Hakteknas 2026, Kepala BRIN: Riset dan Inovasi Harus Jadi Kekuatan Utama Indonesia Maju

Loading

TechnologyIndonesia.id – Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-31 menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya riset dan inovasi sebagai fondasi kemandirian, daya saing, dan kemajuan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan, hasil penelitian tidak boleh berhenti sebagai publikasi ilmiah atau temuan di laboratorium. Riset harus dihilirkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat industri nasional, sekaligus mendukung kebijakan pembangunan berbasis bukti.

Peringatan Hakteknas yang diperingati setiap 10 Agustus menjadi pengingat atas tonggak penting kebangkitan teknologi nasional sekaligus penghargaan terhadap para ilmuwan, peneliti, perekayasa, akademisi, pelaku industri, serta seluruh insan iptek yang terus berkontribusi membangun kemandirian bangsa melalui inovasi.

Kepala BRIN, Arif Satria mengatakan Hakteknas bukan sekadar peringatan atas sejarah keberhasilan bangsa dalam mengembangkan teknologi, tetapi juga refleksi atas tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa hasil riset benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, dunia usaha, dan pembangunan nasional.

Menurutnya, Hakteknas adalah momentum untuk memperkuat keyakinan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kemampuan kita menguasai ilmu pengetahuan, mengembangkan teknologi, serta menghadirkan inovasi yang memberikan solusi atas berbagai persoalan bangsa.

“Riset harus berdampak, inovasi harus memberikan manfaat, dan teknologi harus menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat,” ujar Arif Satria dalam rangka menyambut peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-31.

Tema Hakteknas tahun ini adalah Teknologi Berdampak untuk Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur, menegaskan bahwa teknologi harus memberikan manfaat nyata bagi bangsa.

Teknologi tidak cukup hanya canggih, tetapi harus mampu menjadi solusi atas persoalan masyarakat, memperkuat kemandirian dan daya saing nasional, memperluas pemerataan manfaat pembangunan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, riset dan inovasi harus didorong agar tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat, industri, dan pemerintah.

Menurut Arif, tantangan pembangunan saat ini semakin kompleks, mulai dari ketahanan pangan, energi, kesehatan, pengelolaan sumber daya alam, perubahan iklim, transformasi digital, hingga penguatan industri berbasis teknologi tinggi.

Seluruh tantangan tersebut hanya dapat dijawab melalui riset yang berkualitas, kolaboratif, dan mampu diterjemahkan menjadi kebijakan maupun inovasi yang dapat diterapkan secara luas.

Karena itu, BRIN terus memperkuat ekosistem riset nasional melalui pengembangan infrastruktur riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, industri, komunitas, serta mitra internasional.

Sinergi tersebut diarahkan agar proses penelitian berlangsung lebih cepat, lebih efektif, dan mampu menghasilkan inovasi yang memiliki nilai tambah ekonomi maupun sosial.

Arif menjelaskan bahwa transformasi BRIN dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong integrasi sumber daya riset nasional sehingga menghasilkan berbagai inovasi di bidang kesehatan, pangan, energi, lingkungan, teknologi digital, kebencanaan, kelautan, antariksa, hingga biodiversitas.

Berbagai hasil penelitian tersebut terus diarahkan menuju hilirisasi agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan dunia usaha.

“Keberhasilan riset tidak cukup diukur dari jumlah publikasi ilmiah atau paten yang dihasilkan. Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana hasil riset mampu memberikan dampak nyata, yaitu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing industri, melahirkan lapangan kerja baru, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta menjadi dasar penyusunan kebijakan publik berbasis bukti,” katanya.

BRIN terus mendorong hilirisasi hasil riset melalui berbagai skema kolaborasi dengan industri, termasuk lisensi teknologi, penelitian bersama, co-development, pendampingan inovasi, hingga pengembangan startup berbasis teknologi.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat transformasi hasil penelitian menjadi produk, layanan, maupun teknologi yang memiliki manfaat ekonomi.

Selain menghasilkan inovasi, BRIN juga terus memperkuat budaya ilmiah di tengah masyarakat melalui komunikasi sains, literasi teknologi, dan keterlibatan publik dalam berbagai program riset.

Menurut Arif, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh jumlah peneliti, tetapi juga oleh tumbuhnya masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana.

Memasuki usia Hakteknas ke-31, BRIN mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan inovasi sebagai budaya bersama. Pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, dan masyarakat diharapkan terus memperkuat kolaborasi sehingga ekosistem riset Indonesia semakin produktif dan mampu melahirkan solusi bagi berbagai tantangan pembangunan nasional.

Arif menegaskan bahwa semangat Hari Kebangkitan Teknologi Nasional harus menjadi energi bersama untuk membangun Indonesia yang semakin mandiri dan berdaulat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Melalui kolaborasi, kreativitas, dan inovasi yang berkelanjutan, kita harus memastikan bahwa riset dan teknologi tidak berhenti sebagai pengetahuan atau temuan, tetapi hadir sebagai solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat daya saing dan kemandirian bangsa, serta membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang semakin adil dan makmur,” tutup Arif Satria.

Hakteknas ke-31 diperingati dengan serangkaian kegiatan yakni, Anugerah Talenta Unggul Indonesia Innovator Award dan Indonesia Innovator Lecture 2026 yang diselenggarakan bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Selain itu, ada peresmian Program Riset Kebijakan Pembangunan Merah Putih (PRIMA) sebagai program sinergi riset dan sinkronisasi kebijakan nasional yang menghasilkan riset terapan lintas sektoral.

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Buku terbarunya, Antologi Puisi Kuliner "Rempah Rindu Soto Ibu" Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *