat data kesehatan merupakan informasi penting yang perlu dilindungi dan teknologi yang digunakan berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.

“Padahal di sektor kesehatan risikonya adalah nyawa manusia. Jadi saya kira di sandbox itu semua akan diuji,” tegas Wamen Nezar.

Wamen Nezar berharap kolaborasi antara pemerintah, inovator, rumah sakit, investor, dan mitra industri dapat memperkuat ekosistem inovasi kesehatan digital Indonesia. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan teknologi yang berdaulat, berdaya, dan inklusif menuju Indonesia 2045.

“11 inovator ini bukanlah titik akhir tapi ini adalah titik awal perjalanan, titik awal journey yang panjang ke depan,” tandasnya.

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *