Hadapi Era AI dan Ancaman Siber, Kemkomdigi dan APDI Gelar Digital Leaders Summit 2026

TechnologyIndonesia.id — Transformasi digital menuntut pemimpin yang mampu membaca perubahan teknologi, mengambil keputusan berbasis data, mengelola inovasi, serta mengarahkan perubahan organisasi secara tangkas dan bertanggung jawab. Keberhasilan transformasi tidak semata ditentukan oleh adopsi teknologi, melainkan oleh kapasitas kepemimpinan untuk mengubah teknologi menjadi nilai publik dan kinerja organisasi.

Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memberikan dukungan pada Asosiasi Pemimpin Digital Indonesia (APDI) menggelar Digital Leaders Summit 2026 pada 12–13 November 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta. Digital Leaders Summit 2026 merupakan manifestasi program Digital Leadership Academy (DLA) Kemkomdigi dalam memperluas dampak pengembangan kompetensi kepemimpinan digital. 

Mengusung tema Shaping the Future of Digital Leadership in Indonesia, kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi pemerintah, industri teknologi, akademisi, dan alumni Digital Leadership Academy (DLA) untuk memperkuat kepemimpinan digital serta mempercepat transformasi digital di Indonesia.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari dengan format berbeda. Pada Kamis (12/11/2026), peserta mengikuti pelatihan secara luring melalui program DLA Series – Agile Execution. Pada Jumat (13/11/2026), Digital Leaders Summit digelar secara hybrid dengan menghadirkan forum pengetahuan kepemimpinan digital, serta pembelajaran bersama akademisi dan pelaku industri.

Kegiatan ini dirancang untuk menjangkau 100 peserta pelatihan luring, 200 pimpinan lintas sektor, serta 500 alumni DLA yang mengikuti summit secara daring. 

Koordinator pelaksanaan Digital Leaders Summit 2026, Dr. Eng. Hary Budiarto, M.Kom., IPM, mengatakan forum ini diperlukan untuk memperbarui kompetensi para pemimpin seiring pesatnya perkembangan teknologi digital termasuk kecerdasan artifisial (AI). 

“Perkembangan teknologi digital sangat cepat. AI yang dahulu banyak dikenal melalui machine learning, kini berkembang menjadi AI generatif hingga agentic AI. Karena itu, pemimpin digital harus terus memperbarui pengetahuannya agar mampu memahami teknologi sekaligus mengelolanya secara tepat,” ujarnya.

Hary menegaskan, pemimpin tidak cukup hanya memahami teknologi, tetapi juga harus menguasai aspek manajerial, tata kelola data, perlindungan data pribadi, dan keamanan siber. Tanpa tata kelola yang baik, penggunaan AI berpotensi menimbulkan risiko kebocoran data dan mengganggu keamanan organisasi.

Digital Leaders Summit 2026 akan membahas sejumlah isu strategis, meliputi kepemimpinan digital, tata kelola AI dan data, keamanan siber, infrastruktur jaringan dan komputasi awan (cloud computing), transformasi layanan publik, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia digital.

Forum ini juga menghadirkan perspektif nasional dan internasional melalui mitra kontributor, antara lain RMIT University, Amazon Web Services (AWS), dan Salesforce. Sejumlah tokoh dijadwalkan menjadi pembicara utama seperti Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Ignasius Jonan; Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria; Professor Cyber Security and Data/AI Governance RMIT University, Matt Warren; Public Sector at AWS, Muhammad Yopan; dan lain-lain.

Selain memperluas wawasan peserta, kegiatan ini menjadi ruang berbagi praktik baik dan pengalaman transformasi digital di berbagai organisasi. Pertukaran pengetahuan tersebut diharapkan membantu para pemimpin merumuskan langkah yang relevan untuk meningkatkan kinerja organisasi dan kualitas layanan kepada masyarakat.

Dorong Standar Kompetensi Pemimpin Digital

Salah satu agenda strategis Digital Leaders Summit 2026 adalah menghimpun masukan bagi pengembangan standar kompetensi profesi pemimpin digital dan peta okupasi nasional di bidang digital.

Menurut Hary, standar kompetensi diperlukan untuk memberikan acuan mengenai pengetahuan dan kemampuan yang harus dimiliki seorang pemimpin digital. Acuan tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan skema sertifikasi kompetensi pada tahap berikutnya.

“Ke depan, kita ingin ada standar yang jelas mengenai kompetensi seorang pemimpin digital, mulai dari pengetahuan yang harus dikuasai hingga persyaratan kompetensinya. Dengan demikian, peran pemimpin digital tidak hanya didasarkan pada jabatan atau pengakuan, tetapi juga pada kemampuan yang dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Pengembangan kompetensi ini ditujukan bagi berbagai sektor, termasuk aparatur sipil negara (ASN), badan usaha milik negara dan daerah (BUMN/BUMD), serta sektor swasta. Melalui pelatihan DLA Series – Agile Execution, peserta juga memperoleh penguatan kompetensi kepemimpinan digital dan pembekalan menuju sertifikasi.

Ketua Umum APDI, Prof. Dr. Ignasius D.A. Sutapa, M.Sc., menilai Digital Leaders Summit penting untuk menjaga kesinambungan pengembangan kompetensi pemimpin digital dan memperkuat jejaring alumni DLA. Forum ini juga menjadi sarana untuk bertukar gagasan serta mengevaluasi arah transformasi digital Indonesia.

“Harapannya, Digital Leaders Summit dapat menjadi sarana untuk mempercepat transformasi digital di Indonesia, di semua sektor, bagi pembangunan nasional. Kita perlu terus bertukar informasi, gagasan, dan pengalaman agar arah transformasi digital semakin jelas,” ujarnya.

Ignasius menambahkan, pemanfaatan teknologi perlu diimbangi dengan literasi digital, etika, perlindungan data, dan kemampuan menyaring informasi secara kritis. Kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas pemimpin digital diperlukan agar teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Melalui Digital Leaders Summit 2026, Kemkomdigi dan APDI berharap penguatan kompetensi, pertukaran pengalaman, dan pengembangan standar profesi dapat menjadi langkah konkret dalam membangun ekosistem kepemimpinan digital nasional yang adaptif, kompeten, dan bertanggung jawab.

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *