![]()
TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat teknologi penerbangan dan antariksa melalui Aerospace Talent School. Program ini tidak hanya memberikan pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga mengajak siswa mengalami langsung proses pengenalan teknologi kedirgantaraan bersama para periset BRIN.
Sekitar 30 siswa SMA terpilih mengikuti Aerospace Talent School yang menjadi bagian dari Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) 2026. Kegiatan berlangsung pada 21–23 September 2026 di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan.
Kepala Pusat Riset Teknologi Penerbangan (PRTP) BRIN, Fadilah Hasim mengatakan, pembelajaran dalam Aerospace Talent School dirancang berbasis praktik agar siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara visual dan audio di ruang kelas, tetapi juga mengalami secara langsung proses pengenalan teknologi kedirgantaraan.
“Kita akan peragakan materi yang telah diberikan oleh para periset ruang angkasa, dan mempelajari langsung di lapangan terkait teknologi antariksa dan penerbangan yang dikembangkan di BRIN,” ujar Fadilah saat membuka kegiatan IRIFair Aerospace Talent School, Senin (21/9/2026).
Menurut Fadilah, kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai konsep dasar kedirgantaraan dan penerapannya. Siswa juga diperkenalkan pada keterkaitan berbagai disiplin ilmu dalam proses rekayasa.
“Melalui kelas ini, kita akan belajar menghubungkan berbagai ilmu, baik fisika, matematika, teknologi informasi, dan rekayasa ke dalam suatu kesatuan proses rekayasa (engineering),” paparnya.
Selain pemahaman teknis, kegiatan ini juga diarahkan untuk menumbuhkan pola pikir ilmiah, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah. Siswa berkesempatan mengenal ekosistem riset dan inovasi bidang kedirgantaraan secara langsung dari para periset.
“Kedepan, diharapkan siswa memiliki motivasi untuk mengembangkan kompetensi Science, Technology, Engineering, and Math (STEM), yang nantinya akan melahirkan talenta baru di bidang teknologi kedirgantaraan di Indonesia,” ujar Fadilah.
Teknologi Kedirgantaraan untuk Kebutuhan Indonesia
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, Prof. Robertus Heru Triharjanto, menekankan bahwa pengembangan teknologi kedirgantaraan perlu dikaitkan dengan kebutuhan nyata Indonesia. Menurut Heru, penguasaan teknologi tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan manfaat bagi masyarakat.
Salah satu contohnya adalah pemanfaatan citra satelit untuk membantu pemantauan wilayah terdampak bencana. Data tersebut dapat diolah untuk memberikan gambaran mengenai wilayah yang terdampak banjir, termasuk jalan yang terputus, lokasi genangan, hingga luas kerusakan.
“BRIN mengolah citra satelit yang banyak dijadikan rujukan ketika terjadi banjir di Aceh. Dalam tempo beberapa hari, kita sudah bisa melihat jalan mana yang putus, tempat mana yang tergenang, dan berapa luasnya kerusakan akibat banjir,” ujarnya.
Teknologi berbasis satelit juga dimanfaatkan untuk memantau kebakaran hutan. Heru mengatakan, data satelit yang diolah BRIN dapat diperbarui setiap 90 menit untuk mendeteksi keberadaan titik api.
“Tidak hanya untuk area yang sudah terbakar, satelit juga dapat memetakan lahan kering yang berpotensi menimbulkan kebakaran, kita ciptakan forest fire detection system sehingga kebakaran dapat dicegah dan dapat meminimalisir besarnya biaya yang harus dikeluarkan,” tambahnya.
Indonesia Butuh SDM Teknologi Dirgantara
Heru menjelaskan, kebutuhan terhadap teknologi kedirgantaraan semakin penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Konektivitas nasional antara lain bergantung pada infrastruktur kabel laut dan satelit. Selain itu, kebutuhan navigasi presisi tinggi juga membutuhkan dukungan satelit yang andal serta pemahaman terhadap cuaca antariksa atau space weather.
“Space weather ini mempengaruhi radio frekuensi yang tidak hanya digunakan untuk komunikasi personal, tetapi juga untuk komunikasi antarmesin atau IoT serta navigasi satelit,” jelasnya.
Karena itu, pengembangan teknologi kedirgantaraan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menguasai berbagai bidang, mulai dari perangkat keras, perangkat lunak hingga sains dasar.
“Industri dirgantara Indonesia harus didukung oleh R&D yang andal, yang melibatkan penciptaan hardware, software, serta sains dasar,” tuturnya.
Dari Roket Botol hingga Praktik Drone
Bagi peserta, pengalaman langsung bersama para periset menjadi bagian penting dalam memperluas wawasan mengenai dunia kedirgantaraan. Rezky Aditya Rahman, siswa SMAN 1 Banjaran, mengikuti Aerospace Talent School karena memiliki ketertarikan terhadap luar angkasa dan astronomi. Ketertarikannya bahkan telah mendorongnya melakukan eksperimen sederhana secara mandiri.
“Saya terkadang melakukan eksperimen sederhana, merancang roket dari botol plastik. Melalui kegiatan ini, banyak ilmu dan wawasan baru terkait aerospace yang diperoleh dari para periset di BRIN,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat minat Rezky untuk melanjutkan pendidikan di bidang kedirgantaraan. Ia berharap kelak dapat menjadi pakar atau teknisi aerospace, baik dalam bidang penerbangan maupun astronomi.
Sementara itu, Widyaiswara Ahli Muda Direktorat Pengembangan Kompetensi BRIN, Nurdiansah Dwi Sasongko, mengatakan peserta IRIFair dipilih melalui proses seleksi yang cukup ketat.
Dari sekitar 400 pendaftar, peserta terpilih berasal dari lima provinsi, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka berasal dari sekolah negeri maupun swasta bertaraf nasional dan internasional.
Dalam Aerospace Talent School, siswa diperkenalkan pada berbagai aspek teknologi antariksa dan penerbangan, mulai dari prakiraan cuaca, pengamatan Matahari, hingga pengamatan benda-benda langit. Peserta juga mendapat kesempatan belajar bersama periset BRIN dan melakukan praktik menerbangkan drone di Laboratorium Penerbangan Rumpin.
Dalam program tersebut, siswa diperkenalkan pada berbagai aspek teknologi antariksa dan penerbangan. Materinya mencakup prakiraan cuaca, pengamatan Matahari, hingga pengamatan benda-benda langit. Peserta juga mendapat kesempatan berinteraksi langsung dengan para periset BRIN serta mengikuti praktik menerbangkan drone di Laboratorium Penerbangan Rumpin.
“Kita akan belajar bagaimana memperkirakan cuaca, pengamatan matahari bersama periset dari BRIN, dan kita juga akan belajar langsung bersama astronot dari Rusia. Selain itu kita akan praktik menerbangkan drone di laboratorium penerbangan Rumpin,” ujarnya.
Sasongko berharap program tersebut dapat meningkatkan minat generasi muda terhadap bidang antariksa sekaligus menjadi bagian dari upaya menemukan dan mengembangkan talenta riset dan inovasi di bidang kedirgantaraan. (Sumber: brin.go.id)

