TechnologyIndonesia.id – Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatera Selatan (Sumsel) mulai menunjukkan hasil positif. Kolaborasi sejumlah lembaga, mulai dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), TNI Angkatan Udara (TNI AU), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), turut mendorong perbaikan kualitas udara di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, sejak 24 Oktober 2026, sejumlah indikator menunjukkan perkembangan menggembirakan. Perbaikan terlihat dari penurunan konsentrasi polutan udara, meningkatnya curah hujan, hingga membaiknya jarak pandang.
Kepala BRIN, Arif Satria pada Senjn (2/11/2026) ikut terbang menggunakan pesawat untuk melihat secara langsung proses penyemaian awan. Ia menyaksikan kerja tim gabungan yang melibatkan TNI AU, BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI Angkatan Darat, Polri, dan BRIN.
“Setelah kita melihat kerja keras dari teman-teman TNI AU bersama BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI Angkatan Darat, Polri, serta teman-teman dari BRIN, kita bisa menyaksikan upaya yang sudah maksimal di Sumatera Selatan saja,” ujar Arif.
Ratusan Penerbangan Dukung Penanganan Karhutla
Skala penanganan karhutla di Sumatera Selatan terlihat dari besarnya operasi pemadaman dan modifikasi cuaca yang telah dilakukan. Berdasarkan data pelaksanaan operasi, pemadaman melalui metode water bombing atau pengeboman air menggunakan helikopter telah mencapai 756 kali penerbangan.
Total air yang dijatuhkan dalam operasi tersebut mencapai lebih dari 81 juta liter. Sementara itu, pelaksanaan OMC telah dilakukan sebanyak 117 kali penerbangan dengan menggunakan 145.200 kilogram garam (NaCl) dan 24.766 kilogram es kering (dry ice).
Kedua bahan tersebut digunakan untuk membantu proses pembentukan dan penyemaian awan agar potensi hujan dapat ditingkatkan di wilayah sasaran.
Arif menjelaskan, perkembangan hasil operasi dapat dilihat dari sejumlah indikator. Salah satunya adalah konsentrasi partikel halus PM 2,5, yaitu partikel polusi udara berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan.
Sebelumnya, tingkat PM 2,5 di Sumatera Selatan menunjukkan kondisi polusi yang berbahaya. Namun, angkanya mulai mengalami penurunan signifikan sejak 24 Oktober 2026, setelah pelaksanaan OMC dilakukan lebih intensif pasca-16 Oktober 2026.
Selain kualitas udara, peningkatan curah hujan juga mulai terlihat sejak 24 Oktober. Sementara itu, jarak pandang yang sebelumnya sempat berada di bawah 300 meter kini meningkat hingga mendekati 8.000 meter atau sekitar 8 kilometer. Kondisi ini menunjukkan jarak pandang telah kembali mendekati normal.
“Sekarang ini, kondisi di Sumatera Selatan, hujan sudah turun setiap hari. Kita bersyukur bahwa langkah yang sudah dilakukan oleh tim, tentu didukung oleh pemerintah daerah dan pemerintah provinsi yang juga sudah bekerja keras untuk menyukseskan kegiatan OMC ini,” ungkapnya.
BRIN Siapkan Teknologi Dumakron untuk OMC
Selain mengoptimalkan teknologi yang sudah digunakan, BRIN juga menyiapkan inovasi untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan OMC. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi bernama Dumakron.
Teknologi ini menggunakan garam (NaCl) berukuran sangat kecil, yakni 2–5 mikron. Material tersebut nantinya disebarkan menggunakan pesawat nirawak atau drone sebagai alternatif dalam proses penyemaian awan.
Teknologi ini direncanakan untuk digunakan dalam operasi di Kalimantan dan diharapkan membuat pelaksanaan OMC lebih hemat biaya, efisien, dan efektif.
“Dengan DumaKron ini, tentu pelaksanaannya lebih efisien, lebih murah, dan lebih efektif. Teknologi ini akan kita gunakan bersama-sama,” jelas Arif.
Ia menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari lembaga riset, instansi pemerintah, aparat keamanan, hingga pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut menjadi kunci agar pelaksanaan OMC berjalan optimal dan karhutla dapat segera ditangani.
“Ini semua merupakan tim yang solid, bersama dengan pemerintah daerah, untuk bisa menyukseskan OMC ini sehingga karhutla bisa cepat selesai,” ujarnya. (Sumber: brin.go.id)
OMC Tunjukkan Hasil Positif, Kualitas Udara dan Jarak Pandang di Sumsel Membaik

