TechnologyIndonesia.id – Sektor telekomunikasi menjadi sasaran terbesar serangan distributed denial of service (DDoS) di Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Berdasarkan analisis StormWall, perusahaan penyedia perlindungan terhadap serangan DDoS dan ancaman siber, sektor ini menyumbang 22% dari seluruh serangan yang diamati.
Layanan keuangan menempati posisi kedua dengan kontribusi 17%, disusul sektor pemerintah sebesar 15% dan ritel sebesar 11%. Secara keseluruhan, keempat sektor tersebut mencakup 65% dari seluruh serangan DDoS yang tercatat di antara pelanggan StormWall di Indonesia.
Sektor telekomunikasi tidak hanya menghadapi proporsi serangan terbesar, tetapi juga mencatat pertumbuhan year-on-year paling tinggi. Jumlah serangan terhadap perusahaan telekomunikasi meningkat 111%, menjadikannya satu-satunya sektor dengan jumlah serangan yang meningkat lebih dari dua kali lipat.
Rata-rata bandwidth serangan meningkat sekitar lima kali lipat, sementara lebih dari 90% traffic serangan terdiri dari TCP, UDP, dan ICMP floods.
Serangan DDoS menjadi tantangan khusus bagi operator telekomunikasi karena gangguan pada infrastruktur mereka tidak hanya dapat memengaruhi perusahaan itu sendiri, tetapi juga sejumlah besar pelanggan. Jaringan telekomunikasi yang besar juga dapat mengalami traffic serangan yang berasal dari perangkat yang telah disusupi di dalam infrastrukturnya.
Sektor Keuangan Hadapi Kenaikan Serangan 69%
Sektor layanan keuangan menjadi target terbesar kedua, dengan porsi 17% dari seluruh serangan DDoS yang diamati StormWall. Jumlah serangan terhadap organisasi di sektor ini meningkat 69% dibandingkan tahun sebelumnya.
Bagi bank dan penyedia layanan keuangan lainnya, ketersediaan infrastruktur digital sangat penting. Gangguan pada mobile banking, layanan pembayaran, atau kanal online lainnya dapat menyebabkan kerugian operasional secara langsung.
Serangan DDoS memiliki risiko yang berbeda bagi sektor ini. Berbeda dengan serangan yang bertujuan mencuri data atau kredensial, tujuan utama DDoS adalah membuat suatu layanan tidak dapat diakses.
Serangan Terhadap Sektor Pemerintah Meningkat
Organisasi pemerintah berada di peringkat ketiga, dengan 15% dari seluruh serangan DDoS. Jumlah serangan terhadap sektor ini meningkat 29% year-on-year.
Pada saat yang sama, pangsa sektor pemerintah terhadap seluruh serangan turun dari 27% pada akhir 2025. Secara absolut, jumlah serangan memang meningkat, tetapi sektor-sektor lain tumbuh lebih cepat.
HTTP floods menyumbang 40% dari serangan terhadap organisasi pemerintah, diikuti SYN floods sebesar 23% dan DNS floods sebesar 18%.
Perubahan distribusi serangan ini terjadi di tengah perubahan yang lebih luas dalam motif serangan DDoS di kawasan tersebut. StormWall mengaitkan 80% serangan pada 2026 dengan motif komersial, termasuk mengganggu operasional bisnis, memberikan tekanan kepada pesaing, dan pemerasan.
Sementara itu, hacktivism menyumbang kurang dari 20% serangan, berbanding terbalik dengan pola yang terlihat setahun sebelumnya.
Di sektor ritel, serangan DDoS mencapai 11%, jumlah serangan meningkat 40% year-on-year. Pangsa sektor ini menurun karena sektor-sektor lain tumbuh dengan laju yang lebih tinggi.
Bagi peritel online dan layanan digital lainnya, periode dengan aktivitas pelanggan yang tinggi sangat sensitif terhadap gangguan. Bahkan serangan singkat pada periode permintaan tinggi dapat mengganggu layanan pelanggan dan menyebabkan hilangnya penjualan.
Serangan Makin Singkat, tetapi Lebih Intens
Pola serangan juga berubah dari sisi durasi. Pada Agustus 2026, jumlah application-layer attacks yang melebihi 100.000 requests per second tercatat 3,7 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata pada bulan-bulan sebelumnya. Pada saat yang sama, proporsi serangan yang berlangsung kurang dari 15 menit meningkat dari 5% menjadi 32,5%.
Tren ini menunjukkan bahwa organisasi tidak dapat hanya mempertimbangkan serangan berkepanjangan ketika menilai risiko DDoS. Bagi layanan dengan lonjakan permintaan yang tinggi, downtime selama beberapa menit saja dapat memberikan dampak yang signifikan, terutama jika serangan terjadi saat aktivitas pengguna sedang tinggi, selama periode promosi besar, atau pada periode penting lainnya bagi bisnis.
“Distribusi serangan DDoS berdasarkan sektor menunjukkan betapa pentingnya ketersediaan layanan digital bagi bisnis. Di Indonesia, empat sektor menyumbang 65% dari seluruh serangan, dengan telekomunikasi dan layanan keuangan menghadapi proporsi serangan terbesar. Bagi organisasi-organisasi tersebut, gangguan singkat sekalipun dapat berdampak pada sejumlah besar pengguna dan operasional bisnis,” ujar StormWall.
Angka-angka tersebut mencerminkan distribusi serangan yang diamati di antara pelanggan StormWall dan tidak berarti bahwa setiap organisasi di sektor-sektor tersebut memiliki tingkat kemungkinan yang sama untuk menjadi target.
Risiko aktual juga bergantung pada berbagai faktor, termasuk profil publik organisasi, model bisnis, cakupan geografis, dan infrastruktur yang digunakan.
StormWall: Sektor Telekomunikasi Jadi Target Utama Serangan DDoS di Indonesia

